Label

Rabu, 21 Maret 2012

BABAD DALEM

-->
JAMAN GELGEL


Sri Aji Kresna Kepakisan Raja I 1352 -  1380 M

            Setelah berhasil menguasai Bali dengan menaklukkan Raja Bali Kuna Sri Astasura Ratna Bumi Banten pada tahun 1343 M, sesuai dengan sumpah Palapa yang didengungkan Rakyan Gajah Mada, maka terjadi kekosongan kekuasaan di Bali. Expedisi Majapahit ini dilakukan pada jaman pemerintahan Tribuwana Tunggadewi yang berkuasa pada periode 1328 – 1350 M. Sering terjadi pemberontakan orang-orang Bali Aga dengan pasukan Majapahit.
Untuk mengatasi hal itu Patih Gajah Mada memutuskan mendudukkan Sri Aji Kresna Kepakisan sebagai Gubernur Majapahit di Bali pada tahun 1352 M. Beristana di Samprangan sebelah Timur Kota Gianyar sekarang. Sehingga pada jamannya disebut Dhalem Samprangan. Beliau adalah putera bungsu dari Brahmana  Mpu Kepakisan. Gelar Mpu sebagai Brahmana berubah menjadi Sri, sebagai penguasa. Beliau didampingi oleh 11 orang Arya dan masing-masing diberikan tempat kedudukan, sbb:
1.      Arya Kutawaringin di Gelgel
2.      Arya kenceng di Buwahan Tabanan
3.      Arya Belog di Kaba-kaba
4.      Arya Dalancang di Kapal
5.      Arya Sentong di Carangsari
6.      Arya Kanuruhan di Tangkas
7.      Arya Punta di Mambal
8.      Arya Jerudeh di Temukti
9.      Arya Tumenggung di Petemon
10. Arya Pemacekan di Bondalem
11. Arya Beleteng di pacung

Sebagai Patih Agung adalah Pengeran Nyuhaya putera dari Arya Kepakisan turunan dari Prabu Airlangga. Selain itu pengangkatan beliau dilengkapi dengan alat-alat kebesaran seperti: Keris Ki Ganja Dungkul dan Tombak Ki Olang Guguh.
Sri Aji Kresna Kepakisan wafat pada tahun 1380 M, meninggalkan putera dan puteri, masing-masing: beribu dari Ki Gusti Ayu Gajah Para berputera: Dhalem Hile, Dhalem Tarukan, Dewa Ayu Swabhawa, Dhalem Ketut Ngulesir. Beribu Ki Gusti Ayu Kutawaringan berputera: I Dewa Tegal Besung.

Sri Agra Kepakisan Raja II

            Setelah Sri Aji Kresna Kepakisan wafat, beliau digantikan oleh puteranya yang sulung, yaitu Dalem Hile bergelar Sri Agra Kepakisan. Masih menempati istana lama. Namun beliau tidak mempunyai kepribadian ketatanegaraan. Beliau lamban, suka lama-lama berhias, membuat para mentri lama menunggu di balai penghadapan. Sementara adiknya Dhalem Tarukan menderita penyakit ingatan atau kurang waras. Akhirnya Kyai Klapodyana / Kyai Kubon Tubuh (Kyai Bendesa Gelgel) mengambil inisiatif mencari Dhelem Ketut Ngulesir.

Dahlem Hile berputera: I Dewa Gedong Artha, I Dewa Nusa, I Dewa Anggungan, I Dewa Pagedangan, dan I Dewa Bangli.

Sri Smara Kepakisan Raja III 1380 – 1460 M

            Dhalem Ketut Ngulesir ditemui di rumah judi di desa Pandak Tabanan, sedang bermain judi. Setelah didaulat dan diyakinkan oleh Kyai Bendesa Gelgel, baru bersedia menggantikan kakaknya. Beliau beristana di kediaman Kyai Bendesa Gelgel, yang kemudian disebut Suweca Linggarsapura. Beliau sendiri karena tampannya bergelar Sri Smara Kepakisan. Sehingga muncul 2 raja dengan dua istana, tetapi hal dapat diterima oleh Dhalem Hile. Dengan demikian dimulailah jaman Gelgel. Patih Agung Pangeran Nyuhaya wafat, digantikan oleh puteranya Kyai Gusti Arya Petandakan.
            Untuk menarik simpati masyarakat Bali, Sri Smara Kepakisan menyelenggara- kan upacara penghormatan terhadap arwah raja-raja Bali dahulu, di Pura Tegeh Kahuripan (Pura Bukit Penulisan), juga mendirikan Pura Dasar Buwana di bekas lokasi Pesraman Mpu Gana di kota Gelgel. Beliau satu-satunya raja Bali yang sempat menghadap ke Majapahit, waktu itu yang menjadi raja adalah Sri Hayam Wuruk (1350 – 1389 M).

