Label

Rabu, 21 Maret 2012

BABAD BULELENG

-->
BULELENG PADA MASA KEKUASAAN
DINASTI PANJI SAKTI
(1600 – 1780 M)


Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, Raja I Buleleng

            I Gusti Ngurah Panji Sakti adalah salah satu putera dari Dalem Segening Sesuhunan Bali – Lombok VI, yang berkuasa di Swecapura Gelgel tahun 1580 – 1665 M. Ia beribu seorang sahaya, yang bernama Ni Luh Pasek, berasal dari desa Panji, Denbukit. Ketika ia masih dikandung, ibunya diserahkan oleh Dalem kepada Arya Ki Gusti Jelantik Bogol untuk diperisteri, sebagai penghargaan atas jasa-jasa terhadap kerajaan. Tetapi dengan syarat jangan ‘dicampuri’ sebelum anak itu lahir, dan agar dipersaudarakan dengan putera kandung Ki Gusti Jelantik Bogol.
Ki Gusti Ngurah Panji Sakti diperkirakan lahir tahun 1584 M. Masa kecilnya diberi nama Ki Barak Panji. Sejak kecil sudah menunjukkan tanda-tanda kebesaran. Dari kepalanya keluar sinar suci menandakan prabawanya. Hal ini menimbulkan kekuatiran Sri Aji Dalem akan tahta kerajaan. Itulah sebabnya sewaktu Ki Barak Panji berumur sekitar 12 tahun diperintahkan untuk pergi meninggalkan Suwecapura, tinggal di desa asal ibunya, desa Panji, Den Bukit.
Ki Barak Panji berangkat ke desa Panji dengan dibekali pusaka keris Ki Semang, tombak Ki Tunjung Tutur atau Ki Pangkajatatwa. Rombongan perjalanan yang berjumlah 40 orang dipimpin oleh Ki Dumpyung dan Ki Dosot. Ki Barak Panji pamitan di desa Jarantik, kemudian meneruskan ke desa Samprangan, desa Kawisunya (wilayah Bandana), Danau Pabaratan (Beratan), istirahat makan di bukit Watusaga (Batumejan) wilayah Den Bukit. Sewaktu makan ketupat nasi, mereka kekurangan air maka ditancapkanlah tombak Pangkajatatwa, hingga keluar air bersih untuk diminum. Daerah tempat keluarnya air tersebut selanjutnya diberi nama Banyu Anaman atau Toya Ketipat nama lainnya.
Pada sore hari rombongan berada di atas danau Bubuyan (Buyan), tiba-tiba muncul sosok manusia gaib yang kemudian diberi nama Ki Panji Landung. Ki Panji Landung mencegat Ki Barak Panji dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Ki Barak Panji disuruh melihat arah Utara (samudra luas), Timur (gunung Toya Anyar/Tianyar), Barat (gunung Banger), dan arah Selatan. Kelak daerah yang dilihatnya itu menjadi kekuasaannya.
Sesampainya di desa Panji para pengiring kembali ke Suwecapura kecuali Ki Dumpyung dan Ki Dosot yang sangat setia. Penguasa daerah Panji bernama Ki Pungakan Gendis sangat tamak ditakuti rakyat. Dari angkasa Ki Barak Panji mendengar sabda sebagai petunjuk untuk membunuh Ki Pungakan Gendis. Ki Barak Panji naik ke atas pohon Leca, kemudian di bawah dilihat Ki Pungakan Gendis baru pulang dari sabung ayam. Ki Barak Panji turun mencegat seraya mengacungkan keris pusaka Dalem, Ki Semang. Seketika itu Ki Pungakan Gendis meninggal kaku di atas kuda. Penggantinya untuk sementara ditugaskan Ki Bendesa Gendis untuk memerintah desa Gendis.
