Label

Senin, 19 Januari 2015

KERTANAGARA



PERJALANAN RAJA KERTANAGARA


Raja Kertanagara naik tahta sebagai raja ke-5 Kerajaan Singasari pada tahun 1254 M, menggantikan ayahnya Ranggawuni. Kertanagara lahir dari rahim seorang ibu yang bernama Waning Hyun (Jayawardhani). Kitab Nagarakretagama pupuh 61-2 menceritakan bahwa saat penobatan Kertanagara segenap rakyat Janggala dan Panjalu datang ke Tumapel untuk menghadiri upacara tersebut. Ibukota Kutaraja berganti nama menjadi Singasari. Nama Singasari yang merupakan nama ibukota, kemudian justru lebih terkenal daripada nama Tumapel, maka Kerajaan Tumapel pun lebih dikenal dengan nama Kerajaan Singasari.
Menurut Kitab Pararaton, Ranggawuni yang bergelar Sri Jaya Wisnuwardana, mangkat tahun 1270 M. Ranggawuni mencatat prestasi, yakni melakukan penyatuan Kediri-Singasari, dengan menempatkan puteranya Kertanagara sebagai raja bawahan  (yuwaraja) di Kediri, dan diberi gelar Nararya Murdhaya. Ini berarti, ketika Kertanagara dinobatkan menjadi raja, ayahnya Wisnuwardana masih hidup. Lokasi Kerajaan Singasari diperkirakan berada di daerah Singosari, Malang.
Kertanagara seorang raja yang mempunyai cita-cita besar. Ia merupakan satu-satunya Raja Singasari yang ditunjuk sebagai putra mahkota sebelum menjadi raja dan menggantikan ayahnya dalam keadaan damai. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Singasari mencapai puncak kemakmuran dan mulai mencanangkan pandangan politik luar negeri Cakrawala Mandala, yang berarti persatuan dwipantara yang meliputi Jawa dan Sumatra. Politik ini menjadikan karakter pemerintahan Kertanagara sebagai pemimpin ekspansionis.
Sedikitnya ada 3 prasasti yang mengungkapkan gelar dari Kertanagara. Dalam Prasasti Mula Malurung (1255), Kertanagara bergelar Sri Maharaja Sri Lokawijaya Purushottama Wira Asta Basudewadhipa Aniwarriwiryanindita Parakrama Murddhaja Namotunggadewa. Prasasti Padang Roco (1286) tertulis Sri Maharajadhiraja Kertanagara Wikrama Dharmotungga. Prasasti Tumpang tertulis Sri Jnaneswarabajra.
Selama masa kekuasaan Raja Kertanagara, tercatat paling banyak mengalami peristiwa pertumpahan darah, bila dibandingkan dengan 4 raja sebelumnya. Namun, meskipun diwarnai dengan berbagai konflik internal, justru Raja Kartanagara memegang rekor terlama berkuasa di Singasari, yaitu selama 38 tahun (1254-1292). Hal ini membuktikan bahwa, panjang pendeknya masa pemerintahan, tidak berkaitan langsung dengan tingkat kestabilan pemerintahan. Seorang raja dapat memerintah dalam waktu relatif lama meski situasi kerajaan tidak stabil, sering bergolak. Sebaliknya, ada raja yang memerintah dalam kurun waktu sangat pendek, meski situasi kerajaan tenang. Hal ini menjadi indikasi bahwa Kertanagara seorang raja yang kuat berhasil mengendalikan situasi kerajaan.
Menurut Kitab Pararaton, Raja Kertanagara dalam memantapkan kekuasaan  menyingkirkan orang-orang yang dicurigai tidak mempunyai loyalitas penuh. Orang-orang yang disingkirkan antara lain: Banyak Wide, diberi kekuasaan di daerah yang jauh di Sumenep, Madura Timur. Banyak Wide diangkat sebagai Adipati bergelar Arya Wiraraja. Kertanagara membunuh seorang kelana yang bernama Bhaya (Cayaraja), sebelum memerintahkan pasukannya menyerang Melayu. Pemberontakan Kelana Bhaya atau Cayaraja terjadi sekitar tahun 1271.  Mahisa Rangkah menyusul memberontak pada tahun 1280. Kedua pemberontakan ini dapat dipadamkan karena Kertanagara belum mengirim pasukan ke Swarnabhumi.
Bahkan patih utama Mpu Raganata yang selalu setia mendampingi Kertanagara meletakkan jabatan. Mpu Raganata merasa keberadaannya sudah tidak berarti lagi karena nasihat-nasihat sebagai Mpu sering tidak dihiraukan.Namun, dalam Kitab Kidung Panji Wijayakrama pupuh 1 dan Kitab Kidung Harsawijaya pupuh 1-28b, disebutkan Mpu Raganata dipecat oleh Kertanagara. Mpu Raganata adalah orang bijak, jujur dan pemberani. Tanpa ragu-ragu, Raganata mengemukakan keberatannya terhadap kepemimpinan sang prabu. Namun, Raja Kertanagara yang merasa punya kekuatan, menolak mentah-mentah pendapat Mpu Raganata, bahkan menjadi murka, dengan serta merta memecat Raganata dari jabatannya. Demikian juga Tumenggung Wirakreti disurutkan jabatannya menjadi mantri angabhaya (menteri pembantu).
Tahun 1289 M Singasari kedatangan utusan khusus dari Raja Mongol Kubilai Khan. Duta tersebut bernama Meng Chi membawa surat yang maksudnya adalah agar Raja Kertanagara tunduk pada kekuasaan Mongolia, Kerajaan Singasari merupakan bagian dari kekuasaan Kubilai Khan. Kertanagara membaca isi surat tersebut marah besar, dan seketika itu juga melukai hidung Meng Chi serta mengusirnya secara tidak terhormat. Meng Chi balik pulang ke negaranya, melaporkan pengalamannya menjalankan tugas sebagai utusan. Raja Kubilai Khan menjadi berang, tindakan Kertanagara menyalahi etika perlakuan terhadap seorang utusan. Kubilai Khan mengirim pasukan untuk menyerang Singasari. Menyadari akan adanya tindakan balasan dari Kubilai Khan, Kertanagara memperkuat pasukannya di Sumatera.