Dhalem Batur Enggong Kresna Kepakisan Raja IV 1460 – 1550 M

            Tetap beristana di Gelgel mengalami masa keemasan. Kekuasaannya meliputi: Pasuruan, Blambangan, Lombok dan Sumbawa. Patih Agung Kyai Petandakan Wafat digantikan oleh puteranya Kyai Gusti Arya Batanjeruk. Pada jamannya datang penghulu agama Siwa, yaitu Danghyang Nirartha tahun 1489 M, di Bali diberi julukan Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh. Dhalem juga mengirim utusan ke Keling untuk mendatangkan Danghyang Angsoka ke Bali. Permohonan itu tidak dapat dipenuhi, sebagai gantinya Danghyang Angsoka mengutus puteranya Danghyang Astapaka ke Bali, bersama-sama Danghyang Nirartha memimpin upacara Tawur Agung Ekadasa Rudra di Besakih.
            Dhalem Batur Enggong sempat didiksa oleh Danghyang Nirartha sebelum wafat pada tahun 1552 M. Beliau meninggalkan 2 orang putera yang masih muda belia, yaitu: I Dewa Pemahyun yang kemudian bergelar Dhalem Bekung dan I Dewa Anom Dimade yang selanjutnya disebut Dhalem Segening.
.          

Dhalem Bekung Raja V 1550 – 1580 M

            Disebut Dhalem Bekung karena tidak mempunyai keturunan. Karena beliau masih muda, maka urusan pemerintahan dipegang oleh Patih Agung I Gusti Arya Batanjeruk. Beserta paman-pamannya.
            Patih Agung I Gusti Arya Batanjeruk melakukan pemberontakan, dibantu oleh I Dewa Anggungan, I Gusti Tohjiwa, dan I Gusti Padhe Basa putera Pangeran Dawuh Penulisan. Pemberontakan ini tidak dapat dicegah oleh Danghyang Astapaka, menyebabkan  beliau meninggalkan Ibukota Gelgel. Dhalem Bekung dan Dhalem Segening yang disekap  di istana, akhirnya dapat dibebaskan oleh Kyai Kubon Tubuh, sementara datang bantuan pasukan dari Kapal yang dipimpin oleh Kryan Menginte, putera dari Pangeran Asak berhasil menumpas para pemberontak. Patih Agung dikejar dan dibunuh di desa Bungaya atau Jungutan tahun 1556 M, I Gusti Tohjiwa dibunuh di dekat istana, I Dewa Anggungan diturunkan kastanya, dan I Gusti Pandhe Basa diberi pengampunan.
            Berikutnya I Gusti Pandhe Basa melakukan pemberontakan karena tidak menerima adanya skandal seksual dan praktek-praktek percabulan di kalangan istana. Terjadi hubungan gelap antara I Gusti Telabah dengan selir Dhalem Bekung I Gusti Ayu Samantiga. Pertikaian antara kedua pihak ternyata banyak menimbulkan korban jiwa. I Gusti Pandhe Basa gugur dalam peristiwa ini yang terjadi tahun 1578 M. Pemberontakan ini membuat Dhalem Bekung mengundurkan diri, pindah ke desa Kapal.

Dhalem Segening Raja VI 1580 – 1665 M

            Dhalem Segening menggantikan kakaknya dinobatkan tahun 1580 M. Sebagai Patih Agung adalah I Gusti Agung Maruti (I Gusti Agung Widia) putera dari I Gusti Agung Manginte, sedang sebagai Demung adalah I Gusti Di Ler Prenawa. Untuk menjaga keamanan pemerintahannya beliau menjalankan politik kawin, agar  banyak menurunkan putera. Dhalem Segening menempatkan putera-putera beliau di daerah-daerah tertentu sebagai jabatan anglurah, seperti:
1.      I Dewa Anom Pemahyun di tempatkan di desa Sidemen (Singharsa)
2.      I Dewa Manggis Kuning (I Dewa Anom Manggis) di Gianyar
3.      Kyai Barak Panji ( I Gusti Ngurah Panji Sakti) di Den Bukit.

Dhalem Pemahyun Raja VII

            I Dewa Anom Pemahyun naik tahta menggantikan ayahnya yang wafat setelah lanjut usia, bergelar Dhalem Pemahyun. Beliau tidak lama berkuasa karena penuh dengan intrik-intrik politik di kalangan istana. Patih Agung I Gusti Agung Maruti menghendaki I Dewa Di Made menjadi raja karena mereka ada hubungan ipar. Untuk menghindari jatuhnya korban lebih jauh Dhalem Pemahyun rela melepas tahta dan pergi menuju desa Purasi Karangasem, tempat pesanggarahan Dhalem Bekung dahulu. Dari Purasi (sekarang Perasi) beliau menuju desa Temega bersama puteranya yang bernama I Dewa Anom Pemahyun Di Made.

Dhalem Di Made Raja VIII 1665 – 1686 M

I Dewa Di Made dinobatkan jadi raja bergelar Dhalem Di Made. Patih Agung I Gusti Agung Maruti melakukan pemberontakan. Dalam serangan mendadak ini Dhalem tidak dapat mengadakan perlawanan. Beliau mengungsi ke desa Guliang Bangli, diikuti oleh seorang puteranya I Dewa Jambe beribu dari treh Jambe Pule Badung dan rakyat 300 orang. Sementara I Dewa Pemayun sudah lama menetap di Tampaksiring. Dengan demikian Dhalem Di Made adalah generasi terakhir dinasti Sri Kresna Kepakisan di keraton  Gelgel. Dhalem Di Made wafat dalam pengungsian di desa Guliang.

I Gusti Agung Maruti 1686 – 1705 M
            Tampilnya Patih Agung sebagai raja Gelgel mengundang antipati raja-raja lain di Bali. Masing-masing melepaskan diri dari kerajaan Gelgel. Muncul kerajaan-kerajaan baru, seperti: kerajaan Mengwi, kerajaan Gianyar, kerajaan Klungkung, dan Dhalem Sukawati. Setelah gagal mempertahankan kekuasaanaya di Gelgel, lari ke daerah Jimbaran, terus menuju Badung bermaksud menghamba kepada Kyai Tegeh Kori. Oleh Kyai Tegeh Kori disarankan agar menuju ke Kapal, dimana I Gusti Agung Maruti ada hubungan keluarga dengan penguasa desa Kapal. Namun desa kapal bukanlah akhir dari kehidupannya, I Gusti Agung Maruti terakhir mengungsi ke desa Kuramas (Keramas sekarang), hingga wafat di Puri Kuramas.




