Ki Barak Panji sempat menolong perahu terdampar di Pantai Penimbangan (dekat Pura Segara Panji sekarang). Pemilik perahu orang Cina bernama Ki Dompu Awwang (San Po Kong) menjanjikan memberi hadiah semua isi perahu kepada yang mampu menarik perahu tersebut. Dengan keris pusaka pemberian Dalem Ki Barak Panji berhasil menyelamatkan perahu itu. Sejak itu Ki Barak Panji menjadi kaya.
Setelah menginjak usia 20 tahun Ki Barak Panji dinobatkan sebagai penguasa desa Panji dengan nama Ki Gusti Ngurah Panji. Berkat karisma dan kewibawaannya, berbondong-bondong orang datang dari lain desa. selanjutnya tinggal di desa Panji. Dari timur: sungai We Nirmala, sampai ujung desa Toya Anyar. Kyayi Alit Manala dari Kubwan Dalem tunduk dan mengabdikan diri. Dari Barat: sungai We Kulwan Kyayi Sasangkadri yang beristana di Tebu Salak tunduk menyerahkan diri. Kekuasaan Ki Gusti Ngurah Panji semakin meluas. Ia memindahkan istana ke desa Sangket, Sukasada. Sejak saat itu bergelar Ki Gusti Ngurah Panji Sakti.
Ki Gusti Ngurah Panji Sakti meminta Ida Pedanda Kumenuh menjadi Bhagawanta. Sebutan di masyarakat Ida Pedanda Sakti Ngurah. Brahmana ini memiliki ilmu yang luhur, yaitu ilmu Pasupati. Sang Pendeta semula dari Ler Adri menetap di desa Tarupinge (Kayu Putih sekarang), kemudian setelah dijadikan pendeta kerajaan, diberi kedudukan di desa Banjar Ambengan, rakyat 3000 orang, sebatas barat sungai Bukbuk. Sang Brahmana sangat ahli membuat keris, hingga dikenal keris buatan Banjar. Ki Gusti Ngurah Panji Sakti juga memberikan Pendeta kediaman yang beri nama Griya Romarsana. Di tempat inilah kedua tokoh ini mengikat janji, mengingat sewaktu di Yawadwipa leluhur mereka bersaudara. Itulah sebabnya daerahnya ini disebut desa Sangket.
Ki Gusti Ngurah Panji Sakti teringat akan anugerah dari Ki Gusti Panji Landung, bahwa ia akan dapat menaklukkan Blambangan. Setelah mendapat alamat dari burung gagak dan petunjuk dari Bhagawanta, ia berangkat bersama laskarnya. Rute perjalanan perahu, melalui Candi Gading, di pinggiran Tirta Arum, selanjutnya menyerang Banger. Terjadi pertempuran yang ramai antara laskar Taruna Gowak Buleleng dengan Laskar Dalem Blambangan. Dalem Blambangan akhirnya wafat ditikam dengan keris Ki Semang, anugerah Dalem Segening. Namun kemenangan laskar Buleleng harus dibayar dengan gugurnya salah seorang puteranya yang bernama I Gusti Ngurah Nyoman Panji Danudresta.
Diceritakan Ki Gusti Ngurah Panji Sakti merintis membangun kota, di petegalan daerah Jenggala Balalak, sebelah utara Sukasada, tempat penduduk menanam buleleng (jagung gembal). Lama kelamaan tempat itu menjadi ramai disebut kota Buleleng. Tempat tinggal baginda raja diberi nama Singaraja. Sebab keberaniannya bagaikan singa. Ia mempunyai gajah bagaikan gajah Airwata. Dibuatkan kandang di sebelah Utara kota, sehingga tempat itu diberi nama Banjar Petak. Tiga orang