Label

Senin, 29 September 2014

PURA SARI



MELASPAS DAN MUPUK PEDAGINGAN 
DI PURA SARI TEGAL BADUNG

Upacara mlaspas dan mupuk pedagingan di Pura Sari Tegal Badung telah dilaksanakan pada hari Minggu 28 September 2014 bertepatan dengan Rahina Kajeng Kliwon Watugunung Runtuh. Upacara nyatur mapedudus alit ini dilaksanakan, setelah selesainya pembangunan Bale Kulkul, renovasi kori agung, bale pegat, dan beberapa pelinggih. Upacara dihadiri oleh Penglingsir Puri Tegal Badung, Puri Ageng Tabanan, Puri Tegal Tamu Gianyar, dan Pemecutan.
Rangkaian upacara diawali dengan matur piuning, akan melakukan pembangunan dan renovasi, kemudian dilanjutkan dengan nedunang daksina linggih untuk disthanakan sementara pada sangar agung selama masa kegiatan pembangunan dan renovasi. Pembangunan dan renovasi memakan waktu selama kurang lebih 6 bulan. Pada tanggal 25 September 2014, Wrhaspati Kliwon Dukut dilakukan upacara nuntun daksina sore harinya. Esok harinya Sukra Umanis-Dukut, upacara nunas tirta pekuluh dan maturan pejati ke pura-pura, seperti: Pura Tri Kahyangan Tiga di Denpasar, Pura Dang Kahyangan, seperti Pura Sakenan dan Pura Uluwatu, dan pura-pura yang berlokasi di lingkungan Tegal, seperti Pura Batur, Pura Mayun, Pura Majapahit, Pura Pasek, dan Pelinggih Ratu Niang.
Puncak karya dilaksanakan pada hari Minggu, 28 September 2014, Kajeng Kliwon Watugunung Runtuh pada sore harinya pk. 15.00 wita dipuput oleh Ida Pedanda Agung Putra Kemenuh dari Geriya Jero Agung Tegal Badung. Tingkatan upacara yang dilaksanakan adalah nyatur mapedudus alit disertai mecaru Rsi Gana. Upacara diramaikan dengan topeng sidakarya dari Puri Tegal Tamu dan diiringi oleh sekehe gong dari Banjar Monang Maning. Namun sebelumnya, pada pagi harinya pk. 09.00 dilaksanakan upacara Ngias Bhatara, Ngias Daksina, dan Ngias Pratima. Esok harinya tanggal 29 September 2014 Soma Umanis Watugunung dilaksanakan upacara mepandes nyurud ayu yang diikuti oleh 13 orang dengan 4 orang sangging geriya.
Pura Sari terletak Jl. Imam Bonjol No. 103-105 Br. Tegal Gede, Desa Pemecutan Kelod, Kecamatan Denpasar Barat. Lokasi pura berada dalam areal Jero Agung. Pura seluas 8 are ini sekarang diempon secara turun-tumurun oleh warga Geriya Jero Agung, yang mana lokasi Geriya ini berada di dalam lingkungan Jero Agung.
Sejarah Pura Sari Tegal, tidak dapat dipisahkan dengan dua nama tokoh sejarah, yaitu Kyai Tegeh Kori dan Danghyang Nirartha. Kyai Tegeh Kori adalah penguasa pertama Badung. Kerajaan Badung didirikan oleh Kyai Tegeh Kori sekitar abad ke-15. Kyai Tegeh Kori yang berasal dari Puri Buwahan Tabanan dari dinasti Arya Kenceng. Puri Tegal Kyai Tegeh Kori berlokasi di bagian Timur Jalan Imam Bonjol sekarang, yaitu dari batas utara simpang empat Banjar Tegal Gede sampai ke batas selatan simpang empat Pura Majapahit. Dinasti Arya Tegeh Kori cukup lama berkuasa, yaitu selama sekitar 3,5 abad, sebelum akhir jatuh dan lenyap pada tahun 1750 M, akibat konflik internal di kerajaan. Selama Kyai Tegeh Kori berkuasa, tampaknya Kerajaan Badung masih dibawah pengaruh Kerajaan Mengwi yang sedang mengalami kejayaan dengan laskarnya yang kuat dan menguasai sepenuhnya wilayah Kaba-Kaba sampai Blambangan.
Kyai Tegeh Kori berkuasa di Badung secara turun tumurun melalui beberapa generasi. Tidak diketahui pada generasi keberapa raja mendirikan Pura Sari, Pura Batur, Pura Mayun, dan Pura Majapahit. Dan juga tidak ketahui pada generasi keberapa, Raja mendatangkan dan menempatkan bagawanta (brahmana) kerajaan yang berasal dari Sibang Srijati (sekarang Desa Sibang Gede Kecamatan Abiansemal), mengingat hubungan Kerajaan Mengwi dan Kerajaan Badung sangat baik. Desa Sibang Srijati pada masa itu termasuk dalam kekuasaaan Kerajaan Mengwi dengan Punggawanya beristana  di Puri Sibang Srijati. Yang jelas Pura Sari sudah ada sebelum kedatangan Brahmana Keniten dari Sibang.
Jauh sebelum Penguasa Badung menempatkan Brahmana di lingkungan kerajaan, Puri Tegal sempat dikunjungi oleh Danghyang Nirartha atau di Bali dijuluki Ida Pedanda Sakti Bawu Rawuh. Raja mendengar kabar bahwa ada seorang pendeta yang sedang melakukan tirtayatra, dan sedang berada di daerah Tuban (Kuta). Raja mengirim utusan kerajaan agar menjemput Ida Pedanda. Utusan bertemu Ida Pedanda dan mendaulat untuk berkunjung ke Puri Tegal. Sebelum sampai di Puri Tegal, perjalanan terganggu akibat adanya air bah (banjir) pada sungai di Dusun Buagan. Masyarakat di Dusun Buagan percaya akan kesiddhian Ida Pedanda dan memohon agar bencana banjir dapat segera diatasi. Ida Pedanda menancapkan tongkatnya yang di-rajah Sanghyang Klar, seperti yang dituturkan dalam Kitab Dwijendra Tattwa. Bencana banjir dapat diatasi, perjalanan dilanjutkan hingga sampai di Puri Tegal.
Tidak disebutkan, entah berapa lama Ida Pedanda tinggal di Puri Tegal, yang jelas selama itu Kyai Tegeh Kori menggunakan kesempatan untuk berguru kepada beliau, sebelum melanjutkan perjalanan rangkaian tirtayatra ke Desa Mas. Selama berada di Kediaman Kyai Tegeh Kori, diyakini Ida Pedanda melaksanakan rutinitas Nyurya Sewana di Pura Sari. Hal ini diperkuat dengan adanya Pelinggih Padmasana sebagai ciri adanya pemujaan terhadap Siwa. Sementara  Pelinggih Meru Tumpang Tiga menurut Informasi turun tumurun khususnya pada warga Geriya Jero Agung, adalah untuk memuja Ida Bhatara yang moksa di Pura Luwur Uluwatu.
Pada tahun 1750 M terjadi pergeseran kekuasaan di Badung. Tahun itu merupakan akhir masa kekuasaan Dinasti Tegeh Kori. Ada dua kubu yang berseteru, kubu yang pro Kerajaan Mengwi dan kubu yang menginginkan Kerajaan Badung berdaulat sepenuhnya. Raja Badung masih segan dan kuatir terhadap kekuatan tentara Kerajaan Mengwi yang sudah terbukti punya reputasi dalam berbagai arena peperangan. Itu sebabnya, putri raja Gst Ayu Mimba yang sedianya dijanjikan untuk dikawinkan dengan keluarga di Kerajaan Badung, tiba-tiba secara diam-diam dilarikan ke Kerajaan Mengwi untuk dikawinkan dengan Penguasa Mengwi, atas permintaan pihak Mengwi. Tindakan ini menimbulkan kemarahan di dalam keluarga Kerajaan Badung, dipandang sebagai penghinaan dan melecehkan harga diri kerajaan. Konflik tidak dapat dihindarkan, kubu Tegeh Kori kalah, bantuan yang diharapkan dari Kerajaan Mengwi ternyata dalam jumlah yang sedikit, hanya untuk melindungi raja dalam menuju tempat pengungsian. Keluarga Tegeh Kori cerai berai mencari tempat pengungsian di berbagai daerah, seperti Tabanan, Jembrana, Gianyar, dan Buleleng. Termasuk diantaranya ke daerah Gianyar, yang sekarang dikenal dengan nama Tegal Tamu, yang berarti ‘ada tamu dari Tegal’. Kemudian warih ini membangun istana di sana yang disebut Puri Tegal Tamu. Keluarga Tegeh Kori yang masih menetap di Tegal, yang tidak mengungsi keluar harus ngandap, dengan nyineb wangsa.
Sepeninggal Arya Tegeh Kori, Puri Tegal dan lingkungan sekitar puri menjadi kosong. Karena penguasa baru Badung tidak menggunakan Puri Tegal sebagai pusat dalam mengendalikan pemerintahan. Kekosongan ini kemudian diisi atau ditempati oleh Kyai Lanang Pahang dari Dinasti Jambe. Semenjak itu Puri Tegal lebih dikenal dengan nama Jero Agung. Demikian juga lokasi geriya yang berada dalam areal Jero Agung lebih dikenal dengan nama Geriya Jero Agung.
Kyai Lanang Pahang yang menempati daerah Jero Agung, mempunyai kewajiban untuk memelihara pura-pura peninggalan Tegeh Kori. Tidak diketahui dalam generasi keberapa dari Kyai Lanang Pahang menyerahkan tanggung-jawab pemeliharaan Pura Sari kepada keluarga Geriya Jero Agung.
Di Geriya Jero Agung sendiri terjadi perkembangan lain. Brahamana yang didatangkan dari Sibang tersebut dalam beberapa generasi tidak lagi menurunkan parati sentana (putung). Kemudian, sekitar awal abad ke 19 Ida Gede Kembar dari Geriya Gede Tegal kawin ke Geriya Jero Agung sebagai pradana, hingga dapat melanjutkan dan menurunkan parati santana. Hingga sekarang keluarga Geriya Jero Agung menerima dan memelihara Pura Sari, yang mana pujawali dilaksanakan setiap Tahun Sasih Kasa.
Pura sari dalam bentuknya sekarang merupakan hasil dari penambahan beberapa bangunan. Sebelum tahun 1985, komplek pura hanya terdiri dari: Pelinggih Padmasana, Pelinggih Meru, Gunung Agung, Apit Tengen, Apit Kiwa, Pregina, Bale Pegat, Gedong Majapahit, dan Sember. Sekarang ditambah dengan Bale Pias, Gedong, Bale Gong, Kori Agung, Bale Kulkul, Pelinggih Ratu Nyoman Sakti Pengadang-ngadang, Jineng, Pesandekan dan Bale Pemereman Ida Pedanda.

Kamis, 27 Maret 2014

TAKUT AKAN KEMATIAN



TAKUT AKAN KEMATIAN



LATAR BELAKANG

Manusia selalu berusaha untuk bebas dari rasa takut. ketakutan manusia beraneka ragam, seperti takut kehilangan uang, takut kehilangan barang, takut kehilangan kedudukan, takut kehilangan muka, takut kehilangan harga diri, takut usia tua dan sebagainya. Namun, dari sejumlah ketakutan manusia tersebut masih ada hal yang paling ditakuti, yaitu kematian. Kematian inilah puncaknya rasa takut manusia (Mintargo, 2005:147).
Menurut Hadi (2000:164), rasa takut terutama sangat menonjol dalam menghadapi kematian. Orang tidak akan tenang menghadapi kematian, baik kematian orang yang dicintai maupun kematiannya sendiri. Kematian begitu riil dan nyata di dalam kehidupan manusia, akan tetapi tetap saja menimbulkan rasa takut dan kesedihan yang mendalam. Kematian merupakan kenyataan yang pasti dan merupakan bagian integral dari kehidupan manusia. Namun, kenyataan yang tidak terhindarkan ini, tidak mengakibatkan bahwa kematian merupakan topik yang menarik untuk dibicarakan, diulas, dan direnungkan. Kematian justru merupakan hal yang ingin dihindari dan disingkirkan dari kesadaran kehidupan manusia. Meskipun kematian bersifat imanen dan natural bagi manusia, tidak berarti bahwa kematian merupakan gejala yang bisa dipahami dan diterangkan secara gamblang.
Setiap manusia mengakhiri hidupnya dengan kematian, dan hal itu merupakan sebuah pengalaman. Karena manusia sadar terhadap kematiannya, maka kematian menimbulkan persoalan bagi manusia. Kematian manusia menimbulkan problema tersendiri. Manusia merasa takut dan bingung dalam menghadapi kematian. Sikap manusia terhadap kematian beraneka-ragam, ada yang bersifat budaya, ada yang bersifat keagamaan dan sebagainya. Bagi manusia yang masih hidup, kematian merupakan data empiris (Soelaeman, 2001:109).
Ketakutan terhadap kematian membuat topik ini tidak menarik untuk dibicarakan orang. Menurut Moody (2003:22), bahwa sebagian besar orang sangat sulit untuk diajak membicarakan tentang kematian. Setidaknya ada 2 (dua) alasan, yaitu alasan psikologis dan kebudayaan. Secara psikologis, membicarakan masalah kematian menghadapkan seseorang secara tidak langsung seakan-akan menghadapi kematiannya sendiri. Dengan membicarakannya  pada orang lain, membuat seseorang membayangkan dalam pikirannya, berada dalam situasi berhadapan dengan kematian. Jadi orang lebih suka menghindar dari topik pembicaraan tentang kematian. Alasan kedua, orang sukar membicarakan kematian karena budayanya. Kematian adalah masalah yang rumit. Sebagian besar bahasa manusia didapat dari hubungan pengalaman sensasi fisiknya. Sedangkan kematian sebagai sesuatu di luar jangkauan pengalaman sadar manusia. Orang yang sudah mati tidak bisa dihubungi, tidak dapat berkolerasi sehingga tidak didapat penjelasan yang sebenarnya.
Senada dengan Moody, menurut Lake (1992:1), kebanyakan orang tidak mau memikirkan kematian, meskipun sadar bahwa cepat atau lambat saatnya akan tiba. Meskipun manusia harus menerima kenyataan bahwa hidup akan berakhir, manusia tidak tahu cara kematian itu akan terjadi. Manusia sadar tidak akan dapat memilih macam kematiannya. Padahal kematian itu dapat terjadi secara kejam, sia-sia dan tanpa tujuan. Kenyataan ini paling susah dihadapi. Sebab itu manusia cenderung sedapat mungkin menunda atau menghindari pemikiran tentang kematian.
Gambaran tentang kematian berbeda-beda bagi setiap orang. Selain ketakutan, kesedihan, ada juga yang pasrah dengan menunggu waktunya saja. Gambaran ini seolah-olah tidak menjadi bagian dari perbincangan sehari-hari, tetapi diberi jarak dengan menyerahkan urusan itu kepada Tuhan. Sampai pada zaman sekarang ini, masih sulit membicarakan kematian di kalangan orang sakit atau orang tua bila tidak mau dikatakan kurang ajar.
Kalau seseorang akan berlibur dengan mengadakan perjalanan ke luar negeri misalnya, maka jauh-jauh hari sebelumnya sudah menyiapkan diri mulai dari biaya, pakaian, waktu, tempat-tempat yang akan dikunjungi, sampai mempelajari adat-istiadat setempat. Persiapan pasti dilakukan meskipun hanya untuk perjalanan waktu yang singkat, tetapi untuk ‘perjalanan’ pindah menuju alam kematian orang tidak tertarik melakukan persiapan. Kematian begitu ditakuti, berusaha  dihindari sehingga tidak tertarik untuk memiliki pengetahuan tentang alam kematian.
Ketakutan akan kematian menjadi topik yang menarik bagi para filsuf berusaha memberi solusi, menurut pandangan masing-masing. Pendapat para filsuf ini tidak lepas dari kritik oleh filsuf lainnya. Sutrisno (1993:149-150) merinci para filsuf tersebut. Mereka adalah: Epicurus, Seneca, Agustinus, Spinoza dan lain sebagainya. Spinoza, misalnya memberi solusi, bahwa manusia bisa keluar dari ketakutan akan mati dengan cara tidak terlalu memikirkannya, namun lebih memikirkan kehidupan. Hampir mirip dengan keseharian manusia, di mana mengerti bahwa matahari itu terus bersinar tanpa terlalu memikirkannya. Kritik terhadap solusi di atas adalah: bahwa ketakutan akan kematian bukan hanya ketakutan rasional yang bisa dipecahkan secara rasional tetapi menyangkut soal hati dan rasa.
Dalam upaya menghilangkan ketakutan dalam menghadapi kematian, para filsuf juga berusaha mencari makna kematian itu sendiri. Di sini para filsuf terbagi dua dalam memberikan makna dan kemungkinan akhir kehidupan manusia, yaitu golongan imanentis dan para transendentalis. Para imanentis beranggapan bahwa makna serta kemungkinan akhir kehidupan manusia, terbatas pada dunia ini. Menurut mereka, makna serta kemungkinan akhir itu bisa ditemukan di dalam dunia ini, antara saat lahir dan saat mati. Sedangkan para transendentalis, seperti Wittgenstein berpendapat bahwa makna kehidupan terdapat di luar kehidupan. Kehidupan duniawi ini harus dilampui (ditransendensi) untuk memperoleh jawaban yang memadai (Weij, 1988:174).
Easwaran (2000:70) menyatakan, bahwa dalam hidup ini tidak ada yang lebih mendesak daripada belajar menghadapi kematian. Jika saja manusia diberi hidup seribu tahun, tentu pelajaran ini tidak mendesak. Seratus tahun digunakan untuk bersenang-senang, seratus tahun lagi untuk mengejar kekayaan, seratus tahun kemudian untuk mencari kekuasaan,  dan seterusnya, sisanya seratus tahun terakhir baru mengalihkan perhatian belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian.
Tetapi sayangnya, usia manusia tidaklah sedemikian panjang. Waktu untuk  hidup manusia sangatlah pendek. Manusia punya waktu yang sangat singkat. Waktu hidup ini pun dikurangi waktu tidur, waktu sakit, dan waktu lainnya, sehingga semakin sedikitlah waktu manusia untuk belajar mempersiapkan diri menghadapi kematian.
Dalai Lama (dalam Krishna, 2002:vii) menyatakan, bahwa sebagaimana bayi yang baru lahir membutuhkan bantuan dari mereka yang sudah dewasa, begitu pula mereka yang sedang menghadapi saat-saat menjelang kematian dan tidak tahu menahu tentang proses kematian amat membutuhkan bantuan dari mereka yang mengetahuinya. Tidak kalah penting upaya untuk membuat orang lain ikut menyadari proses kematian, sehingga mereka pun terbebas dari rasa takut.
Pada saat menjelang kematian, pikiran terakhir dari seorang manusia sangat menentukan keberadaannya setelah kematian. Sivananda (2005a:58) menyatakan, bahwa pikiran terakhir dari seorang yang suka menyeleweng akan tertuju pada perempuan pasangannya itu. Pikiran terakhir dari seorang yang kecanduan minum-minuman keras akan tertuju pada minuman keras kesukaannya. Pikiran terakhir dari seorang rentenir tamak akan tertuju pada uangnya. Pikiran terakhir dari seorang prajurit akan tertuju pada waktu menembak musuh-musuhnya. Pikiran terakhir dari seorang ibu yang sangat sayang terhadap putranya tunggalnya akan tertuju pada putranya itu.

------------------------------



DEFINISI KEMATIAN

Sebagaimana telah diketahui, sebagian besar umat manusia takut menghadapi kematian, seperti anak-anak takut menghadapi kegelapan. Takut menghadapi kematian inilah yang mendorong manusia untuk mencari tahu, apa kira kira yang terbentang di hadapan manusia setelah mati. Menurut Darmada (2000:i) sejak diterbitkannya buku On Death and Dying yang ditulis oleh Elizabet Kubler-Ross tahun 1969, orang mulai intensif mencari tahu tentang kematian dan hidup setelah mati.
Kematian merupakan misteri bagi manusia yang sampai hari ini belum terpecahkan. Walaupun demikian, usaha manusia untuk terus mencari kebenaran di balik misteri kematian telah berlangsung sejak jaman prasejarah, dan akan berlangsung terus, sampai manusia benar-benar dapat menguak rahasia Yang Mahakuasa, atau hingga manusia punah dari dunia.
Dalam ilmu pengetahuan, usaha penelusuran misteri ini dilakukan dengan cara sistematis dan mengikuti metode-metode tertentu yang baku, agar hasilnya sahih menurut standar ilmu pengetahuan. Dalam hal kematian, karena belum ada metode atau teknologi yang secara empiris bisa memasuki ‘alam kematian’, maka para ilmuwan mencoba meneliti mereka yang mempunyai ‘pengalaman dekat kematian’ (near death experiences), yaitu keadaan hampir mati namun dapat kembali ke kehidupan normal. Tetapi bagaimanana pun juga perlu diperhatikan bahwa ‘pengalaman dekat kematian’ atau mati suri (near death experiences) tidaklah identik dengan pengalaman mati yang sesungguhnya. Di sinilah letak pro dan kontra tentang penelitian terhadap ‘pengalaman dekat kematian’.
Kematian itu adalah sebuah misteri, bukan sesuatu hal yang ‘tidak dapat diketahui’. Sesuatu ‘tidak dapat diketahui’ adalah hal tentang objek yang tidak dapat dipikirkan tanpa suatu kontradiksi. Sedangkan ‘misteri’ adalah hal tentang objek yang secara positif dan deskriftif dapat dipikirkan, di mana objeknya memuat kompleksitas pemahaman yang tidak terbatas, sehingga usaha atau upaya pengungkapannya tidak kunjung selesai.
Dengan demikian kematian sebagai sebuah misteri, bukan sebagai sesuatu hal ‘yang tidak dapat diketahui’. Untuk itu manusia harus menempuh jalan yang sangat panjang untuk dapat mengetahuinya. Mungkin definisi atau pengertian yang utuh tentang kematian tidak akan diperoleh, namun setidak-tidaknya didapat suatu jawaban yang memadai pada tahapan tertentu.
Status misteri tentang kematian justru tercipta karena tabir di balik kematian sampai saat ini, tidak atau belum ada yang mampu mengungkapkannya. Dapat dikatakan, bahwa tidak ada teori umum yang bisa menjelaskan tentang keadaan dan kedudukan orang yang mengalami kematian kecuali dalam dogma-dogma agama yang disampaikan orang-orang suci dengan landasan keyakinan.
Sampai saat ini manusia tidak dapat memberi jawaban atau keterangan yang lengkap tentang kematian, sebab belum pernah ada yang bisa kembali dari alam kematian. Dalam artian, bukan mati sementara atau mati suri yang dapat kembali ke kehidupan normal. Mati suri bukan kematian sesungguhnya, sebab kematian yang sebenarnya manusia tidak dapat hidup lagi. Semua naskah, kitab, dan buku-buku lainnya dari dahulu sampai sekarang ditulis ketika manusia masih hidup dalam arti belum pernah mengalami kematian.

Menurut Biologi
Kematian dijalani secara pasif oleh manusia, karena manusia yang terdiri dari banyak sel yang hidup dan kompleks. Sesudah jangka waktu tertentu tidak mampu memproduksi yang baru lagi, untuk menggantikan sel-sel yang mati. Proses kematian sel-sel berada di luar jangkauan kemampuan manusia dan umumnya sumber kematian lebih banyak datang dari dalam tubuh dari pada di luar tubuh. Peristiwa pembunuhan, hukuman mati, musibah, kecelakaan atau serangan penyakit hanyalah kejadian aksidental yang mempercepat proses kematian (Subagya, 2004:75).

Menurut llmu Kedokteran
Sebenarnya istilah ‘mati’ tidak saja menggambarkan suatu kondisi, tetapi juga menggambarkan suatu proses. Pengertian bahwa mati adalah suatu kondisi, baru terjadi kalau mati sebagai proses sudah berakhir dengan sempurna. Namun kapan detik akhir dari proses mati (saat kematian) itu, sulit ditentukan. Karena itu diagnosis mati pada hakikatnya merupakan penilaian apakah seseorang sudah dalam kondisi mati atau belum. Sudah barang tentu terdapat kesenjangan antara detik akhir dari proses mati itu dengan saat didiagnosis. Jika misalnya pada pk. 10.00 pagi seorang pasien dinyatakan mati, maka sebetulnya pasien tersebut sudah mati sebelum waktu itu (Gunawan, 1992:47).
Menurut Gunawan (1992:46), secara kronologis perubahan definisi ‘mati’ yang diusulkan oleh para ahli kedokteran adalah.
a.       Permanent cessation of life.
b.      Permanent cessation of heart beating and respiration.
c.       Permanent cessation of brain function (brain death).
d.      Permanent cessation of brain stem function (brain stem death).

Dengan banyaknya definisi mati itu, kesan yang tidak terelakkan adalah bahwa seolah-olah mati dari waktu ke waktu selalu mengalami perubahan. Padahal proses mati manusia sejak manusia pertama hingga kini tidak pernah berubah, maka sewajarnya kalau definisi mati pun tidak berubah.
Pada tanggal 23 Maret 1985, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bersama dengan Perhimpunan Kedokteran Gawat Darurat Indonesia (PKGDI), menyelenggarakan sebuah lokakarya di Jakarta yang bertujuan merumuskan batasan (kriteria) tentang mati, yang sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran serta situasi dan kondisi masyarakat Indonesia.
Lokakarya menetapkan kriteria mati yang kemudian dituangkan dalam Pernyataan IDI Tentang Mati. Dalam pernyataan itu antara lain dinyatakan.

Oleh karena itu, setelah mendengarkan pertimbangan dari para ahli kedokteran, agama, hukum, dan sosiologi. IDI berpendapat bahwa manusia dinyatakan mati jika batang otaknya tidak berfungsi lagi ….” (Kartono, 1992:13).

Dasar untuk menetapkan bahwa batang otak seseorang sudah tidak berfungsi lagi adalah.
a.         Pasien tidak lagi bereaksi (unrecceptive and responsive) terhadap stimulus dari luar, termasuk stimulus yang sangat menyakitkan.
b.        Tidak ada tanda-tanda terjadinya pernapasan spontan paling sedikit selama satu jam.
c.         Tidak ada refleks, dan
d.        Elektroensefalogram (EEG)-nya datar

Menurut Ilmu Sosial-Budaya
Pengertian mati dari sudut ilmu kedokteran seperti di atas, hanya menjelaskan kapan seseorang dapat dinyatakan mati, terlepas dari bangaimana sebuah lembaga menetapkan sah tidaknya suatu kematian. Dengan pengertian di atas, kematian akhirnya hanya dipahami sebagai suatu keadaan, di mana seseorang tidak dapat hidup lagi. Pengertian ini belum menjawab makna kematian itu sendiri.
Dari sudut pandang ilmu sosial budaya, menurut Soelaeman (2001:109), kematian adalah terhentinya budi daya manusia secara total, juga merupakan batas akhir seseorang dalam interaksi sosialnya terhadap lingkungannya. Peristiwa kematian merupakan fenomena esensial dan universal dalam kehidupan manusia, tetapi tidak serta merta dapat dipandang dan bisa diterima oleh setiap orang dengan reaksi ekspresi yang sama.
Berbagai kebudayaan memiliki konstruksi berlainan dalam memaknai kematian. Ketakutan semenjak gejala kematian menghampiri seperti sakit sampai berakhirnya ritual-ritual yang dilaksanakan, merefleksikan gagasan mengenai konstruksi sosial dari fenomena kematian itu. Menurut Subagya (2004:7) kematian menjadi paradok kebudayaan, karena hanya orang-orang yang masih hidup, seperti ahli waris, kenalan, pengikut, atau warga komunitasnya yang bisa memperbincangkan.
Mati adalah salah satu pengalaman yang dialami manusia, yaitu pengalaman terakhir, sehingga menjadi batas akhir manusia dalam interaksi sosialnya. Meski demikian berbagai kebudayaan memandang fenomena kematian bukan sebagai titik lenyap kehidupan.
Kematian tidaklah sekedar menciptakan persoalan berkenaan dengan upacara ritual terhadap jenasah semata-mata. Bagi orang-orang dekat yang ditinggalkan mengalami perasaan yang terbentuk oleh putusnya hubungan sosial dan emosional akibat peristiwa kematian. Kegetiran, duka cita, perkabungan, kepasrahan dan ketakutan dalam menghadapi kematian serta ritual yang dilaksanakan tidak terlepas dari proses sosial budaya.
Tidaklah dapat dikatakan bahwa kematian manusia sama dengan kematian hewan atau tumbuhan. Seperti yang dikatakan oleh Drijarkara (1994:18), karena kejasmanian manusia itu adalah jasmani yang dirohanikan. Atau juga dalam jasmani itu rohlah yang menjasmani. Oleh karena itu, daging manusia tidak dapat disamakan dengan daging mahluk lain. Darah manusia tidak sama dengan darah mahluk lain. Pancaindera manusia juga tidak sama dengan pancaindera mahluk lain. Seluruh kejasmanian manusia dalam segala-galanya, kesemuanya itu, jika dilihat dalam kedudukannya dalam keseluruhan manusia.
Kematian manusia harus diterangkan sebagai peristiwa manusiawi secara penuh dan formal. Bagi hewan dan tumbuhan kematiannya hanya  merupakan kematian tersembunyi, atau hanya real dalam ketakutan buta dan instingif, tetapi manusia sadar bahwa ia akan meninggal dengan tidak terelakkan. Keadaan ini harus diperhitungkan dan diekplisitkan (Bakker, 1994:292).

Menurut Filsafat
Dari sudut pandang filsafat, pengertian tentang kematian dapat disimak antara lain menurut Heidegger (dalam Sutrisno, 1993:151), mati adalah satu-satunya tindakan eksistensial manusia yang harus dijalaninya sendiri tanpa seorang pun bisa membantu. Setiap manusia akan mati sendiri. Kematian merupakan peristiwa yang membayang-bayangi eksistensi manusia. Eksistensi manusia terancam berakhir oleh kematian. Oleh sebab itu eksistensi manusia tidak lain adalah ‘ada menuju kematian’ atau Seinzum Tode atau Being –toward.
Kematian justru mampu menjadikan manusia sebagai dirinya sendiri yang solid, menjadi diri sendiri yang otentik. Hal ini dapat tercapai kalau manusia menerima kematian sebagai suatu fakta yang tidak terpisahkan dari eksistensinya. Dengan menerima kematian, manusia terpanggil untuk melepaskan diri dari kuasa atau kontrol orang lain, sehingga muatan eksistensinya diisi oleh dirinya sendiri (Heiddeger via Abidin, 2002:13).
Sartre (dalam Hadi, 2000:176), menolak pandangan Heidegger yang menyatakan bahwa hidup adalah persiapan menuju kematian. Menurut Sartre, kematian adalah melulu kenyataan yang menimpa manusia tanpa kompromi, sehingga manusia tidak pernah mampu memahami dan mengontrolnya. Kematian merupakan peristiwa yang datang tanpa waktu yang pasti dan dengan kejam menggagalkan usaha manusia untuk mencapai dan mewujudkan kemungkinan-kemungkinannya.
Menurut Jaspers, kematian adalah ‘situasi perbatasan’ di dalam pengalaman yang menakutkan dari kenyataan perjuangan, penderitaan dan dosa, yang tidak dapat dihindari. Selanjutnya dikatakan, manusia dapat bertahan di dalam situasi-situasi perbatasan, apabila memiliki iman filosofis. Iman filosofis bukanlah iman yang diterima dari berkat suatu pewahyuan. Bagi iman ini, satu-satunya yang pasti adalah bahwa ada yang transenden, meski tidak dapat didefinisikan apa itu (Hadi, 2000:177).

Tesis (2007)
(Ida Bagus Wirahaji, ST., S.Ag., M.Si., MT)

---------------------------------------



DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Zainal. 2002. Analsis Eksistensial – Untuk Psikologi dan Psikiatri. Bandung: Refika Aditama.
Bakker, Anton. 1994. Pustaka Filsafat – Antropologi Metafisik. Yogyakarta: Kanisisus.
Bertens, K. 1980. Memperkenalkan Psikoanalisa – Lima Ceramah. Jakarta: Gramedia.
Darmada, Henricus. 2000. Cahaya Dalam Kegelapan – Pengalaman Kematian Pada Anak-Anak. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Drijarkara S.J., N. 1994. Pustaka Filsafat: Filsafat Manusia. Yogyakarta: Kanisius.
Easwaran, Eknath. 2000. The Undiscovered Country – Menyelami Misteri Kematian. Alih Bahasa: Yowita Hardiwary. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Hadi, P. Hardono. 2000. Jati Diri Manusia Berdasarkan Filsafat Organisme Whitehead. Yogyakarta: Kanisius.
Kartono, Mohamad. 1992. Teknologi Kedokteran Dan Tantangannya Terhadap Bioetika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Kubler-Ross, Elisabeth. 1998. On Death And Dying – Kematian Sebagai Bagian Kehidupan. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.
Mintargo, Bambang S. 2005. Makna Di Balik Gejala – Memahami hakikat Kehidupan. Jakarta: CED Institute.
Moody Jr., Raymond A. 2003. Hidup Sesudah Mati – Penyeldikan Tentang Suatu Gejala Kelangsungan Hidup Setelah Kematian. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Schultz, Duane. 2001. Psikologi Pertumbuhan – Model-Model Kepribadian Sehat. Penerjemah: Yustinus. Yogyakarta: Kanisius.
Schwartz, Morrie. 1996. Cahaya di Ujung Senja – Menyelami Kearifan Tentang Kehidupan dan Kematian. Bandung: Kaifa.
Sivananda, Sri Svami. 1998. Japa Yoga. Alih Bahasa: I Made Aripta Wibawa. Surabaya: Pàramita.
Soeboer, Rubiana. 2005. Mati Suri – Kemanakah Kita Setelah Mati. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.
Soelaeman, M. Munandar. 2001. Ilmu Budaya Dasar – Suatu Pengantar. Bandung: Refika Aditama.
Subagya, Y. Tri. 2004. Menemui Ajal – Etnografi Jawa Tentang Kematian. Yogyakarta: Kepel Press.
Sutrisno, FX. Mudji. 1993. Manusia Dalam Pijar-Pijar Kekayaan Dimensinya. Yogyakarta: Kanisius.
Vaswani, J.P. 2004. Life After Death. Penerjemah: Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Weij, P.A. Van der. 1988. Filsuf-Filsuf Besar Tentang Manusia. Diterjemahkan oleh: K. Bertens. Jakarta: Gramedia.
Zoetmulder, P.I. 2004. Kamus Jawa Kuna – Indonesia. Penerjemah: Darusuprapta dan Sumarti Suprayitna. Jakarta: Gramedia.
Pekan XII. 2003. Makna Menyambut Kematian.
            http:/www.hkbu.edu.hk/~ppp/pf/PK12.htm
            Diakses 14 Desember 2006.

Kamis, 13 Februari 2014

BABAD BLAMBANGAN



BABAD BLAMBANGAN
PANGERAN TAWANGALUN RAJA TERMASYUR

Silih berganti dinasti menguasai Blambangan. Tapi yang termasyur adalah Dinasti Tawangalun,  yang mendirikan Kota Macanputih berdasarkan petunjuk dari seekor Macanputih. Generasi terakhir Tawangalun adalah Pangeran Menak Jingga atau dikenal juga dengan Raden Mas Sepuh. Mas Sepuh dibunuh di Pantai Seseh, sebelum menghembus napas terakhir, Mas Sepuh mengutuk Raja Mengwi kekuasaannya akan surut. Kutukan ini sungguh sidhi, menggema dalam sejarah Kerajaan Mengwi sampai akhir abad-19 dan menandai lenyapnya kekuasaan Dinasti Mengwi.

Nama ‘Blambangan’sekarang ternyata melalui proses yang berganti-ganti. Mulai dari nama ‘Lamajang’ (prasasti Mula Malurung), dengan raja Nararya Kirana dibawah kekuasaan Tumapel (1248-1254). Kemudian diperhalus menjadi ‘lumajang’, dengan kata dasar ‘laja’ yang artinya laos (sejenis bumbu). Dalam Prasasti Lamongan (1316) namaya berubah menjadi ‘Marlambangan’ dibawah kekuasaan Banyak Wide. Selanjutnya muncul nama ‘Balumbung’ tertera dalam Kekawin Negara Kertagama karya Mpu Prapanca tahun 1365. Sementara dalam berbaga catatan VOC menyebut Blambangan sebagai ‘Balamboangan’ yang berasal dari ucapan lidah Belanda/Eropa ‘Baliboang’ atau ‘Baliboan’. Menurut Vriesman sebagai Assisten Resident di Banyuwangi tahun 1885, Blambangan dengan kata dasar ‘lambang’ berarti ‘pinggir’, sedangkan dalam bahasa Madura ‘lambang’ berubah menjadi ‘lembang; yang artinya ‘sayap’.
Sebagai wilayah pinggiran Pulau Jawa, Blambangan pernah dikuasai oleh beberapa penguasa, antara lain: Nararya Kirana sebagai raja bawahan dari Raja Wisnu Wardhana dari Tumapel/Singosari (1255-1294 M); Arya Wiraraja/Banyak Wide (1294-1311 M); Mpu Nambi (1311-1316); Bhre Wirabhumi (1361-1406 M); Rajasa Wardana (1447-1478); Kerajaan Penarukan (1528-1601 M); Mas Kryan Raja Kedhawung (1596-1633); Pangeran Singasari/Tanpahuna (1633-1639); Pengeran Mancapura (1691-1697); Prabhu Danureja (1697-1736); Pangeran Menak Jingga (1736-1763); Ki Gusti Ngurah Kaba-Kaba (1764-1767); VOC (1767-1800); Inggris (1811-1816); dan Hindia-Belanda (1816-1942).

Prosesi Mesatya 270 Wanita
Ada sebuah peristiwa yang luar biasa yang terjadi di Blambangan, yaitu pembakaran jenazah Pangeran Tawangalun yang meninggal 18 September 1691. Menurut catatan seorang aparat VOC Valentijn, Dua puluh lima hari setelah meninggal, yaitu pada tanggal 13 Oktober 1691 dilaksanakan upacara kremasi (ngaben) yang disertai dengan prosesi belapati atau mesatya oleh 270 (Dua Ratus Tujuh Puluh) orang wanita. Wanita-wanita itu adalah istrinya dan pengikut/pendukung fanatiknya menceburkan diri ke dalam kobaran api suci. Wanita pengikut/pendukung fanatik/isterinya seluruhnya ada 400 orang. Dengan demikian tinggal 130 orang yang masih hidup. Kemudian abu Pangeran Tawangalun ditempatkan/dicandikan di hutan Malecutan.
Nama Pangeran Tawangalun – pendiri Kota Macan Putih – memang harum bagi orang Blambangan karena membawa rakyatnya ke dalam kemakmuran dan kesejahteraan. Tahun 1676 Pangeran Tawangalun berhasil membebaskan diri sebagai raja bawahan (vasal) dari kekuasan Kerajaan Mataram.  Karena itu rakyat Blambangan, khususnya masyarakat Banyuwangi masih tetap mengenangnya. Beberapa nama diabadikan sebagai nama  kelembagaan, seperti nama terminal bus di Desa Jubung-Jember, Radio Tawangalun, pemancar di Kota Genteng, nama tempat suci Pura Tawangalun di Pancer – Pesanggaran Banyuwangi.

Blambangan di bawah Kerajaan Mengwi (1736 – 1767).
Wilayah Blambangan berada di bawah kekuasaan Kerajaan Mengwi sejak tahun 1736, dan menempatkan Pangeran Menak Jingga/Pangeran Danuningrat sebagai raja bawahan. Menak Jingga adalah putera Pangeran Danureja dari permaisuri dan menjadi raja terakhir Blambangan yang berdarah Tawangalun. Adiknya Mas Sirna menjabat sebagai patih dengan nama Wong Agung Wilis (gelar Jawa, setara dengan Anak Agung di Bali). Gusti Gede Lanangjaya dari Denpasar diutus oleh Raja Mengwi untuk melantik Pangeran Menak Jingga dan Mas Sirna.
Nordholt H.S, seorang Guru Besar ahli sejarah Asia Tenggara dalam bukunya berjudul The Spell of Power: A History Balinese Politics mengatakan Raja Mengwi yang berkuasa pada waktu itu adalah I Gusti Agung Ngurah Made Agung. Raja Mengwi sangat kuat dan ditakuti banyak orang, namun ia mempunyai masalah tidak mengetahui siapa sebenarnya leluhurnya. Setelah mengundang salah seorang pendeta Brahmana, raja-raja Mengwi selanjutnya menelusuri garis keturunannya ke dalam klan Arya Kepakisan.
Samsubur mencerita selanjutnya, bahwa hubungan Pangeran Menak Jingga dengan patihnya Wong Agung Wilis tidak harmonis. Wong Agung Wilis dicurigai berniat merebut kekuasaan. Itu sebabnya kedudukannya diganti oleh Mas Sutawijaya (putranya sendiri) sebagai patih kiwa dan Mas Sutanegara (kemenakan raja) sebagai patih tengen. Wong Agung Wilis pergi mengembara bertapa ke pesisir pantai selatan, ke gunung-gunung, ke gua-gua yang angker dan mendirikan pesraman di tempat yang sekarang disebut desa Sanggar. Sehingga Wong Agung Wilis terkenal sebagai orang yang sangat keramat dan sakti. Pejuang-pejuang rakyat Blambangan generasi berikutnya dalam melawan VOC dipercaya sebagai titisan Wong Agung Wilis.
Selain itu, Pangeran Menak Jingga juga membunuh Senapati Blambangan yang bernama Rangga Satata, atas hasutan anaknya Mas Sutawijaya. Berita terbunuhnya Rangga Satata sampai ke Raja Mengwi. Raja Mengwi murka kemudian mengirim bala tentara yang dibantu Wong Agung Wilis menyerbu Blambangan. Pengeran Menak Jingga melarikan diri mengungsi ke gunung Gumitir (Merawan), terus ke Senthong (sekarang Bondowoso), Basuki, Banger (sekarang Prabalingga), dan Lumajang. Di Lumajang utusan Wong Agung Wilis bertemu dengan Pangeran Danuningrat, dan berhasil membujuk untuk diajak ke istana Blambangan. Dari istana Blambangan, utusan Raja Mengwi mohon pamit dengan membawa Pangeran Menak Jingga ke Bali. Sampai di Mengwi Pangeran berdarah Tawangalun ini dieksekusi mati.
Pangeran Menak Jingga/Raden Mas Sepuh (dalam Babad Bali disebut Pangeran Blambangan) dibunuh di Pantai Seseh. Eksekusi – atas perintah  Raja Patni I Gusti Ayu Oka – dilakukan oleh I Gusti Agung Kamasan dari Puri Sibang dan Mekel Munggu. Saat sebelum menghembus napas terakhir Pangeran Blambangan mengutuk Kawyapura atau Mangupura (Kerajaan Mengwi) akan mengalami masa-masa surut. Setelah wafat, pangeran Blambangan dibuatkan Meru Tumpang Solas, yang disembah oleh orang-orang di Desa Munggu, Cemagi dan Sibang.

Doyan Perempuan Banyuwangi
Ki Gusti Ngurah Kaba-Kaba bersama adiknya Ki Gusti Ngurah Kutha Bedha diangkat oleh Raja Mengwi sebagai penguasa Blambangan menggantikan Pangeran Menak Jingga. Disebut Kaba-kaba karena berasal dari desa Kaba-Kaba, Kecamatan Kediri, Tabanan. Keduanya setelah  diangkat sebagai Raja dan patih oleh Raja Mengwi, segera berangkat ke Blambangan dengan pasukan berjumlah 300 prajurit, dipimpin oleh Ki Tumbakbayuh dan Ki Gajah Gulingan. Mereka berangkat lewat pantai Seseh sampai di Blambangan disambut oleh para mantri punggawa. Penguasa Bali ini beristana di  Lemah Bang (sekarang Rogojampi, Banyuwangi).
Pada awal masa pemerintahannya  Ki Gusti Ngurah (KGN) Kaba-Kaba telah melanggar pesan dan amanat Raja Mengwi. Pengangangkatan Mantri Ki Mas Anom dan Mas Weka oleh KGN Kaba-Kaba mempunyai pamerih tertentu. KGN Kaba-Kaba ternyata doyan perempuan Banyuwangi. Kedua mantri ini diperintahkan menyediakan gadis-gadis Banyuwangi. Mas Anom merasa sedih, tiap hari, siang-malam hanya wanita saja yang dibicarakan oleh penguasa Bali ini. Mas Anom pun was-was meninggalkan rumahnya, karena isterinya di rumah sering diganggu.
Tidak tanduk KGN Kaba-Kaba bersama patihnya KGN Kutha Bedha benar-benar menyimpang dari misi yang diembannya, yang sebenarnya dibebani misi sangat mulia. Rakyat Blambangan semakin tidak bersimpati atas kekuasaan Kerajaan Mengwi ini, terlebih lagi didengar berita bahwa Pangeran Menak Jingga/Raden Mas Sepuh dibunuh di Pantai Seseh. 
Blambangan di bawah VOC (1767 – 1800)
Kebencian rakyat Blambangan kepada penguasa dari Bali semakin memuncak. Mantri Wedana Mas Anom berbalik haluan. Ia memimpin pasukan Blambangan menyerbu kediaman KGN Kaba-Kaba bersama Patihnya KGN Kutha Bedha. Melihat kekuatannya tidak berimbang, kedua penguasa Bali itu memutuskan melakukan puputan. Ki Mas Anom berhasil memenggal kedua kepala penguasa dari Bali. Sementara istri-istrinya bunuh diri sebagai tanda setia dan mencegah untuk dijadikan istri boyongan/rampasan.
Ki Mas Anom kemudian menyerahkan kedua kepala mantan penguasa dari Bali itu kepada Komandan VOC Letnan Edwin Blangke. Sejak itu kemenangan demi kemenangan VOC mulai tampak. Orang-orang Bali yang melarikan diri dan bersembunyi di hutan-hutan digiring ke markas VOC atau dibunuh. Dengan demikian berakhir sudah kekuasaan Kerajaan Mengwi, selanjutnya Blambangan memasuki babak baru dibawah kekuasaan VOC.
Selanjutnya VOC mengangkat Sutanagara dan Wasengsari sebagai Bupati dan wakilnya. Kedua pemimpin baru Blambangan ini dipaksa memeluk agama Islam oleh Kumpeni untuk menjauhkan para pemimpin dan rakyat Blambangan dari pengaruh laten Bali. Sementara rakyat Blambangan sendiri sangat anti Mataram, karena teringat oleh pengerusakan wilayahnya yang dilakukan oleh bala tentara Sultan Agung, Raja Mataram tersebut.
VOC ternyata kesulitan mencari pejabat bupati yang benar-benar loyal kepada pihaknya. Bupati Sutanagara diberhentikan, Kartanagara diangkat sebagai penggatinya. Kartanagara juga  menjabat sebentar, dia digantikan dengan Ki Mas Rempeg. Masa pemerintahan Ki Mas Rempeg terjadi perlawanan rakyat, yang disebut Perang Bayu. Perang Bayu adalah perangnya rakyat Blambangan yang didukung oleh bala tentara Bali melawan pihak VOC, yaitu Madura dan Mataram. Seorang tentara VOC yang bernama Serma Van Schaar tewas, mayatnya dimasak dan dimakan bareng oleh bala tentara Blambangan. Sedangkan potongan kepalanya ditancapkan pada sebatang kayu, dipertontonkan berkeliling kepada rakyat Blambangan. Berita ini membuat pihak VOC marah besar. VOC membalasnya dengan menangkap dan menenggelamkan orang-orang yang dicurigai melakukan aksi tersebut.
Bupati Blambangan selanjutnya yang diangkat VOC adalah Mas Alit Wiraguna. Atas perintah VOC, Bupati Wiraguna melakukan pengusiran terhadap para pendeta Hindu etnis Bali. Masa pemerintahan Bupati Wiraguna juga tidak luput dari perlawanan sejumlah pejuang rakyat Blambangan yang masih seagama dengan rakyat Bali, meskipun perlawanannya berskala lebih kecil.
VOC dibubarkan tanggal 31 desember 1799 dan diganti oleh Pemerintah Hindia – Belanda, yang menguasai Blambangan sampai 1942. Dalam masa itu Inggris sempat menyela menguasai Blambangan sebentar tahun 1811 – 1816. Dari tahun 1800 – 1942, perlawanan rakyat Blambangan sudah mereda. Pulau Bali juga sudah dikuasai Belanda sejak tahun 1908 melalui Puputan Klungkung.

(Dari Berbagai sumber...)