JAMAN  KLUNGKUNG


Pembebasan Kota Gelgel 1705 M
            Setelah berkuasanya Patih Agung I Gusti Agung Maruti, membuat raja-raja di Bali menyusun kekuatan untuk mengembalikan tahta Gelgel kepada pewarisnya. Di desa Sidemen Ida I Dewa Agung Jambe mengadakan persidangan yang dihadiri oleh pemuka-pemuka rakyat Singharsa, utusan dari kerajaan Buleleng dan Badung. Ida Pedanda Wayan Buruan menentukan hari mulai penyerbuan ke Gelgel, yaitu Anggara Paing Bala 1705 M. Penyerbuan dari 3 jurusan: dari Selatan kota Gelgel laskar Badung dipimpin oleh I Gusti Nyoman Pemedilan, atau Kyai Ngurah Pemecutan. Laskar induk Gelgel dipimpin langsung oleh I Gusti Agung Maruti memburu laskar Badung. Terjadi pertempuran sengit di desa Jumpai. Laskar Gelgel terus mengejar laskar Badung yang jumlahnya lebih sedikit. Perlawanan laskar Badung berakhir dengan gugurnya I Gusti Nyoman Pemedilan di desa Batu Klotok, yang kemudian bergelar Kyai Anglurah Macan Gading.
Laskar Taruna Gowak dari kerajaan Buleleng yang dipimpin oleh Ki Tamblang Sampun yang bermarkas di desa Panasan menyerang dari arah Barat Laut, disergap oleh laskar Gelgel yang dipimpin oleh Panglimanya Ki Dukut Kerta. Pertempuran sengit terjadi di sekitar Tukad Jinah, menyebabkan banyak korban yang berjatuhan di pihak Buleleng. Namun barisan laskar Taruna Gowak yang lain melakukan sergapan mendadak sehingga Ki Dukut Kerta dapat dibunuh.
Laskar Singharsa bermarkas di desa Sumpulan (Sampalan sekarang) dipimpin oleh Dewa Agung Jambe bersama I Gusti Ngurah Singharsa menyerang dari arah Timur Laut. Laskar yang jumlahnya sangat besar memasuki kota Gelgel dengan menyeberang Tukad Unda. Sudah tidak ada perlawanan dari laskar Gelgel. Rupanya dengan tewasnya Panglima Ki Dukut Kerta amat menjatuhkan moral laskar Gelgel. Namun laskar Singharsa ini sukar dikendalikan, rumah - rumah dibakar, istana Gelgel dihancurkan.

Ida I Dewa Agung Jambe Raja I Klungkung 1705 – 1775 M
            Dewa Agung Jambe menjadi penerus generasi Dhalem, tetapi tidak berhak memakai gelar Dhalem, melainkan dengan gelar Dewa Agung. Beliau menjadi raja I Klungkung, dimana raja-raja di Bali menghormati beliau sebatas hal-hal yang bersifat religius.
            Dengan hancurnya kota Gelgel yang sudah tidak layak dipakai lagi dan sudah  dipandang tidak berkarisma lagi, maka setelah berunding dengan I Gusti Ngurah Singharsa, pusat pemerintahan dipindahkan ke Klungkung di istana Smarajaya Pura. Istana selesai dibangun tahun 1710 M. Beliau wafat pada tahun 1775 M, berputera 3 orang: Dewa Agung Di Made, Dewa Agung Anom Sirikan, dan Dewa Agung Ketut Agung.

Ida I Dewa Agung Di Made Raja II Klugkung 1775 – 1825 M
Putera I menggantikan ayahnya menjadi raja II Klungkung, Dewa Agung Anom Sirikan pindah ke desa Timbul (Sukawati sekarang) mendirikan kerajaan Dhalem Sukawati. Dewa Agung Ketut Agung pindah menempati istana leluhurnya di Gelgel menjabat sebagai Punggawa kerajaan Klungkung.          
Setelah lama menjabat beliau wafat pada tahun 1825 M meninggalkan 3 orang putera: Dewa Agung Gede, Dewa Agung Made, dan Dewa Agung Ketut Rai.

Ida I Dewa Agung Made Raja III Klungkung
            Terjadi perselisihan antara Dewa Agung Gede dengan dengan Dewa Agung Made. Dewa Agung Gede pindah mendirikan istana baru di lingkungan kota Klungkung bernama Puri Denpasar. Sementara itu Dewa Agung Ketut Rai pindah mendirikan istana baru bernama Puri Akah, di desa Akah.
            Meskipun berlainan tempat perselisihan antara Dewa Agung Gede dengan Dewa Agung Made semakin sengit, masing-masing punya pengaruh dan pendukung. Rakyat Klungkung akhirnya terpecah menjadi 2 golongan. Akhir dari pertengkaran ini, ternyata pendukung Dewa Agung Made lebih banyak. Dewa Agung Gede pindah dari Puri Denpasar menuju desa Talibeng, daerah kekuasaan kerajaan Karangasem.
            Dewa Agung Gede disambut oleh raja Karangasem dengan perasaan terharu.. Tetapi lama-lama timbul kekuatiran raja Karangasem akan digeser kedudukannya oleh Dewa Agung Gede. Akhirnya laskar Karangasem dikerahkan untuk menyerang kerajaan Taman Bali dengan rajanya I Dewa Gede Tangkeban. Setelah kerajaan Taman Bali dapat ditaklukkan, Dewa Agung Gede diberi kedudukan menjadi raja Taman Bali. Setelah lanjut usia Dewa Agung Gede mangkat, digantikan oleh puteranya Dewa Agung Putera menjadi raja Taman Bali. Tetapi rupanya timbul pemberontakan rakyat Taman Bali yang dipimpin oleh putera Dewa Gede Tangkeban. Dewa Agung Putera melarikan diri menuju desa Satrya Kanginan di sebelah Timur kota Klungkung.
Dewa Agung Made dinobatkan menjadi raja III Klungkung. Setelah lanjut usia beliau mangkat meninggalkan 3 orang putera: Dewa Agung Sakti, Dewa Agung Panji, dan Dewa Agung Isteri Muter.

Ida I Dewa Agung Sakti Raja IV Klungkung
            Dewa Agung Sakti menggantikan ayahnya menjadi raja IV Klungkung. Tetapi setelah memasuki usia agak lanjut terkena penyakit kurang ingatan, sering murka tanpa sebab, melakukan penganiayaan, sehingga mencemaskan kalangan istana. Salah seorang isterinya sedang hamil melarikan diri ke desa Besang, melahirkan seorang putera bernama Dewa Agung Putera I. Setelah berusia sekitar 7 tahun pindah ke kerajaan Karangasem. Puteranya yang lain adalah: Dewa Agung Rai dan Dewa Agung Ketut Agung.

Ida I Dewa Agung Panji Raja V Klungkung
            Dewa Agung Sakti setelah lanjut usia wafat, meninggalkan putera yang masih muda belia yang tinggal di Karangasem. Dengan demikian Singgasana kerajaan Klungkung diduduki oleh Dewa Agung Panji sebagai raja V Klungkung. Setelah Dewa Agung Putera I dewasa, dengan bantuan laskar Karangasem merebut tahta kerajaan Klungkung. Dewa Agung Panji melarikan diri menuju desa Tulikup daerah kekuasaan kerajaan Gianyar. Raja Gianyar I Dewa Manggis Di Madya menyambut dengan perasaan terharu. Hubungan kedua belah pihak semakin erat dengan kawinnya adik Dewa Agung Panji yang bernama Dewa Agung Istri Muter dengan Dewa Manggis. Setelah hubungan membaik Dewa Agung Panji kembali pulang ke Klungkung tetapi tidak memegang tampuk pemerintahan.

Ida I Dewa Agung Putera I Raja VI Klungkung
            Menduduki Singgasana kerajaan menjadi raja VI Klungkung. Bertikai dengan saudaranya Dewa Agung Rai soal sebilah keris pusaka. Perselisihan ini menyebabkan Dewa Agung Rai pindah ke Sukawati beserta keluarganya. Dewa Agung Putera I membuat Puri  Kusamba di desa Kusamba sekitar 7 km dari pusat kota untuk menjaga kemungkinan serangan dari saudaranya.
            Pada suatu saat Dewa Agung Putera I pergi ke desa Guliang bersama keluarga dan pembesar istana melakukan persembahyangan di Pura tempat mangkat leluhur beliau sesuhunan Bali – Lombok VIII (terakhir) Dhalem Di Made. Waktu itu terjadi peperangan di Bangli. Rombongan raja Klungkung ini diserang disangka oleh laskar Taman Bali membantu musuhnya. Iring-iringan raja kalang-kabut melarikan diri. Saat melintas di jembatan Tukad Melangit, jembatan roboh. Raja dengan beberapa pengiringnya jatuh ke jurang Tukad Melangit. Oleh karenanya beliau diberi gelar Bhatara Ring Blahpane. Beliau meninggalkan seorang puteri dari permaisuri bernama Dewa Agung Istri Srikandi, dan seorang putera dari selir bernama Cokorda Ketut Rai.

Ida I Dewa Agung Putera II Raja VII Klungkung 1849 – 1851 M
            Sebenarnya yang berhak menggantikan kedudukan Dewa Agung Putera II adalah Dewa Agung Istri Srikandi karena beribu permaisuri I Gusti Ayu Karang saudara dari Raja Karangasem. Tetapi karena seorang perempuan maka tahta kerajaan diserahkan kepada Cokorda Ketut Rai, diberi gelar Dewa Agung Putera II sebagai raja Klungkung VII. Pada masa pemerintahannya kerajaan Buleleng sudah jatuh di tangan Pemerintah Hindia – Belanda. Daerah Kusamba yang sempat diduduki Belanda akhirnya dapat dibebaskan. Dewa Agung Putera II tidak lama berkuasa, sering ditimpa gering. Beliau wafat pada tanggal 24 Pebruari 1850 dan Pelebonnya dilaksanakan pada tanggal 9 September 1850. Beliau tidak mempunyai keturunan.

Ida I Dewa Agung Putera III Raja VIII Klungkung 1851 – 1903 M
            Selama beberapa bulan terjadi kekosongan kekuasaan, karena Dewa Agung Putera II tidak mempunyai keturunan. Untuk sementara pemerintahan dipegang oleh adik dari Dewa Agung Putera yang bernama Dewa Agung Ketut Agung. Sementara itu Belanda telah menanamkan pengaruh-pengaruhnya di setiap kerajaan di Bali. Perselisihan antara raja-raja di Bali nampak semakin sengit, menyebabkan pengaruh Dewa Agung Klungkung semakin berkurang.
Akhirnya diputuskan salah seorang putera dari Dewa Agung Ketut Agung dinobatkan menjadi raja Klungkung VIII dengan gelar Dewa Agung Putera III. Karena bukan keturunan langsung dari raja, maka diadakan upacara abiseka yang dilaksanakan pada 18 Maret 1851. Upacara dihadiri oleh wakil Pemerintah Hindia – Belanda, yaitu Asisiten Residen Banyuwangi Van der Cappelan. Dewa Agung Putera III mangkat pada tanggal 25 Agustus 1903, dengan meninggalkan 2 orang putera: I Dewa Agung Gede Jambe dan I Dewa Agung Gede Smarabhawa. Pelebonnya dilaksanakan pada tanggal 12 Desember 1903. Sewaktu upacara dilangsungkan 6 orang jandanya sedianya akan mesatya, namun dilarang oleh Pemerintah Hindia – Belanda, sehingga tidak jadi dilaksanakan.

Ida I dewa Agung Putera IV Raja IX Klungkung 1903 – 1908
            Dewa Agung Gede Jambe dinobatkan menjadi raja Klungkung IX, bergelar Dewa Agung Putera IV. Kerajaan Klungkung di bawah kekuasaan Dewa Agung Putera IX amat sempit pengaruhnya. Kerajaan – kerajaan di Bali sudah dikuasai Belanda, seperti Kerajaan Buleleng, Karangasem, Bangli, Gianyar, Badung, dan Tabanan. Sementara itu daerah Sibang dan Abiansemal terpaksa dilepaskan oleh Dewa Agung karena diminta oleh Belanda. Dewa Agung juga terpaksa menanda- tangani surat perjanjian kerjasama yang merugikan pihak Dewa Agung. Pemerintah Hindia – Belanda akhirnya memonopoli perdagangan candu di Klungkung, serta mendirikan kantor penjualan candu tanggal 1 April 1908 di pantai sehingga dengan sendirinya Belanda menguasai perairan kerajaan Klungkung. Dominasi Belanda ini melahirkan gerakan rakyat yang menentang kebijakan-kebijakan Belanda, sementara Dewa Agung Tidak dapat berbuat banyak.
            Tanggal 16 April 1908 pasukan Belanda berbaris unjuk kekuatan di kota Gelgel. Karena tidak meminta ijin terlebih dahulu kepada Dewa Agung, Cokorda Jambe Punggawa Gelgel seketika itu timbul amarahnya melihat kesombongan tentara Belanda. Penduduk kota Gelgel gempar, terjadi serangan yang mendadak terhadap pasukan Belanda, hingga banyak memakan korban. Tentara Belanda yang selamat melarikan diri ke Gianyar, kerajaan yang sudah menjadi kekuasaan Belanda. Kantor perdagangan candunya juga dihancurkan.
            Insiden ini menimbulkan kemarahan di pihak Belanda dan menuduh Dewa Agung mengkhianati perjanjian. Belanda segera mengerahkan pasukannya yang bermasrkas di Gianyar dan di Denpasar. Tanggal 17 April 1908 sore harinya pembalasan pasukan Belanda dilaksanakan di kota Gelgel, menewaskan sekitar 100 orang penduduk. Puri Cokorda Gelgel diduduki, sehingga mulai saat itu di Klungkung dibangun kubu – kubu pertahanan. Esok harinya tanggal 18 April 1908 kota Klungkung sudah mulai dihujani tembakan – tembakan  meriam terus menerus dari perairan Klungkung. Penduduk yang tinggal di pantai mulai ketakutan dan mengungsi ke kota Klungkung. Pemerintah Hindia – Belanda mendatangkan tentara yang jumlahnya ribuan dari Jawa dan pendaratannya mulai dilakukan pada tanggal 26 April 1908.
           
Puputan Klungkung Tahun 1908 M
Tanggal 28 April 1908 adalah hari yang bersejarah bagi kerajaan Klungkung. Pagi-pagi tentara Belanda memasuki kota Klungkung. Sementara kapal-kapal perangnya yang berada di perairan Kusamba terus menerus menghujani dengan tembakan meriam. Dewa Agung dengan pengikutnya berjumlah 200 orang maju. Atas nasihat pamannya Cokorda Jambe, Dewa Agung menancapkan keris pusakanya ke tanah dengan kepercayaan agar muncul lubang besar yang akan menelan korban besar dari musuh-musuhnya.
Dewa Agung keluar dari gerbang istana lutut dan dadanya terkena tembakan, dengan gagah perkasa beliau bangun sebelum roboh lagi terkena tembakan. Dewa Agung wafat di depan istana. Kepala Dewa Agung hancur, otaknya berceceran. Inilah yang disebut Puputan Klungkung. Tempat kediaman Dewa Agung yang bernama Inem Smarapura dihancurkan.
Dewa Agung Putera yang gugur dalam puputan ini merupakan generasi penerus terakhir yang berkuasa dengan menyandang gelar Sesuhunan Bali – Lombok. Keluarga raja yang masih hidup dibuang diasingkan ke Lombok.

Diselesaikan pada Anggara – Kliwon – Kulantir
Penanggal  ping 6, Sasih Ke pitu, Isaka 1926
Tanggal 18 Januari 2005

Ida Bagus Wirahaji, S.Ag

3 komentar:

  1. Ida Idewa Agung Panji menjadi raja Kluingkung V karena saudara beliau Ida Idewa Agung Sakti sakit tidak bisa memegang tampuk pemerintah maka pemerintahan diambil alih oleh I Idewaw Agung Panji. Putra-putra I Dewa Agung Panji setelah ayahnda beliau wafat di Tulikup pindah ke Getakan lalu ke Nyalian sampai sekarang. Ada juga putra beliau ke Kusamba.Putra beliau yg tidak ikut ke Tulikup yaitu Tjokorda Oka Gelgel karena diangkat jadi pacek di Kerajaan Mengwi yg keturunan beliau sampai sekarang ada di Puri Kauhan Ubud. Semua putra2 Idewa Agung Panji bersatu dalam ikatan Paiketan Warih Dalem Sentanan Ida I Dewa Agung Panji yg berpusat di Puri Agung Nyalian

    BalasHapus
  2. mantepp.. mohon ijin tuk dijadikan sumber gan
    http://cakepane.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. terlambat tapi tidak apa silahkan dijadikan sumber.Tambahan Ida I Dewa Agung Panji berputra:1.Ida I Dewa Agung Putu( sentanan beliau sekarang ada di Puri Agung Nyalian, Puri Kaleran Bangli,Puri Bakas)2.Cokorda Gde Oka Gelgel ( sentanan beliau sekarang ada di Puri Kauhan Ubud,Puri Pegambangan Batubulan, Puri Arnawa Kapal, Puri Mendala Mengwi)3.Cokorda Gde Rai (Puri Getakan ) 4.Cokorda Mayun Giri ( Puri Kusamba,Puri Satria Kaleran) dan 5.Cokorda Tangkeban ( putung tidak ada keturunan)
      Paiketan Warih Dalem Sentanan Ida I Dewa Agung Panji yang disingkat Pewarih Dasep Idep berpusat di Pemerajan Puri Agung Nyalian (Manggalanya pada saat ini adalah dr.A.A.Gde Martha Sp.Og.dari Puri Agung Nyalian,Klungkung)

      Hapus