Wangsa Rajasa dan Wangsa Sinelir
Dalam penyelenggaraan pemerintahannya, Kertanagara membentuk 3 orang Mahamantri, yaitu: rakryan i hino, rakryan i sirikan, dan rakryan i halu. Mereka meneruskan dan mengatur perintah-perintah raja melalui menteri pelaksana, seperti: rakryan apatih, rakryan demung, dan rakryan kanuruhan. Sistem ini kemudian dikembangkan pada masa Kerajaan Majapahit. Jabatan Ratu Angbhaya dihapus yang selama ini dijabat oleh Narasinghamurti yang berasal dari Wangsa Rajasa, sehingga Lembu Tal (putera Narasinghamurti) tidak menduduki jabatan penting dalam pemerintahan Singasari. Pemangkasan terhadap pengaruh Wangsa Rajasa terus dilakukan dengan mencopot Tumenggung Wirakerti dan Pendeta Santasmerti. Sebaliknya, Wangsa Sinelir dipromosikan menduduki jabatan penting, seperti Patih Mahesa Anengah Anggragani, Kebo Anabrang dan Jayakatwang sendiri.
Ada 2 kelompok besar pewaris yang berseteru di Kerajaan Singasari. Kedua kelompok itu adalah Wangsa Rajasa dan Wangsa Sinelir. Wangsa Rajasa maksudnya adalah keturunan yang lahir dari Ken  Arok-Ken Dedes yang diwakili Mahesa Wonga Teleng. Wangsa Sinelir adalah yang diidentifikasi sebagai keturunan Tunggul Ametung-Ken Dedes yang diwakili oleh Anusapati. Sedangkan trah Ken Arok-Ken Umang diwakili Panji Tojaya kurang mendapat legitimasi. Masing-masing wangsa punya pendukung sendiri-sendiri. Pendukung Wangsa Rajasa antara lain: Lembu Tal, Arya Wiraraja, Mpu Raganata dan lain sebagainya. Pendukung Wangsa Sinelir antara lain: Kebo Anengah, Panji Aragani, dan lain sebagainya.
Kepercayaan Kertanagara terhadap Jayakatwang begitu besar, sehingga diangkat menjadi pucuk pimpinan di Kediri, yang sebelumnya menjadi penguasa Glang-glang. Pada masa itu Kediri adalah daerah utama bagi Singasari, sehingga seorang yang diangkat menjadi Bhre Kediri (Penguasa Kediri) merupakan putra mahkota atau yuwaraja. Demikian juga dahulu Kertanagara sewaktu muda bergelar Nararya Murdhaya menjadi Bhre Kediri sebelum dinobatkan menjadi raja Singasari. Hal yang sama nantinya, sebelum Jayanegara dinobatkan menjadi Raja Majapahit, pernah menjabat Bhre Kediri.


Penyatuan Nusantara
Kertanagara menganut pola politik baru, yaitu penguasaan seluruh Nusantara di bawah kontrol Singasari. Ia dipandang sebagai raja pertama yang mempunyai gagasan penyatuan nusantara. Sedangkan, pejabat-pejabat lama seperti Banyak Wide adalah pejabat senior di bawah Raja Seminingrat/Wisnuwardana/Ranggawuni ayah Kertanagara, masih menganut pola politik lama (intern Jawa) sewaktu ayahnya berkuasa. Merasa tidak cocok dengan pola politik yang lama, yang dianut oleh pejabat-pejabat senior, Kertanagara melakukan revitalisasi pejabat. Pejabat-pejabat lama yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan pola politiknya dan  juga pejabat yang dianggap tidak loyal dipindahkan, disurutkan dan bahkan diberhentikan. Namun, perombakan ini menimbulkan dendam dan menjadi benih kejatuhannya kelak.
Ekspedisi Pamalayu merupakan prestasi tersendiri bagi Kertanagara. Ekspansi ini dilakukan pada tahun 1275 M dengan menyerang Melayu di Sumatera. Dalam sastra sejarah Jawa Kuno, ekspedisi ke Melayu ini disebut Pamalayu yang artinya perang melawan Melayu. Ekspedisi ini juga bermaksud strategis, yaitu menghadang perluasaan ekspansi kerajaan Mongol, dimana kerajaan Mongo sudah hampir menguasai sebagian besar daratan Asia. Ekspedisi berhasil dengan gemilang. Pasukan Singasari pulang dengan kemenangan. Mereka berhasil menundukkan Raja Melayu Tribhuwana Mauliwarmadewa di Dharmasraya yang berpusat di Jambi sekarang. Sebagai bukti tanda kemenangannya Kertanagara mengirim patung Amoghapasa dari Jawa ke Swarnabhumi. Kertanagara memerintahkan kepada 4 orang untuk mengirm arca tersebut. Keempat orang tersebut adalah: Rakryan Mahamantri Dyah Adwayabrahma. Rakryan Sirikan Dyah Sugatabrahma, Payanan Hyang Dipangkaradasa, dan Rakryan Demung Wira. Pengiriman Arca ini diperkirakan pada Agustus-September 1286 M.
Perluasan kekuasaan kerajaan Singasari berlangsung terus. Upaya mewujudkan ekspansi kekuasaan Kertanagara dapat dikatakan berhasil. Pengaruh kekuasaannya meluas ke negeri Champa, yang dibuktikan dengan ikatan perkawinan adik Kertanagara dengan raja Champa. Daerah-daerah yang dikuasai semasa pemerintahan Kertanagara adalah: Swarnabhumi (Sumatera), Bakulapura (Kalimantan Barat), Sunda (Jawa Barat), Madura, Bali dan Gurun (Maluku).
Bali ditaklukkan oleh tentara Singasari pada tahun 1284 M. Raja Bali ditawan dibawa ke Singasari. Penaklukan terhadap Bali sangat penting, karena dengan menguasai daerah ini, selain menguntungkan secara ekonomi dimana upeti dan perdagangan hasil bumi akan mengalir ke pusat kerajaan dan juga secara militer kerajaan Singasari akan mendapatkan banyak sekutu dan pasukan untuk mengantispasi perang terbuka dengan Kerajaan Mongol.
Penaklukan terhadap Bali berjalan baik, mungkin karena sejak lama Bali secara tradisional merupakan bagian dari kekuasaan Kerajaan Jawa. Mulai sejak itu Bali berada di bawah pengaruh kerajaan Singasari. Pengaruh Singasari jelas tampak di Bali khususnya pada jalur jalan Desa Bedulu-Tampaksiring. Unsur-unsur Bhairawa tampak dominan di situs-situs purbakala pada jalur jalan ini. Diantaranya: Pura Samuan Tiga, Pura Kebo Edan, Pura Pusering Jagat, Pura Penataran Sasih, Pura Gunung Kawi, Pura Tirtha Empul, Pura Mangening, dan lain sebagainya.

Pemberontakan Jayakatwang
Kertanagara yang sibuk mengirim pasukan perangnya ke luar Jawa, akhirnya mengalami krisis kekuatan tentara di dalam negeri. Situasi ini dimanfaat oleh Jayakatwang. Kemudian pada tahun 1292 terjadi pemberontakan pasukan Kediri yang dipimpin oleh yuwaraja, Jayakatwang. Tragis, sebenarnya hubungan Kertanagara dengan Jayakatwang sendiri adalah sepupu, sekaligus ipar, dan juga besan.
Kemungkinan akan memberontaknya Bhre Kediri sudah diantisipasi oleh Mpu Raganatha. Hal tersebut sudah disampaikan kepada raja Kertanagara, namun ditolak, dengan alasan bahwa Jayakatwang banyak berhutang budinya. Jayakatwang pernah diberi kedudukan sebagai pegawai keraton (pengalasan) Singasari, sebelum diberi kedudukan sebagai yuwaraja menjadi Bhre Kediri.
Pengiriman pasukan keluar daerah dalam rangka pemenuhan ambisi Kertanagara ini, sangat menguras logistik dalam negeri. Situasi ini diketahui oleh Arya Wiraraja dan mengirim pesan rahasia kepada Bhre Kediri Jayakatwang. Kitab Nagara Kertagama pupuh 41/4 menceritakan kalimat-kalimat yang tertulis dalam pesan rahasia tersebut. Kota Singasari digambarkan sebagai tegalan yang tandus. Tidak ada rumput, tidak ilalang, daun-daun sedang rontok, gugur berhamburan, kering kerontang. Tidak ada kerbau, rusa, sapi, yang ada hanya harimau tua. Bukitnya kecil-kecil, jurangnya tidak berbahaya, dan seterusnya.
Harimau tua adalah perumpamaan dari Arya Wiraraja kepada Mpu Raganatha yang memang usianya sudah tua renta tidak mampu berbuat apa lagi. Ini merupakan kesempatan yang baik bagi Jayakatwang untuk berburu (memberontak), menggulingkan dan merebut kekuasaan kerajaan Singasari terhadap Kertanagara. Pembawa surat Arya Wiraraja adalah Wirondaya, sempat ditanya oleh Jayakatwang tentang bagaimana situasi Kota Singasari. Wirondaya menjawab bahwa Raja Kertanagara banyak melakukan tindakan pembersihan terhadap para pendampingnya. Adanya yang dipindahkan jauh, ada yang disurutkan dan bahkan dipecat, diberhentikan.
Selain itu, Jayaktwang juga mendengar petuah dari Patih Mahisa Mundarang. Mundarang menuturkan bahwa, moyang Jayakatwang Prabu Dandang Gendis (Kertajaya) dibunuh oleh Ken Arok, bersamaan dengan itu lenyaplah kekuasaan  kerajaan Kediri, diganti dengan kerajaan baru Singasari. Ken Aroklah sebagai raja pertama Singasari bergelar Raja Rajasa. Dari peristiwa itu, Mundarang menyarankan Jayakatwang agar membalas dendam sebagai suatu kewajiban seorang anak, dan menegakkan kembali kejayaan kerajaan Kediri.
Setelah mendapat petunjuk dari pesan yang diberikan Arya Wiraraja dan nasihat dari Mundarang, Jayakatwang segera mengkoordinasikan penyerangan ke Kota Singasari. Orang-orang yang diperintahkan Jayakatwang membantu penyerangan adalah: Jaran Guyang, Patih Mahisa Mundarang, dan Ardharaja. Ardharaja adalah putera Jayakatwang sekaligus menantu Kertanagara. Rupanya Ardharaja lebih memilih berbakti pada orang tuanya daripada mertuanya.

Kematian Kertanagara
Tidak seperti pemberontakan sebelumnya, pemberontakan Jayakatwang merupakan kesempatan yang baik, sehingga menuai hasil yang gemilang. Kesempatan baik, karena kekuatan pasukan Singasari lebih terpusat di Swarnabhumi, menyisakan kekuatan pasukan yang lemah di negeri sendiri. Serangan Jayakatwang bersifat mendadak, tidak dapat diduga oleh pihak keraton.
Kertanagara yang berada di ruang keputerian sedang melakukan dan menikmati pesta, tidak menduga akan bahaya yang datang. Patih Angragani sempat menghadap, kemudian terdengar sorak-sorak bala tentara Kediri di Manguntur. Mpu Raganatha dan Mantri Angabhaya Wirakerti bergegas masuk ke ruang keputerian dan menasihati, bahwa adalah tabu bagi seorang raja terbunuh di dalam ruangan. Raja Kertanagara keluar ruangan dan terbunuh ditangan Jayakatwang sendiri. Mpu Raganatha, Panji Angragani, dan Wirakerti juga terbunuh dalam serangan yang tiba-tiba tersebut. Sementara Dyah Wijaya melarikan diri ke Sumenep. Jayakatwang menjadi penguasa Singasari dengan menggunakan Daha sebagai ibukotanya.
Sejarah Singasari berakhir dan lenyap dengan gugurnya Raja Kertanagara pada tahun 1292. Arwahnya dicandikan bersama arwah istrinya di Sagala sebagai Wairocana dan Locana dengan lambang arca tunggal Ardhanareswari. Kitab Nagara Kertagama mencatat Raja Kertanagara pulang ke Jinalaya dan diberi gelar “Yang Mulia di Alam Siwa-Buddha”, dalam Kitab Pararaton disebut Bhatara Siwa-Buddha. Patung perwujudan Kertanagara yang berada di Taman Apsari Surabaya berasal dari Trowulan. Patung lebih dikenal dengan nama Joko Dolog.

(Ida Bagus Wirahaji)
DAFTAR PUSTAKA

Adji, K.B dan Sri W Achmad. 2014. Sejarah Raja-Raja Jawa – Dari Mataram Kuno Hingga Mataram Islam. Yogyakarta: Araska.
Atmaja, N.B. 2010. Geneologi Keruntuhan Majapahit. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hidayat, M. 2013. Arya Wiraraja dan Lumajang Tigang Juru. Denpasar: Pustaka Larasan.
Muljana, S. 2006. Tafsir Sejarah Nagara Kretagama. Edisi Pertama. Yogyakarta: LkiS.
Rahardjo, S. 2011. Peradaban Jawa – Dari Mataram Kuno Sampai Majapahit Akhir. Jakarta: Komunitas Bambu
Samsubur. 2011. Sejarah Kerajaan Blambangan. Cetakan Pertama. Surabaya: Paramita.
Soekmono, R. 1973. Sejarah Kebudayaan Indonesia. Jilid Kedua. Jakarta: Yayasan Kanisius

Selasa, 16 Desember 2014

FRONTAGE

ANALISIS PERENCANAAN FRONTAGE PADA RUAS JALAN
PROF. IDA BAGUS MANTRA DARI SIMPANG TOH PATI  (DENPASAR)– SIMPANG PANTAI SIUT (GIANYAR)

Ida Bagus Wirahaji
Program Studi Teknik Sipil FT UNHI


ABSTRAK

Ruas Jalan Prof. Ida Bagus Mantra termasuk ruas jalan Arteri Primer. Sebagaimana diatur dalam Pedoman Konstruksi Bangunan, maka ruas jalan ini harus dilengkapi dengan frontage. Frontage berfungsi untuk memisahkan kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi dan kendaraan dengan kecepatan rendah.
Perencanaan frontage pada ruas Jalan Prof. Ida Bagus Mantra ini dimulai dengan survey pendahuluan, meliputi survey upah, harga satuan, dan peralatan; desain geometrik frontage; topografi, geologi dan geoteknik; hidrologi dan hidraulik; dan survey lalu jalan eksisting.
Manfaat frontage yang dibangun pada ruas jalan ini, diharapkan dapat menurunkan angka kecelakaan serta dapat mengurangi fatalitas kecelakaan. Frontage memberikan kenyamanan kepada pengemudi untuk mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan rendah. Demikian juga bagi pengemudi kendaraan yang akan keluar atau pun masuk ke main road, dapat menggunakan frontage terlebih dahulu dengan resiko terjadinya kecelakaan yang kecil.

Kata Kunci: Frontage, Data Awal Perencanaan, Efektifitas Manfaatnya.


LATAR BELAKANG
Ruas jalan Bypass Prof Ida Bagus Mantra, merupakan salah satu ruas Jalan Nasional di Bali, yang memiliki fungsi strategis dalam menghubungkan lalu lintas antar provinsi di Indonesia khususnya antara Jawa dan Nusa Tenggara. Ruas jalan ini mempunyai jarak total sepanjang 22 Kilometer, dengan STA Awal dimulai dari Simpang Tohpati dan berakhir di Simpang Kusamba. Lebar pembebasan lahan rata-rata 40 meter, dibangun 2 jalur. Sampai saat ini jalur kanan (dari Simpang Tohpati ke arah Kusamba) tinggal menunggu penyelesaian tahap akhir proyek Pembangunan Jembatan Baru Duplikasi Jembatan Tukad Unda, untuk tahun anggaran 2014.
Lalu lintas kendaraan yang bergerak di ruas Jalan Bypass Prof. Ida Bagus Mantra, terdiri dari berbagai jenis kendaraan, mulai dari kendaraan ringan sampai kendaraan berat. Kecepatan tiap-tiap kendaraanpun beragam, dari kecepatan rendah sampai dengan kecepatan tinggi. Demikian juga tipe perjalanan, ada yang melakukan perjalanan jarak jauh, juga ada perjalanan lokal. Untuk mengakomodasi lalu lintas dari berbagai jenis berat, kecepatan kendaraan, dan tipe perjalanan tersebut tidak mungkin dalam satu lajur jalan. Kendaraan ringan yang umumnya terdiri dari kendaraaan pribadi dengan kecepatan rata-rata lebih tinggi dari pada kendaraan berat, seperti truk, akan merasa terganggu atau merasa tidak nyaman harus membuntuti dari belakang dengan kecepatan rendah.
Dalam tipe lalu lintas mix traffic, juga akan rentan terjadinya kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan yang berakibat fatal seringkali dialami oleh pengendara sepeda motor. Sebab sepeda motor merupakan moda yang sangat minim proteksi terhadap pemakainya. Data kecelakaan tahun 2013 yang terjadi di ruas Jalan Prof Ida Bagus Mantra yang termasuk wilayah hukum Kabupaten Gianyar dan Kabupaten Klungkung menunjukkan peningkatan. Kepolisian Resort Gianyar dan Klungkung menunjuk bahwa sebagian besar kecelakaan di daerah kewenangannya terjadi di ruas Jalan Bypass Prof Ida Bagus Mantra (Bali Post, 2013).
Banyaknya jumlah korban mati dan luka-luka menyebabkan permasalahan kecelakaan berkendaraan di jalan tidak dapat diabaikan begitu saja. Dimana, biaya kecelakaan jalan dapat merupakan bagian substansial dari biaya total jalan untuk kehidupan perekonomian dari suatu proyek bila persoalan yang signifikan dibangun di dalam jalan (Tjahjono dan Subagio, 2011). Aplikasi Audit Keselamatan Jalan (RSA) pada berbagai tahap dalam proses perencanaan, desain, konstruksi, dan operasi dapat menghilangkan banyak situasi yang berpotensi mengakibatkan kecelakaan (Ditjen Perhubungan Darat, 2002).
Oleh sebab itu, dalam usaha memberi pelayanan yang terbaik untuk berbagai kepentingan dari pengguna jalan dan untuk meningkatkan kinerja jalan nasional, maka Direktorat Jenderal Bina Marga melalui Satuan Kerja Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional Provinsi Bali melakukan perencanaan tentang pembangunan frontage pada jalur Jalan Bypass Prof Ida Bagus Mantra jalur Tohpati – Kusamba, pada segmen Simpang Toh Pati sampai dengan Simpang Pantai Siut. Dalam hal ini, jalur frontage melalui daerah Kota Denpasar dan Kabupaten Gianyar.



RUMUSAN MASALAH
Dalam perencanaan frontage, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum tahapan konstruksi. Daerah pada Ruas Jalan By Pass Prof Ida Bagus Mantra memiliki karakteristik yang berbeda dengan daerah lainnya. Sehingga beberapa pertanyaan atau masalah yang perlu dirumuskan:
a.       Data awal apa saja yang diperlukan dalam perencanaan frontage pada Ruas Jalan Bypass Prof Ida Bagus Mantra?
b.      Bagaimanakah efektifitas manfaat pembangunan frontage road pada ruas jalan tersebut untuk ke depannya?

BATASAN MASALAH
Untuk mencegah pembahasan yang meluas keluar dari rumusan permasalahan, maka diperlukan batasan masalah, yaitu:
a.       Ruas kajian adalah Ruas Jalan Bypass Prof Ida Bagus Mantra, dari Simpang Tohpati sampai dengan Simpang Pantai Siut.
b.      Mengkaji data awal yang diperlukan sebagai pedoman melakukan survey pendahuluan atau reconnaissance survey.
c.       Membahas efektifitas fungsional jalur frontage tersebut, untuk masa waktu sekarang dan akan datang.

TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian Frontage Road
Frontage Road adalah jalur jalan yang dibangun pararel pada Jalan Arteri Primer untuk kecepatan lebih lambat. Frontage adalah sebuah jalan depan, disebut juga akses jalan, jalan layanan, atau jalan pararel, merupakan jalan lokal yang difungsikan untuk menyediakan akses ke jalan masuk pribadi, toko-toko, rumah, industri atau pertanian (Wikipedia, 2014).
Jalan Frontage menyediakan akses ke rumah dan bisnis yang akan dipotong oleh jalan akses terbatas dan menghubungkan lokasi tersebut dengan jalan yang memiliki akses langsung ke jalan utama. Jalan Frontage memberikan akses langsung untuk berbatasan properti sepanjang jalan bebas hambatan, baik mencegah komersial gangguan dari daerah perkotaan bahwa jalur pergerakan bebas hambatan atau memungkinkan pengembangan komersial berbatasan properti.

Jalan Arteri Primer
Jalan Arteri Primer menghubungkan secara efisien antar Pusat Kegiatan Nasional (PKN), atau antara Pusat Kegiatan Nasional dengan Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), serta menghubungkan Pusat Kegiatan Nasional dengan kota lain di negara tetangga yang berbatasan langsung (PP No. 34/2006).
Karakteristik Jalan Arteri Primer adalah sebagai berikut (Poernomosidhi, 2004):
a.       Jalan arteri primer didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 60 km/jam, dengan lebar badan jalan sedikitnya 11 meter.
b.      Lebar Daerah Manfaat jalan minimal 11 meter.
c.       Jumlah jalan masuk dibatasi secara efisien; jarak antar jalan masuk/akses langsung minimal 500 meter, jarak antar akses lahan langsung berupa kapling luas lahan harus di atas 1000 m2, dengan pemanfaatan untuk rumah.
d.      Persimpangan pada jalan arteri primer diatur dengan pengaturan tertentu yang sesuai dengan volume lalu lintas dan karakteristiknya;
e.       Harus mempunya perlengkapan jalanyang cukup seperti rambu, marka, lampu pengatur lalu lintas, lampu penerangan jalan, dan lain-lain;
f.       Jalur khusus seharusnya disediakan, yang dapat digunakan untuk sepeda dan kendaraan lambat lainnya;
g.      Jalan arteri primer mempunyai 4 lajur atau lebih dan seharusnya dilengkapi dengan median (sesuai dengan ketentuan geometrik);
h.      Apabila persyaratan jarak akses jalan dan atau akses lahan tidak dapat dipenuhi, maka pada jalan arteri primer harus disediakan jalur lambat (frontage road) dan juga jalur khusus untuk kendaraan tidak bermotor (sepeda, becak dan lain-lain)


Untuk kecepatan rencana (Vr) jalan arteri primer di kawasan perkotaan adalah dalam interval 50 sd 100 km/jam, seperti ditunjukkan dalam Tabel 01. Sedangkan panjang dan lebar maksimum kendaraan serta muatan sumbu terberat ditunjukkan pada Tabel 02.

Tabel 01 Kecepatan Rencana (Vr) sesuai klasifikasi jalan di kawasan perkotaan
Sumber: RSNI T-14-2004

Tabel 02 Klasifikasi Jalan
Sumber: RSNI T-14-2004

ANALISIS
Survey Pendahuluan
Survey Pendahuluan atau Reconnaissance Survey mesti dilakukan pada awal pekerjaan di lokasi yang akan direncanakan pembangunan frontage. Tujuan survey ini untuk memperoleh data awal sebagai bagian penting bahan kajian kelayakan teknis dan bahan pekerjaan selanjutnya. Survey pendahuluan antara lain menyangkut:
1.      Survey tentang upah, harga satuan, dan peralatan
2.      Survey tentang desain geometrik frontage
3.      Survey topografi
4.      Survey geologi dan geoteknik
5.      Survey hidrologi dan hidraulik
6.      Survey lalu lintas
7.      Survey perkerasan jalan eksisting
Survey Upah, Harga Satuan, dan Peralatan
Untuk mendapatkan upah, harga satuan, dan peralatan yang baik dapat diperoleh melalui:
a.       Daftar harga yang dikeluarkan Pemerintah Daerah setempat.
b.      Daftar harga yang dikeluarkan instansi tertentu.
c.       Jurnal-jurnal harga bahan dan upah.
d.      Daftar harga dari Bapenas.
e.       Survey harga di lokasi proyek.

Dalam melakukan survey terhadap sumber material, disarankan mengunakan material yang terdekat dari lokasi proyek. Sumber-sumber material yang ada di Bali ditgunjukkan pada Gambar 01. Namun apabila material yang terdekat propertiesnya tidak memenuhi syarat, maka dapat digunakan material lainnya.

Survey Desain Geometrik
 Kegiatan survey meliputi penentuan stasioning awal proyek (STA 0+00) dan akhir proyek dengan mengambil data sejauh 200 m sebelum dan 200 m setelah titik akhir pekerjaan. Stasioning yang tepat agar mendapatkan overlaping yang baik dan memenuhi syarat geometrik. Medan eksisting diidentifikasi secara stasioning/urutan jarak dengan mengelompokkan kondisi: meda datar, rolling, perbukitan, pegunungan dalam bentuk tabelaris.
Secara geometrik, seperti halnya pada jalan, maka perencanaan frontage road dibagi menjadi 2 (dua) bagian, perencanaan alinyemen horizontal dan alinyemen vertikal. Di dalam penarikan desain alinyemen horizontal dan vertikal harus sudah diperhitungkan dengan cermat sesuai dengan kebutuhan perencanaan untuk lokasi-lokasi seperti: galian/timbunan, bangunan pelengkap jalan, gorong-gorong dan jembatan (oprit jembatan), persimpangan yang bisa terlihat dengan dibuatnya sketsa-sketsa serta tabelaris di lapangan dari identifikasi kondisi lapangan secara stasioning dari awal sampa dengan akhir proyek.

Survey Topografi
Tujuan pengukuran topografi dalam pekerjaan ini adalah mengumpulkan data koordinat dan ketinggian permukaan tanah area rencana trase frontage road. Menentukan awal dan akhir pengukuran serta pemasangan patok betn (Bench Mark) dan akhir proyek dengan Global Positioning System (GPS Portable). Mengamati kondisi topografi, mencatat daerah-daerah yang akan dilakukan pengukuran khusus serta morfologi dan lokasi yang perlu dilakukan perpanjangan koridor.

Survey Geologi dan Geoteknik
Survey kondisi tanah dasar meliputi penyelidikan tanah dalam pekerjaan ini, yaitu untuk menentukan jenis dan karakteristik tanah yang akan difungsikan sebagai sugrade frontage road, serta mengidentifikasi sumber bahan termasuk perkiraan kuantitasnya. Memberikan rekomendasi kepada Highway Engineer berkaitan dengan rencana trase jalan yang akan dipilih.
Lingkup kegiatan penyelidikan kondisi tanah dasar meliputi 2 (dua) hal, yaitu:
a.       Sondir (Pneutrometer Static), untuk mengetahui kedalaman lapisan tanah keras berdasarkantanahan ujung konus dan daya lekat tanah pada setiap kedalaman.
b.      Pengambilan Sampel Tanah, yang akan dibawa ke laboratorium mekanika tanah untuk dicari nilai-nilai karakteristiknya, seperti berat jenis, indeks palstisitas, analisis saringan, kepadatan standar (untuk tanah halus) dan nilai CBRnya.
Gambar 01 Identifikasi sumber material yang akan digunakan
Sumber: Veygasi Disain (2014)

Survey Hidrologi dan Hidarolika
Survey hidrologi dan hidrolika yang dilaksanakan dalam pekerjaan ini adalah untuk mengumpulkan data hidrologi dan karakter atau prilaku air pada bangunan air yang ada di sekitar frontage road. Analisis hidrologi diperlukan untuk penentuan debit bajjir, rencana (elevasi muka air banjir), perencanaan drainase dan bangunan pengaman terhadap gerusan, rivertraining (pengarah arus) yang diperlukan.

Survey Lalu Lintas
Untuk mendapatkan informasi besaran arus lalu lintas perlu dilakukan survey untuk mendapatkan data yang representatif mengenai besaran arus lalu lintas. Besaran arus lalu lintas dipengaruhi oleh waktu, musim (musim hujan atau musim kemarau ataupun musim hari-hari besar keagamaan), hari pelaksanaan survei(hari pasar), pusat kegiatan, perumahan ataupun pada daerah wisata dan berbagai faktor lainnya; jenis kendaraan yang berlalu lintas (klasifikasi kendaraan
Data mengenai lalu lintas pada Ruas Jalan Prof Ida Bagus Mantra diperlukan untuk perencanaan frontage road. Metode survey ditetapkan sesuai dengan tujuan survey, dana, dan peralatan atau perlengkapan yang tersedia. Standar pengambilan dan perhitungan data harus mengacu pada buku Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI 1997).
Untuk mendapatkan informasi mengenai karakteristik lalu lintas pada ruas ini, survey dkelompokkan menjadi:
a.       Survei Inventarisasi, seperti sarana dan prasarana, perlengkapan lalu lintas, dan fasilitas angkutan umum.
b.      Survey untuk kerja, seperti volume lalu lintas, kecepatan, dan aksesibilitas parkir.


Survey Pekerasan Jalan Eksisting
Pada umumnya pembuatan alan menempuh jarak beberapa kilometer dengan kondisi medan yang berbeda-beda. Oleh sebab itu jenis konstruksi perkerasan harus disesuaikan dengan kondisi tiap-tiap tempat atau daerah yang akan dibangun jalan (frontage) tersebut. Khususnya mengenai bahan material yang akan digunakan diupayakan mudah didapat di sekitar trase jalan yang akan dibangun, sehingga biaya pembangnan dapat ditekan.
Survey perkerasan jalan bertujuan untuk mengetahui nilai struktural yang sudah ada. Untuk perkerasan aspal yang masih utuh, pengukuran nilai sisa perkerasan dilakukan dengan mengukur lendutan balik dengan alat Benkelmen Beam. Untuk perkerasan aspal yang sudah rusak atau jalan kerikil/tanah, nilai struktural didapat dengan mengukur CBR tanah dengan Dynamic Cone Penetration (DCP) atau loading test (CBR lapangan).
Kinerja perkerasan jalan akan menurun seiring dengan bertambahnya umur jalan. Bobot penurunan tingkat pelayanan perkerasan jalan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kualitas material campuran aspal, kondisi instalasi pencampur aspal (AMP), kualitas pelaksanaan. Pengaruh tersebut signifikan terhadap penurunan tingkat pelayanan jalan setelah jalan tersebut dibuka.
Kondisi jalan secara umum dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu:
a.       Baik (good), yaitu kondisi perkerasan jalan yang bebas dari kerusakan atau cacat dan hanya membutuhkan pemeliharaan rutin untuk mempertahankan kondisi jalan.
b.      Sedang (fair), yaitu kondisi perkerasan jalan yang memiliki kerusakan cukup signifikan dan membutuhkan pelapisan ulang dan perkuatan.
c.       Buruk (poor), yaitu kondisi perkerasan jalan yang memiliki kerusakan yang seudah meluas dan membuuhkan rehabilitasi dan pembangunan kembali dengan segera.
Gambar 02 Terdapat bahu jalan yang belum diperkeras
masih berupa eksisting tanah.
Sumber: Veygasi Disain (2014)

Manfaat Pembangunan Frontage Road
Pembangunan prasarana jalan merupakan prasarana umum yang akan digunakan oleh masyarakat. Khusus untuk frontage, pihak terkait harus melakukan sosialisasi terhadap fungsi dari frontage itu sendiri. Bagi masyarakat sekitar, mungkin masih banyak yang belum tahu tentang maksud, tujuan dan kegunaan jalur frontage itu sendiri. Oleh sebab itu sosialisi cukup dilakukan terhadap masyarakat setempat, karena jalur frontage diperutukan masyarakat lokal, ataupun untuk jalur lambat. Sosialisasi dapat dilakukan melalui penerangan ke banjar-banjar, ke kantor desa, atau melalui selebaran yang ditempael di tempat-tempat strategis.

Gambar 03 Frontage yang sudah dibuat di STA 1+000 sd 1+250 dan STA 2+020 sd 2+450 dengan pemisah kerb di sebelah dalam dan trotoar di sebelah luar.
Sumber: Veygasi Disain (2014)
Pembuatan frontage road juga sangat efektif dapat mengurangi angka kecelakaan dan menurunkan tingkat fatalitas kecelakaan. Jika jalan sudah dipecah, maka terjadi pemisahan kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi dan kendaraan yang melaju dengan kecepatan rendah. Kendaraan yang melaju dengan kecepatan rendah umumnya bangkitan dan tarikan perjalanan berasal penduduk lokal setempat.
Pembuatan fasilitas frontage road sebetulnya lebih banyak permasahannya di lapangan, yang menjadi persoalan yang utama adalah masalah pengaturan. Bahwa perencanaan frontage membutuhkan koordinasi lintas sektoral, seperti dengan Dinas Perhubungan, pihak kepolisan, terdekat dalam hal ini Kepala Kepolisian Sektor Di Denpasar Timur dan kepala kepolisian di bawah wewenang kepolisan Resort Kabupaten Gianyar. Juga tidak dapat ditinggalkan adalah penduduk atau masyarakat setempat melalui kepala dusun, kepala desa, dan tokoh-tokoh masyarakat di jalur frontage yang akan dibangun.
Dari segi struktur lapis perkerasan jalan, pembuatan frontage road diharuskan mengikuti ketentuan atau persyaratan yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga melalui SK Dirjen tahun 2013, yang menyatakan bahwa umur layanan lapis perkerasan lentur untuk lapis aus dan lapis antara adalah minimal selama 20 tahun. Sedangkan, umur layanan lapis perkerasan pondasi (campuran beraspal) adalah minimal 40 tahun. Untuk mewujudkan SK Dirjen Bina Marga 2013 tersebut, pelaksanaan proyek mesti diperketat mulai dari pemilihan material agregat, dan aspal sebagai bahan penyususun campuran aspal panas. Dengan memakai material yang memenuhi persyaratan, didukung oleh job mix formula (JMF) yang tepat dan proses pelaksanaan yang tidak menyimpang dari spesifikasi, maka SK Dirjen Bina Marga 2013 akan dapat terpenuhi.
Dalam pembuatan trotoar untuk pejalan kaki, diperhatikan persyaratan minimal lebar trotoar, sehingga pejalan kaki merasa nyaman di jalurnya. Trotoar yang baik, sesuai dengan badan jalan, tidak mau mengikuti dan menyesuai jalan akses rumah-rumah pribadi. Sebetulnya, trotoar yag dibuat mengkuti jalan akses rumah pribadi sehingga trotoar menjadi naik turun, itu menyalahi aturan. Secara hukum kedudukan atau status trotoar dengan badan jalan sama, sama-sama fasilitas umum milik pemerintah. Dalam mendisain trotoarpun sebaiknya mengikuti kearifan lokal di Bali. Trotoar dapat dapat menunjukkan unsur seni dan budaya lokal, tanpa harus kehilangan fungsinya, dan tanpa mengurangi kenyamanan para pejalan kaki. Trotoar yang didesain dengan motif seni budaya Bali, setidaknya dapat menunjang usaha untuk melestarikan budaya Bali.

SIMPULAN DAN SARAN
Dari analisis di atas ada beberapa hal yang dapat diberi simpulan dan saran, sebagai berikut:
1.      Frontage pada ruas jalan Prof. Ida Bagus Mantra, memang diperlukan untuk keselamatan berlalu lintas. Ruas jalan dengan tipe mix traffic akan sangat rentan terjadi kecelakaan.
2.      Sepanjang ruas jalan Prof. Ida Bagus Mantra ini, merupakan area yang berkembang pesat, dimana perubahan tata guna lahan yang cepat, akan mengubah pula pola arus lalu lintas pada jalan tersebut.
3.      Dalam merencanakan frontage, survey pendahuluan memegang peran penting. Kesalahan dalam mengambil data yang diperlukan akan menghasilkan perencanaan yang tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.
4.      Frontage harus dilengkapi dengan bangunan pelengkap dan perlengkapan jalan. Bangunan pelengkap diperlukan untuk mengamankan perkerasan jalan. Sedangkan perlengkapanjalan diperlukan untuk memberi kenyamanan pemakai jalan.
5.      Dengan adanya frontage, diharapkan pengemudi dapat memilih jalurnya yang tepat sesuai dengan kecepatan kendaraannya, sehingga tidak mengganggu kendaraan lainnya.



DAFTAR PUSTAKA
Badan Standarisasi Nasional (BSN). 2004. RSNI T-14-2004 tentang Geometri Jalan Perkotaan. Jakarta: Dirjen Bina Marga.
Bali Post. 2013. Meningkat Korban Tewas Sia-sia di Jalan I.B. Mantra. Berita Koran. Denpasar.
Direktorat Jenderal (Ditjen) Perhubungan Darat. 2002. Audit Keselamatan Jalan (Road Safety Audit). Bogor: Departemen Perhubungan.
Direktorat Jenderal Bina Marga. 1997. Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997. Jakarta: Departemen Pekerjaan Umum.
Peraturan Pemerintah (PP) No. 34 Tahun 2006 tentang Jalan.
Poernomosidhi, dkk. 2004. Kriteria Pemanfaatan Ruang dan Pengendalian pemanfaatan Ruang di Sepanjang Jalan Arteri Primer Antar Kota. Pedoman Konstruksi dan Bangunan. Pd S-01-2004-B. Jakarta: Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah.
Satker P2JN Provinsi Bali. 2014. Kerangka Acuan Kerja Pengadaan Jasa Konstruksi – Pekerjaan Paket 14 Perencanaan Teknik Frontage Sp. Tohkati-Sp. Pantai Siut. Denpasar: Kementrian Pekerjaan Umum Provinsi Bali.
Tjahyono, Tri dan Indaryati Subagio. 2011. Analisis Keselamatan Lalju Lintas Jalan. Bandung: Lubuk Agung.
Veygasi Disain, CV. 2014. Presentasi Laporan Pendahuluan Paket 14 Perencanaan Teknik Frontage Sp. Tohpati sd Sp. Pantai Siut. Denpasar: -

Wikipedia. 2014. Jalan Depan. http://en.wikipedia.org/wiki/Frontage_road. diakses 1 Juni 2014.