pemberian raja Solo ditugaskan mengembalakan gajah tersebut. Dua orang tinggal di sebelah Utara desa Petak selanjutnya tempat itu diberi nama Banjar Jawa. Seorang lagi diberi tempat di pesisir Toya Mala (Banyumala). Di antara Banjar Jawa dan Banjar Petak dinamai Bajnar Peguyangan, tempat gajah raja berkubang. Mereka kemudian dipindahkan ke hutan Pengatepan (artinya Pegayaman = Teep), yang sekarang bernama desa Pegayaman, dimaksudkan sebagai benteng penjaga perbatasan di Selatan.
Ki Gusti Ngurah Panji Sakti melebarkan daerah kekuasaannya dengan menyerang Jaranbana (Jemberana). Dengan keris pusaka Ki Semang, ia berhasil menaklukkan daerah Jaranbana. Ia juga mendengar ada seorang puteri cantik adik Ki Gusti Ngurah Made Agung, raja Mengwi. Ia mengirim utusan untuk melamar sang puteri. Raja Mengwi ingin menguji keberanian Raja Buleleng dan kehebatan laskar Ler Adri. Mula-mula lamaran ditolak. Timbul kemarahan Raja Buleleng hingga mengirim laskar untuk menyerang Mengwi. Raja Mengwi mengirim laskar andalan, yaitu laskar Taruna Batan Tunjung dan laskar Taruna Munggu. Pertempuran sempat berlangsung seru, saling tikam, sebelum didamaikan oleh raja Mengwi. Sang Puteri Ki Gusti Ayu Rai akhirnya dinikahkan dengan dengan Raja Buleleng. Sebagai imbalannya, Raja Buleleng memberikan daerah Brambangan (Blambangan) dan Jaranbana (Jemberana).
            Ki Gusti Ngurah Panji Sakti sempat memancing kemarahan raja Bandana (Badung) dengan menyerang daerah Watukaru, merusak parahyangan Agung Batukaru. Tiba-tiba segerombolan lebah menyerang laskar Buleleng. Kejadian ini dirasakan sebagai kutukan dewata. Pengerusakan Parahyangan Agung Batukaru ini membuat raja Bandana berang. Raja Buleleng mengirim laskar ke daerah Badeng (Badung). Kedua belah pihak bertempur di tempat yang sekarang diberi nama Taensiat. Pertempuran dapat dihentikan, kedua belah pihak berdamai. Selanjutnya, Ki Gusti Ngurah Panji Sakti mengambil puteri dari golongan Wesia dari Banjar Ambengan Badung.
Pada tahun 1686 M terjadi peristiwa penggulingan Dalem Di Made oleh Ki Gusti Agung Maruti di Swecapura (Gelgel). Dalem Di Made dilarikan ke desa Guliang Bangli bersama puteranya  I Dewa Jambe beribu dari treh Jambe Pule Badung. Dalem Di Made akhirnya wafat di desa Guliang. Ki Gusti Ngurah Panji Sakti sangat berang, langsung memimpin laskarnya untuk membebaskan Gelgel dari cengkeraman Ki Gusti Agung Maruti. Laskar Buleleng sampai di sebuah desa di sebelah Barat Toya Jinah. Di daerah ini mereka bermarkas, yang membuat masyarakat setempat kesusahan, sehingga daerah itu diberi nama desa Panasan. Laskar Ki Gusti Agung Maruti dapat dipukul mundur, namun demikian Ki Gusti Ngurah Panji Sakti sempat kecewa dengan kerisnya yang berkepala berbentuk babodolan, sehingga setelah sampai di kora Gelgel mengeluarkan sumpah, semua keturunanya kelak tidak boleh memakai keris yang berkepala berbentuk babodolan.

Ki Gusti Ngurah Panji Gede, Raja II Buleleng
            Diceritakan karena usia, Ki Gusti Ngurah Panji Sakti meninggalkan dunia ini mencapai moksah menuju alam Nirbana. Ia memiliki beberapa putera dari beberapa isteri. Dari putri Pungakan Gendis yang bernama I Dewa Ayu Juruh. Melahirkan 3 putra, yaitu: Ki Gusti Ngurah Panji Gede, Ki Gusti Ngurah Panji Made, serta yang bungsu bernama Ki Gusti Ngurah Panji Wala. Dari puteri Banjar Ambengan Badung lahir I Gusti Alit Oka dan I Gusti Made Padang. Beribu dari desa Panji lahir Ki Gusti Wayan Padang dan Ki Gusti Made Banjar. Beribu Ki Gusti Ayu Rai (puteri Raja Mengwi) lahir I Gusti Ayu Panji, diperisteri oleh Ki Gusti Anom dari Kapal Mengwi.
Ki Gusti Ngurah Panji Gede yang menjadi putera mahkota, dinobatkan menjadi Raja Den Bukit berikutnya. akan tetapi ia tetap menempati istana di Puri Sukasada.

Ki Gusti Ngurah Panji Bali, Raja III Buleleng
            Ki Gusti Ngurah Panji Gede mempunyai seorang puteri bernama I Gusti Ayu Jelantik Rawit. Sedangkan adiknya Ki Gusti Ngurah Panji Made berputera I Gusti Ngurah Panji Bali (memperisteri I Gusti Ayu Jelantik Rawit), I Gusti Panji Tahimuk, I Gusti Made Munggu, I Gusti Nyoman Panji, dan yang bungsu bernama I Gusti Oka.
            Setelah Ki Gusti Ngurah Panji Gede dan Ki Gusti Ngurah Panji Made wafat, maka tahta kerajaan, tampuk pemerintahan dipegang oleh Ki Gusti Ngurah Panji Bali, sebagai raja berikutnya. Ia menempati istana di Puri Sukasada. Istana di Singaraja tetap dipelihara sebagai tempat bersenang-senang.

Ki Gusti Ngurah Jelantik, Raja IV Buleleng
            Sepeninggal Ki Gusti Ngurah Panji Bali, Buleleng diperintah secara kolektif oleh 2 Puri. Putera Sulung bernama Ki Gusti Ngurah Panji menempati Puri Sukasada. Adiknya Ki Gusti Ngurah Jelantik menempati Puri Singaraja. Kedua puteranya ini lahir dari dua ibu, sebagai permaisuri.
            Perkembangan selanjutnya, pada tahun 1780 M, kedua raja ini berseteru karena mempercayai fitnah tersebar. Ki Gusti Ngurah Jelantik meminta bantuan Raja Karangamla (Karangasem) Ki Gusti Ngurah Ketut Karangasem. Bantuan diberikan dengan perjanjian, setelah menang nanti Ki Gusti Ngurah Jelantik dinobatkan menjadi raja hanya sebagai boneka. Laskar gabungan Singaraja – Karangasem berhasil mendesak laskar Sukasada. Keris pusaka Ki Semang, anugerah Dalem berhasil direbut. Ki Gusti Ngurah Panji berhasil ditikam hingga gugur dalam pertempuran ini. Tempat terjadinya peristiwa pertempuran 2 saudara ini diberi nama desa Baratan.
            Ki Gusti Ngurah Jelantik dinobatkan menjadi raja Buleleng.  Ki Gusti Nyoman Karangasem dari treh Arya Petandakan, dinobatkan sebagai raja muda. Sama-sama beristana di Puri Singaraja.



BULELENG PADA MASA KEKUASAAN
DINASTI KARANGASEM
(1780 – 1849 M)



Ki Gusti Nyoman Karangasem, Raja V Buleleng
Ki Gusti Nyoman Karangasem dinobatkan menjadi raja berikutnya setelah Ki Gusti Ngurah Jelantik wafat. Mulailah treh Karangsem menguasai Den Bukit. Ada pun putera Ki Gusti Ngurah Jelantik yang bernama Ki Gusti Bagus Jelantik Banjar, diberi kedudukan sebagai patih, menempati istana di Puri Bangkang, sebelah Barat We Mala (Banyumala).

Ki Gusti Agung Made Karangasem Sori, Raja VI Buleleng
            Pemerintahan Ki Gusti Nyoman Karangasem tidak bertahan lama. Ia meninggal karena serangan penyakit. Kedudukannya digantikan oleh Ki Gusti Agung Made Karangasem Sori keturunan Karangasem. Ia hanya berkuasa selama 3 tahun, sebelum mengundurkan diri. Kegagalannya adalah tidak tegas, tidak adil selalu memilih muka, pilih kasih.

Ki Gusti Ngurah Agung, Raja VII Buleleng
            Ki Gusti Ngurah Agung diangkat oleh raja Karangasem sebagai raja Buleleng berikutnya, menggantikan Ki Gusti Agung Made Karangasem Sori. Pada tahun 1808 M raja ini memimpin langsung laskar Buleleng menyerbu komunitas Bugis di Jemberana yang berjumlah 1.200 orang. Penyerbuan ini dilakukan setelah ia minta ijin kepada Raja Bandana I Gusti Ngurah Made Pemecutan. Ia sendiri dibunuh oleh gerombolan bersenjata di desa Pengambengan Jemberana. Sejak itu Jemberana menjadi wilayah kekuasaan Buleleng sampai perang Jagaraga tahun 1849 M.
Pada tahun 1814 M, laskar Buleleng menyerang Banyuwangi namun berhasil dipukul mundur oleh pasukan Inggeris. Sebagai balasan satu eskader AL Inggeris dikirim ke Buleleng untuk memberi pelajaran kepada Raja Buleleng.
Pada tanggal 22 Oktober 1818 M terjadi bencana tanah longsor dan banjir bandang. Salah satu dinding di bukit Danau Buyan dan Danau Tamblingan jebol. Bencana ini menewaskan rakyat dan beberapa pembesar kerajaan. Seperti:  Ki Gusti Bagus Jelantik Banjar patih yang beristana di Puri Bangkang, Ki Gusti Wayan Panji, Ki Gusti Wayan Penebel, serta Ki Gusti Nyoman Penarungan, sama-sama tinggal di Sukasada semuanya tewas terbenam lumpur. Lokasi jebolnya dinding bukit itu sekarang tepat pada ceking Tamblingan, di tepi jalan menuju Munduk di tepi Danau Tamblingan.

           
Ki Gusti Agung Pahang, Raja VIII Buleleng (1829 – 1831 M)
Ki Gusti Agung Pahang (Canang) dari keturunan Karangasem, diangkat sebagai raja Buleleng menggantikan Ki Gusti Ngurah Agung yang wafat di Pengambengan Jemberana. Ia dinobatkan pada tahun 1829 M, memindahkan istana Singaraja ke sebelah Barat jalan. Raja ini seorang tirani, kejam tidak mengindahkan tata susila, takabur, bengis, doyan perempuan, melakukan gamia gamana dan berbagai kejahatan lainnya.
            Raja ini memerintahkan untuk membunuh Ki Gusti Bagus Ksatra, Wayan Rumyani (Pan Apus), dan orang lainnya yang dirahasiakan. Ki Gusti Bagus Ksatra dibunuh karena menghaturkan hidangan ikan Udang. Kata ‘Udang’ diartikan sebagai ‘uudang’ artinya selesai mejadi raja.
Sepak terjang raja menimbulkan kemarahan pada keturunan Panji. Mereka mengatur siasat. Pada suatu malam ada pertunjukkan wayang di halaman puri, dengan dalang Ki Gulyang dari desa Banjar. Mereka (para arya) menunggu keluarnya raja untuk menonton. Namun raja tidak keluar, membuat para arya kepayahan. Pada saat sang dalang memegang wayang Bima dan Tualen, meletus kerusuhan. Sang dalang sempat ditikam dari belakang, namun bisa menyelamatkan diri. Tidak diketahui banyaknya korban yang tewas dan terluka dalam peristiwa malam itu.
Kepala penjaga istana Ketut Karang mengingatkan Ki Gusti Made Singaraja beserta pengikutnya untuk pulang ke rumah masing-masing. Keesokan harinya Raja Buleleng mengadakan persidangan dengan para Manca, namun tidak dihadiri oleh para Arya Buleleng. Disepakati untuk membunuh semua keturunan Arya Buleleng mulai dari kecil sampai yang tua. Gerakan pasukan kerajaan sangat cepat, terlambat diantisipasi oleh para Arya Buleleng sehingga keturunan Panji banyak yang tewas. Arya yang selamat mengungsi keluar daerah Buleleng.
Perkembangan selanjutnya rakyat Buleleng bergerak mengangkat senjata, karena sudah muak dengan pemerintahan raja yang menimbulkan kepanasan, kekeringan, panen sering gagal. Raja melarikan diri ke Karangasem. Namun di Karangasem ia berhasil dibunuh oleh rakyat Karangasem atas perintah Raja Karangasem Ki Gusti Lanang Peguyangan, pada tahun 1831 M.

Ki Gusti Ngurah Made Karangasem, Raja IX Buleleng (1833 – 1846 M)
Ki Gusti Ngurah Made Karangasem pada tahun 1833 M ditunjuk menggantikan raja yang telah tewas. Ia didampingi oleh patih yang terkenal bernama Ki Gusti Ketut Jelantik Gingsir. Sang Patih sangat terkenal keberaniannya menyerang dan menguasai daerah pegunungan, seperti desa Payangan daerah kekuasaan Bangli. Sang Patih berhasil merebut desa-desa yang melepaskan diri karena ulah raja sebelumnya. Ia juga menyatukan para bangsawan keturunan Panji dengan para bangsawan keturunan Karangasem, sehingga kerajaan Buleleng bersatu padu dalam menghadapi agresi Belanda.
Pada bulan Mei 1845 sebuah kapal berbendera Belanda bernama Atut Rahman kandas dan karam di Pantai Karang Anyar daerah kekuasaan Karangasem. Kapal dirampas penduduk, menyebabkan pihak Belanda memprotes keras karena melanggar perjanjian yang sepakati. Peristiwa ini memicu Belanda mengirim utusan ke Buleleng untuk melakukan perundingan tentang penghapusan Hak Tawan Karang. Tanggal 5 Mei 1845 berlabuh kapal perang Belanda yang bernama Bromo, berbobot besar membawa Residen/Komisaris JFT Mayor beserta rombongan. Rombongan terdiri dari 12 orang, 10 orang Belanda, seorang Pangeran Syarif Hamid dan seorang Bupati Basuki. Tanggal 7 Mei syahbandar memberitakan bahwa Raja Ki Gusti Ngurah Made Karangasem bersedia menerima rombongan esok hari. Perundingan tidak segera dilakukan, menunggu kedatangan Adipati Agung Ki Gusti Ketut Jelantik Gingsir.
Pada tanggal 8 Mei 1845 dalam perundingan, Adipati Agung Ki Gusti Ketut Jelantik Gingsir berbicara keras dan lantang. Katanya, “Orang tidak dapat menguasai negeri orang lain hanya dengan sehelai kertas, hal demikian hanya dapat diputuskan oleh ujung keris”. Peristiwa ini mendorong Belanda melakukan tindakan militer.
Pada tanggal 28 Juni 1846, dini hari pasukan ekspedisi Belanda didaratkan di sebuah desa persawahan sesuai petunjuk dari peta yang dibuat Lettu Von Stampa. Sedangkan meriam-meriam Belanda terus menerus memuntahkan peluru ke arah istana. Belanda dibantu oleh pasukan Seleparang. Raja Bangli menyesalkan tidak diikut sertakan menyerang Buleleng. Esok harinya pasukan ekspedisi Belanda menuju kota Singaraja. Ternyata pasukan Bali tidak memberikan perlawanan. Raja, pembesar kerajaan dan laskar Buleleng meninggalkan Singaraja menuju desa Jagaraga. Sesuai instruksi Puri Singaraja dihancurkan. Raja Buleleng dan keluarganya mengundurkan diri desa Jagaraga. Sementara Adipati bersama sahabatnya Ida Bagus Tamu juga mengungsi ke desa Jagaraga.


BULELENG PADA MASA KEKUASAAN
KOLONIAL BELANDA
(1846 – 1942 M)


I Gusti Made Rai, Raja X Buleleng
Setelah Buleleng dapat dikuasai, Belanda menunjuk I Gusti Made Rai sebagai Raja Buleleng berikutnya. Pengangkatan ini disetujui oleh para Manca. I Gusti Made Rai adalah putera dari I Gusti Made Kari, keturunan Panji Sakti Arya Den Bukit. I Gusti Made Kari pernah lari ke daerah Kapal Mengwi ketika diserang oleh Raja Ki Gusti Agung Pahang. I Gusti Made Rai beristana di Puri Sukasada.
Sementara itu pasukan ekspedisi Belanda tetap mengejar para pembesar kerajaan terdahulu ke desa Jagaraga. Dipilihnya desa Jagaraga sebagai benteng, karena salah seorang isteri Adipati Agung berasal dari desa Jagaraga. Pada tanggal 15 April 1849 perang Jagaraga. Pasukan ekspedisi Belanda dipimpin oleh Jendral Michiels, Letkol Van Swieten, dan Letkol De Brauw. Perang sehari penuh hingga larut malam. Esoknya 16 April 1949, benteng Jagaraga jatuh. Raja Buleleng, Karangasem, dan Adipati Ki Gusti Ketut Jelantik Gingsir mengungsi ke desa Batur. Mereka ini dikejar oleh laskar Bangli, hingga mengungsi ke Karangasem. Pada tanggal 20 Mei 1849 pasukan Seleparang pimpinan Ki Gusti Gede Rai dan Adipati Agung Ki Gusti Made Jungutan yang memihak Belanda berhasil membunuh raja Buleleng dan Karangasem. Sementara Adipati Agung Ki Gusti Ketut Jelantik Gingsir dapat dikejar dan dibunuh di desa Seraya.

Ki Gusti Ngurah Ketut Jelantik, Raja XI (Terakhir) Buleleng
Ki Gusti Made Rai berkuasa sekitar 3 tahun lamanya. Ia tidak mempunyai kepribadian dalam memimpin kerajaan. Ia sangat gemar berjudi sabung ayam. Karena kegemaran ini, ia mengundurkan diri melepaskan tahta kerajaan. Ia lalu pergi tinggal di desa Panji diiringi oleh para bebotoh.
Belanda menunjuk Ki Gusti Ngurah Ketut Jelantik sebagai penggantinya, setelah disetujui para Menteri dan Punggawa. Ki Gusti Ketut Jelantik adalah putera dari I Gusti Putu Kari dari Kubutambahan, keturunan Sri Agung Panji Sakti. Sementara ayahnya Ki Gusti Putu Kari diberi kedudukan sebagai Punggawa di Kubutambahan.
Karena keserakahan Belanda untuk berkuasa penuh di daerah Buleleng, maka disebarkan fitnah terhadap Raja Ki Gusti Ngurah Ketut Jelantik. Fitnah ini membuat kedudukan raja sangat terpojok, sehingga Belanda memiliki alasan kuat membuang raja. Ki Gusti Ngurah Ketut Jelantik diberi hukuman selong dibuang ke Padang Sumatera. Setelah itu Belanda tidak lagi menunjukkan seorang raja, hanya Ki Gusti Bagus Jelantik dijadikan sebagai patih untuk memimpin orang-orang Bali di Buleleng.

1 komentar: