Label

Rabu, 21 Maret 2012

YOGA DARSANA

KAIWALYA: terbebasnya purusa dari penderitaan

Yoga Darsana termasuk salah satu dari sad Darsana yang mengakui otoritas Weda sebagai sumber dari segala sumber. Sejak dulu, yoga sudah dikenal sebagai metode yang ampuh untuk menyelaraskan kembqali tubuh, pikiran dan jiwa manusia. Yoga merupakan pengendalian aktivitas pikiran dan penyatuan roh pribadi (atma) dengan roh tertinggi (paramatman), serta melalui diskriminasi yang benar antara purusa dan prakrti. Yoga sebagai suatu cara untuk mengontrol pikiran, agar kesadaran yang biasa berubah menjadi kesadaran luar biasa, sebagai bukti bahwa orang telah mendapatkan pengamatan mistis. Yoga telah dikenal sebelum datangnya bangsa Arya yang membawa pustaka Reg Weda ke Tanah India (Hindustan).
Kemudian, Maharsi Pantanjali yang hidup pada abd ke-5M, nengumpulkan dan mensistematisasikan ajaran-ajaran yoga. Melalui praktek yogana, yang mencapai taraf tinggi, beliau menulis kitab yang dikenal dengan  nama Patanjali Yoga Sutra. Maharsui Patanjali dipandang sebagai tokoh yang memberi dasar filsafat pada filsafat yoga (Yoga Darsana). Yoga Sutra sebagai hasil karya Maharsi Patanjali mengajarkan bagaimana mengembangkan kesadaran individu menuju kesadaran universal.

Inti Ajaran Yoga Darsana
Secara metafisika Yoga Darsana sangat dekat dengan Samkhya Darsana. Ini dikarenakan, Yoga Darsana menerima 25 prinsip (tattwa) yang diajarkan dalam Samkhya. Ke-25 prinsip itu adalah: purusa, prakrti, mahat/buddhi, ahamkara, manas, 5 jnanendriya, 5 karmendriya, 5 tanmatra, dan 5 mahabutha. Hanya saja mahat/buddhi, ahamkara dan manas dalam yoga digabung diganti dengan istilah citta.
Citta yang terdiri dari mahat/buddhi, ahamkara dan manas disebut sebagai antahkarana (alat batin). Yoga Darsana lebih praktis daripada sistem filsafat Samkhya. Yoga dipandang sebagai penerapan atau praktek dari filsafat Samkhya. Berbeda dengan Samknya yang lebih banyak berteori, Yoga lebih mengedepankan praktek-praktek melalui Astangga Yoga. Astangga Yoga terdiri dari 8 (delapan) bagian, yaitu: (1) yama (pantangan); (2) niyama (ketaatan); (3) asana (sikap badan); (4) pranayama (pernafasan); (5) pratyahara (pengendalian indriya); (6) dharana (konsentrasi); (7) dhyana (meditasi); dan (8) samadhi (transenden).
Lebih lanjut Maharsi Patanjali menjelaskan yama dan niyama adalah landasan etis dan moral bagi penekun yoga. Yama berarti menghindari kekerasan (ahimsa), mantap dalam kejujuran dan kebenaran (satya), tidak menginginkan milik orang lain (asteya), hidup dalam kesucian (brahmacarya), dan tidak tamak (aparigraha).
Sedangkan niyama berarti menjaga kebersihan dan kesucian (sauca), merasa puas dengan apa adanya (santosa), hidup sederhana (tapa), belajar ilmu pengetahuan suci (swadhyaya), dan menyerahkan segalanya pada Tuhan (Iswra Pranidhana). Asana berarti sikap yang nyaman dalam postur yoga bertujuan untuk menjaga pikiran agar tidak terganggu. Setiap postur dalam yoga memberi 3 (tiga) efek sekaligus, yaitu terhadap fisiki, mental dan prana. Pranayaman, menyadari proses pernafasan, merasakan keluar masuknya nafas, bertujun untuk mengontrol pikiran.
Pratyahara, penarikan indera dari objek-objek luar, bertujuan untuk memusatkan pikiran. Dhyana, meditasi memusatkan pikiran dan dipertahankan agar tidak beralih kemana-mana. Samadhi, kondisi puncak dari proses pemusatan pokiran. Suatu keadaan ekstase dimana segala hubungan dengan dunia luar diputuskan. Dharana, Dhyana, dan Samadhi, ketiganya inilah yang disebut Samyana bagian yoga yang tertinggi.

Konsepsi Citta
Konsepsi yang paling penting dalam sistem yoga adalah citta. Seperti dijelaskan di atas, citta adalah gabungan dari manas/buddhi, ahamkara, dan manas. Menurut sistem ini, yoga berfungsi untuk mencapai cittawrttinirodha (mengistirahatkan pikiran dari proses kerjanya, yaitu berpikir. Tujuan dari sistem yoga ini aalah mengembalikan citta dalam keadaannya semula, yang murni tanpa perubahan, sehingga dengan demikian purusa dibebaskan dari penderitaan.
Dalam sistem  ini dijelaskan 5 (lima) keadaan pikiran yang dipengaruhi oleh intensitas triguna (sattwam, rajas, tamas), yaitu: (1) ksipta, pikiran didominasi oleh rajas, mengembara, berkeliaran diantara objek-objek duniawi; (2) Mudha, pikiran didominasi oleh tamas, lamban, malas, tertidur, dan tidak berdaya; (3) Wiksipta, pikiran dipengaruhi oleh sattwam dan rajas, masih dalam keadaan goyang antara meditasi dan obyektivitas; (4) Ekagra, pikiran didominasi oleh sattwam dalam keadaan meditasi (terpusat); dan (5) Niruddha, pikiran terhenti, berhenti dari kerjanya berpikir.
Menurut Maharsi Patanjali, orang yang tidak memiliki pengetahuan yang benar, pikirannya akan diserang oleh 5 (lima) sumber penderitaan (klesa), yaitu: awidya (kegelapan), asmita (keakuan), raga (keinginan), dwesa (kebencian), dan abhiniwesa (keduniawian). Walaupun klesa ini tidak dapat dilenyapkan, tetapi dengan melaksanakan disiplin yoga intensitas klesa ini dapat dikurangi seminimal mungkin.
Sistem filsafat yoga benar-benar praktis, langsung membahas hakikat pikiran, modifikasi-modifikasinya, pertumbuhan, gangguan-gangguan dan metode untuk mencapai tujuan hidup tertinggi, yaitu pembebasan (kaiwalya). Orang yang terbiasa mengendalikan pikiran adalah orang yang paling berbahagia hidup di dunia ini.
Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu. Pikiran selalu bersifat dualistik yang pada dasarnya merupakan sumber dari segala konflik yang terjadi dalam diri setiap manusia. Dualitas yang paling mendasar adalah dualitas antara ‘aku’ dan ‘bukan aku’ (subjek dan objek).
Bila seseorang mengulangi sebuah pikiran, ia akan  dengan mudah mengulangi getaran pikiran yang serupa. Makin sering seseorang mengulang-ulangi sebuah pikiran, semakin kuat pula kemungkinannya untuk bergetar kembali. Sesudah banyak mengulangi, maka akan timbul kecenderungan dan zat badan mental yang dengan otomatis mengulangi getarannya sendiri. Jadi dengan pikiran, dapat dibentuk kebiasaan apa saja yang dipilih. Tak ada kebajikan yang tidak dapat diciptakan dengan pikiran. Daya-daya alam bekerja bersama  manusia, apabila manusia memahami bagaimana  menggunakannya dan daya-daya tersebut akan menjadi pelayannya.
Pikiran bisa dikatakan tanpa substansi hanya dalam konteks jika pikiran tidak memiliki karakteristik atau hal yang dipikirkan. Akan tetapi, pikiran tidak bisa dikatakan sebaga yang tanpa materi dalam konteksnya sebagai Brahman yang merupakan roh murni. Pikiran jug adalah material, zat yang halus.
Dalam bahasa Indonesia ‘pkiran’ dipakai untuk menerjemahkan 2 (dua) kata Inggris, yaitu mind dan thoughts. Ibarat sungai, mind adalah aliran air dan thoughts airnya. Aliran air menciptakan sungai, begitu pula thoughts sebagaimana sungai, bukan sekedar air. Seperti apa adanya thoughts begitu pula adanya mind, dan seperti apa adanya  mind seperti itulah adanya manusia. Jadi manusia tidak dapat tirubah tanpa merubah mind-nya dan mind tidak dapat dirubah apabila thoughts tidak berubah. Thoughts inilah yang dapat dirbah emnjadi jernih, murni dengan disiplin yoga.

Manfaat Praktek Yoga
Sekarang banyak bermunculan kelompok atau perguruan yoga. Ini menandakan yoga semakin diminati dan dirasa sudah menjadi kebutuhan hidup. Namun, yang paling dibutuhkan orang adalah praktek yoga untuk terapi, untuk menyamankan fisik, mental-emosional, untk kesehatan secara umum. Maka, yang lebih berperan adalah tahapan aana (postur yoga), dan pranayama (pernafasan). Jadi bukan yoga seutunya yang terdiri dari 8 (delapan) bagian.
Inilah yang kemudian disebut sebagai yoga. Praktek yoga sering disamakan dengan senam. Memang anggapan ini tidak sepenuhnya salah, karena yiga adalah induk atau sumber dari senam, beladiri, tari-tarian, musik, nyanyian bahkan seni bercita dan penyembuhan.
Maharsi Patanjali dalam bukunya Yoga Sutra, mengatakan bagaikan bayangan bulan dalam air yang tenang, demikianlah Tuhan akan menampakkan diriNya bagi praktisi yoga. Yang sebaiknya dilakukan setiap waktu adalah membuat permukaan air supaya tenang dengan melaksanakan disiplin yoga.
Yoga adalah keterampilan spiritual, karena yang diberdayakan bukan hanya fisik saja, tetapi juga jiwa. Secara horizontal, yoga menyatukan tubuh, pikiran, dan jiwa (sthula sarira, lingga sarira, dan jiwatman) dalam keselaran alami. Secara vertikal menyatukan kesadaran diri dengan kesadaran kosmis (atman dengan paramatman).
Yoga mengajarkan 2 (dua) disiplin praktek, yaitu disiplin gerak dan disiplin diam. Disiplin gerak (asana) bermanfaat menguatkan fisik, menghilangkan kekakuan sendi otot, serta mengontrol kesehatan saraf dan kelenjar tubuh. Disiplin gerak ini apabila dilakukan secara benar dan teratur di bawah bimbingan guru, dapat membantu keseimbangan energi, kebugaran tubuh, penting untuk peremajaan sel-sel tubuh yang membuat para praktisi yoga tampil ceria, tanpa beban, dan lebih muda dari usianya.
Dalam disiplin diam, yoga memberikan manfaat relaksasi, ketenangan, kemurnian pikiran, rasa percaya diri dan berkembangnya intuisi. Semuanya dapat diraih melalui keyakinan dan ketekunan melaksanakan praktek yoga. Manfaat praktek yang paling diharapkan oleh praktisi pemula adalah tubuh sehat, padahal tujuan yoga pada awalnya adalah terbebasnya jiwa (purusa) dari penderitaan (kaiwalya).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar