Label

Rabu, 21 Maret 2012

BABAD MENGWI

-->
CIKAL BAKAL RAJA – RAJA MENGWI


Pembebasan Kota Gelgel

            Setelah berhasil melakukan pemberontakan terhadap kekuasaan Dalem Di Made, Patih Agung Kryan Maruti memegang kekuasaan dengan tetap beristana di Suwecapura Gelgel, pada tahun 1686 M. Dalem Di Made melarikan diri ke desa Guliang, Bangli bersama dengan 300 orang rakyatnya. Dalem Di Made kemudian wafat di sana.
            Naiknya Patih Agung Maruti sebagai penguasa di Gelgel, menyebabkan raja – raja di Bali memisahkan diri dari kekuasaan Gelgel. Raja – raja yang masih setia kepada Dinasti Dalem Kepakisan menghimpun diri untuk melakukan perebutan kekuasaan Patih Agung Maruti.
            I Dewa Agung Jambe salah seorang putera terkemuka dari Dalem Di Made, yang beribu dari Badung, mengatur siasat. Beliau pindah dari lokasi pengungsian di desa Guliang Bangli menuju istana Ulah di desa Sidemen, dengan diiringi rakyat yang masih setia sekitar 150 orang. Di desa Sidemen beliau disambut oleh I Gusti Ngurah Sidemen atau I Gusti Ngurah Singharsa nama lainnya. Di tempat inilah direncanakan siasat untuk merebut kembali kota Gelgel dan mengembalikan kekuasaan kepada keturunan Dalem.
            Gerakan penyerangan terhadap kota Gelgel dilakukan secara mendadak dan rahasia sesuai dengan rencana. Penyerangan dari Selatan oleh laskar Badung dipimpin oleh Panglima I Gusti Nyoman Pemedilan atau Kyai Ngurah Pemecutan (I). Laskar ini lebih dahulu kontak dengan laskar Gelgel. Dalam pertempuran ini Kyai Ngurah Pemecutan I gugur di desa Batu Klotok. Beliau kemudian bergelar Kyai Anglurah Macan Gading.
Penyerangan dari Barat-Laut oleh laskar Taruna Gowak Buleleng, dipimpin oleh Panglima Ki Tamblang Sampun berhasil membunuh Panglima laskar Gelgel Ki Dukut Kerta. Penyerangan dari arah Utara diperkuat oleh laskar Taman Bali di bawah pimpinan Kyai Paketan. Sedangkan laskar Sidemen dalam jumlah besar menyerang dari arah Timur Laut bermarkas di desa Samplangan sekarang di bawah pimpinan I Dewa Agung Jambe dan I Gusti Ngurah Sidemen.
Kota Gelgel menjadi hancur porak poranda akibat pertempuran ini. Sementara itu moral laskar Gelgel merosot karena terbunuhnya Panglima mereka Ki Dukut Kerta. Patih Agung Maruti melihat tanda – tanda seperti itu segera mengatur persiapan untuk melarikan diri. Laskar I Dewa Agung Jambe dengan mudah memasuki kota Gelgel tanpa perlawanan, karena telah ditinggal oleh laskar Gelgel. Kota Gelgel dapat direbut pada tahun 1705, tapi dalam keadaan sudah hancur lebur.

Patih Agung Maruti Melarikan Diri

            Patih Agung Maruti meninggalkan laskarnya melarikan diri diikuti oleh Kryan Kaler Pacekan, menuju desa Jimbaran. Atas usaha liciknya Kryan Kaler Pacekan berhasil membujuk rakyat I Gusti Agung Maruti untuk ikut bersamanya, dan berhasil mendapatkan keris Ki Sekar Gadhung dan Ki Panglipur. Merasa diperdaya I Gusti Agung kemudian menuju ke kerajaan Kyai Anglurah Tegeh Kori hendak menghamba. Tetapi atas nasihat dari Kyai Tegeh Kori, Kryan Agung Maruti menuju menemui Pangeran Kapal di desa Kapal, bersama 3 orang putera dan puterinya, yatu: I Gusti Agung Putu, I Gusti Istri Ayu Made, dan I Gusti Agung Anom. Sedangkan Kryan Kaler Pacekan tetap di desa Jimbaran.
            Kemudian terjadi peperangan antara Kapal dengan Buringkit, akibat penghinaan Pangeran Kapal, yang menikahkan kuda kesayangannya dengan puteri dari Pangeran Buringkit. Pangeran Kapal dan Pangeran Buringkit sama – sama tewas. Sebelum tewas keduanya mengeluarkan kutukan, bahwa antara desa Kapal dan desa Buringkit tidak boleh saling ambil mengambil (kawin), sampai dengan tumbuh-tumbuhan tidak boleh bertemu sampai pada akhir jaman.
            Atas bantuan I Gusti Kaler Pacekan, Buringkit akhirnya berhasil mengalahkan Kapal. I Gusti Agung Maruti yang ikut membela wilayah Kapal, melarikan diri bersama dengan isteri dan ke-3 anaknya, menuju hutan Rangkan.

I Gusti Agung Maruti Menaklukkan Buringkit

Setelah beberapa lama berada di hutan Rangkan I Gusti Agung mendapat anugerah dari Bhatara Dalem Tawang Alun, berupa sebuah keris bernama Ki Bintang Kukus. Selain itu Beliau juga menemukan sebuah tempat pemujaan di tengah hutan, yang kemudian diperbaiki dan diberi nama Parahyangan Masceti. Kemudian beliau mendirikan istana bernama Puri Kuramas.
Merasa mempunyai kekuatan yang tangguh dan jumlah laskar yang cukup banyak, I Gusti Agung melakukan penyerangan balasan ke Buringkit. Laskar Buringkit cerai berai, dan I Gusti Kaler Pacekan berhasil dibunuh di Bukit Pegat. Keris pusaka Ki Sekar Gadhung dan Ki Panglipur berhasil direbut kembali. Putera – putera I Gusti Kaler Pacekan melarikan diri berpencar; ada yang ke Karangasem ada pula ke Tabanan.
I Gusti Agung Maruti kemudian mewariskan kerajaan kepada putera – puteranya. I Gusti Agung Putu diberikan Puri Kuramas, dan pusaka Ki Bintang Kukus dan Ki Sekar Gadhung. I Gusti Agung Anom diberikan wilayah Kapal dan Buringkit, dan pusaka keris Ki Panglipur, kemudian beliau bergelar I Gusti Agung Made Agung. I Gusti Agung Maruti kemudian wafat di Puri Kuramas.

Perpecahan Kuramas dan Kapal

            Tersebutlah I Gusti Istri Ayu Made, adik dari I Gusti Agung Putu dan kakak dari I Gusti Agung Made Agung, yang menderita sakit ingatan. Seorang Pandita Pande dari desa Wanasara berhasil menyembuhkan, tetapi setiap berpisah dengan Sang Pandita penyakitnya kambuh lagi. Akhirnya I Gusti Istri Ayu Made dikawinkan dengan Sang Pandita Pande. Perkawinan ini tanpa sepengetahuan kakaknya I Gusti Agung Putu di Puri Kuramas. I Gusti Agung Putu murka dan membunuh Sang Pandita. Sang Pandita Pande sebelum menghembus napas terakhir sempat mengeluarkan kutukan kepada I Gusti Agung Putu, bahwa kelak I Gusti Agung Putu dan keturunannya tidak akan pernah menjadi raja. Sedangkan kutukan kepada I Gusti Agung Made Agung, bahwa keturunannya tidak akan habis – habisnya menderita sakit ingatan (gila). Sejak peristiwa itu, I Gusti Agung Made Agung mengeluarkan sumpah putus hubungan bersaudara dengan kakaknya I Gusti Agung Putu.
            I Gusti Istri Ayu Made mesatya mengikuti perjalanan Sang Pandita. I Gusti Agung Made Agung mewarisi pusaka Sang Pandita Pande berupa genta Ki Bhrahmara, genta Ki Kembang Lengeng, termasuk Siwa Pakaranan pangeran Kapal yang kuno. Selain itu I Gusti Agung Made Agung juga mewarisi pusaka seperti: keris Ki Panglipur, keris Ki Baru Pesawahan (pusakanya Pangeran Kapal), keris Ki Pancar Utah (pusakanya Pangeran Buringkit dahulu).
            I Gusti Agung Made Agung beristerikan Ni Gusti Luh Bengkel, puteri dari Kryan Bebengan, menurunkan putera satu – satunya bernama I Gusti Agung Putu. Puteranya adalah hasil dari permohonan I Gusti Agung Made Agung bersama isterinya di Pura Sada, yaitu anugerah dari Bhatara Hanandharu.

I Gusti Agung Putu Ditawan Di Tabanan

            Setelah I Gusti Agung Made Agung wafat, digantikan oleh putera beliau. Dalam pemerintahan I Gusti Agung Putu, rakyat kurang diperhatikan, beliau keras kepala, hanya mengikuti hawa nafsunya sendiri. Timbul pemberontakan yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Batu Tumpeng dari desa Kekeran. Timbul perang yang ramai antara laskar Kapal dengan laskar Kekeran. I Gusti Agung Putu dapat dikalahkan, dikira sudah mati, ditinggal oleh I Gusti Ngurah Batu Tumpeng.
Adalah seorang sahaya yang bernama I Kedua, mendekati junjungannya. Dalam keadaan sekarat I Gusti Agung Putu menitipkan pusakanya, yang bernama Ki Panglipur kepada I Kedua. I Kedua menutupi badan junjungannya dengan daun Liligundi agar terasa sejuk. Mengetahui I Gusti Agung Putu masih hidup, I Gusti Ngurah Batu Tumpeng membawanya ke Linggasana Tabanan, menjadi tawanan raja I Gusti Ngurah Tabanan.
            Seorang pemimpin dari desa Wratmara (sekarang: Marga), bernama I Gusti Bebalang, yang mengabdi di kerajaan Linggasana Tabanan, mengetahui bahwa I Gusti Agung Putu ditawan. Atas permohonannya yang mendalam kepada raja Anglurah Tabanan, I Gusti Bebalang berhasil melepaskan I Gusti Agung Putu, dan mengajak tinggal di desa Wratmara. Di desa Wratmara I Gusti Agung Putu sangat akrab dengan adik I Guti Bebalang yang bernama I Gusti Celuk.

I Gusti Agung Putu Mendapatkan Keagungan

            Setelah beberapa lama tinggal di desa Wratmara, di mana kondisi tubuh dan mentalnya membaik, I Gusti Agung Putu berkeinginan membalas terhadap I Gusti Ngurah Batu Tumpeng. Untuk itu beliau melakukan perjalanan menuju puncak Gunung Mangu melakukan semadi. Dalam semadinya yang khusuk, Ida Bhatara Gunung Mangu turun. I Gusti Agung Putu disuruh menjulurkan lidahnya, dan dirajah oleh Ida Bhatara. Dari puncak Gunung Mangu itu pula I Gusti Agung Putu disuruh melihat ke arah Timur, Selatan, Barat, dan Utara. Sabda Ida Bhatara, bahwa apa – apa yang dilihat oleh I Gusti Agung Putu, kelak itulah akan menjadi wilayah kekuasaannya. Selesai melakukan semadi, I Gusti Agung Putu kembali ke desa Wratmara, disambut hangat oleh sahabatnya I Gusti Celuk.
            Selanjutnya I Gusti Agung Putu, dengan seijin penguasa desa Marga merabas hutan membangun istana bernama Puri Balahayu, sebagai tempat kedudukan beliau. Nama beliau menjadi termasyur, beberapa penguasa menghadap dan mendukung beliau, antara lain: I Gusti Ngurah Tangeb, I Gusti Ngurah Pupuan, I Gusti Ngurah Buringkit, I Gusti Ngurah Penarungan. I Kedua pun menghadap mempersembahkan keris Pusaka Ki Panglipur yang dulu dititipkan kepadanya Tetapi I Gusti Ngurah Kekeran (Batu Tumpeng) masih menentang. I Gusti Ngurah Kekeran kemudian diserang dan berhasil dibunuh. Semenjak itu daerah Kekeran menjadi wilayah kekuasaan I Gusti Agung Putu.
           

BERDIRINYA KERAJAAN KAWYAPURA



Pasek Badak Takluk

            Setelah berhasil mengalahkan I Gusti Ngurah Kekeran, I Gusti Agung Putu mendirikan istana di Bekak, di sebelah Utara Bale Agung Mengwi, sehingga dinamai Puri Kaleran. Di sebelah Barat – Laut istana dibangun Parahyangan (Dewa Graha) yang dinamai Taman Ganter. Dibuatkan Tengeran (kulkul) yang bernama Si Tankober, milik I Gusti Tangeb. Setelah diupacarai dinamakan Kawyapura, atau Manghapura nama lainnya. Sementara istana beliau di Balahayu (Puri Belayu) diberikan kepada I Gusti Celuk.
            Ada seorang Ki Pasek yang sakti dan teguh berkendaraan Badak, dengan pengikutnya tidak mengakui kedaulatan I Gusti Agung Putu. Ki Pasek lalu dipanggil untuk datang menghadap ke Puri. Ki Pasek bersama kerabatnya datang memenuhi permintaan Raja. Raja menantang  untuk adu tanding, tanpa mengadu rakyat. Rakyat hanya menjadi taruhan. Tantangan disetujui oleh Ki Pasek Badak. Mereka berdua mengadu kekuatan, sama – sama kebal tidak terlukai oleh senjata. Tidak ada yang kalah. Kemudian Ki Pasek Badak menyadari, bahwa I Gusti Agung Putu ditakdirkan menjadi penguasa dan menikmati kewibawaan. Ki Pasek bersedia mengalah dan dibunuh dengan syarat setelah menjadi Pitara disembah oleh 40 orang keturunan I Gusti Agung Putu. Syarat itu disetujui, Ki Pasek menyerahkan nyawanya, ditikam dengan keris Ki Nagakeras. Binatang Badak peliharaannya juga mati di sebelah Selatan desa Buduk. I Gusti Agung Putu kemudian melakukan upacara pemerasan kepada  40 orang dari semua golongan masyarakat untuk menyembah roh Ki Pasek Badak, sebab beliau tidak mau keturunan langsung yang menyembah. Warga Ki Pasek seluruhnya tidak mau tunduk, mereka mengungsi ke desa Tanguntiti Tabanan.
I Gusti Agung Putu memenuhi janjinya dengan mendirikan Pura Taman Ahiun (Ayun). Arwah Ki Pasek Badak diistanakan di Pelinggih Meru Tumpang 1. Kemudian dilaksanakan upacara besar Bhuta Yajnya, Manca Wali Krama, dan Siwa Yajnya, pada AnggaraKliwon – Medangsya. Warga 40 orang yang menyembah roh Ki Pasek Badak kemudian dijadikan laskar kerajaan bernama Bala Putra Dika Bata – Batu.

I Gusti Agung Putu Raja I Mengwi
            Perjalanan selanjutnya I Gusti Agung Putu menundukkan I Gusti Ngurah Teges, sehingga kekuasaannya daerah Kaba-kaba menjadi bagian dari wilayah Kawyapura. I Gusti Agung Putu juga menyerang dan menaklukkan Penebel dalam rangkaian membantu Tabanan. Sebagai imbalan kemenangan itu Tabanan memberikan desa Marga kepada I Gusti Agung Putu. Beberapa penguasa atau Anglurah juga menyatakan takluk kepada Kawyapura, hingga wilayah Kawyapura meliputi: ke Selatan bukit Jimbaran sampai Uluwatu, ke Utara sampai gunung Beratan, ke Timur sampai sungai Petanu, ke Barat sampai sungai Yeh Panah.
            Perkembangan kemudian laskar I Gusti Agung Putu berperang dan  menaklukkan laskar Buleleng. Perang ini dipicu oleh putera I Gusti Ngurah Panji Sakti yang bernama I Gusti Panji Wayahan, yang merabas hutan Batukaru, kekuasaan Kawyapura. Sebagai tanda takluk I Gusti Ngurah Panji Sakti menyerahkan daerah Blambangan dan Jemberana menjadi daerah kekuasaan Kawyapura. Selain itu, juga diberikan puterinya Ni Gusti Ayu Panji sebagi isteri I Gusti Agung Putu. Raja juga memohon seorang Brahmana, Ida Pedanda Sakti Bukian dari desa Kayu Putih, diberikan tempat di Kekeran untuk mendampingi beliau,
            Demikianlah bertambah – tambah keagungan dan kebesaran I Gusti Agung Putu, Ketika diangkat menjadi Raja I Kawyapura, beliau diberi gelar I Gusti Agung Made Agung Bima Sakti, atau Cokorda Sakti Blambangan gelar lainnya. Beliau sangat sakti (mangueng). Dari kata mangueng menjadi Mengwi.

I Gusti Agung Putu Tunduk Kepada Dewa Agung Klungkung
            Dengan semakin luasnya daerah – daerah jajahan yang kemudian menjadi wilayah kekuasaan, I Gusti Agung Putu tidak mau mengakui kewibawaan Dewa Agung Klungkung. Sekitar awal – awal tahun 1700, ada seorang tokoh sakti ilmu hitam yang bernama Ki Balian Batur, tinggal di pesisir Timur Kerajaan Mengwi, di desa Teledunginyah. Mempunyai sisya (murid) yang banyak, yang terkemuka adalah I Gede Mecaling. Ki Balian Batur konon ciptaan dari Bhatara Ulun Danu yang menginginkan agar I Gusti Agung Putu tunduk terhadap Dewa Agung Klungkung.
            Ulah Ki Balian Batur beserta murid – muridnya membuat raja Mengwi merasa terusik. Banyak rakyat beliau terutama di bagian Timur meninggal karena serangan ilmu hitam. I Gusti Agung Putu mengerahkan laskar untuk menyerang Ki balian Batur beserta rakyatnya. Namun laskar Mengwi tidak dapat berbuat apa, karena berhadapan dengan mahluk – mahluk gaib. Dalam keadaan putus asa mengahadapi musuh, I Gusti Agung Putu mendengar suara gaib, yang menyarankan meminta bantuan dari Dewa Agung Klungkung. Ki Balian Batur hanya dapat dikalahkan dengan bedil Ki Narantaka dan peluru Ki Selisik.
            I Gusti Agung Putu mengikuti saran suara gaib itu. Beliau menghadap Dewa Agung Klungkung untuk meminta bantuan. Dewa Agung Klungkung memenuhi permohonan raja Mengwi dengan mengutus adik beliau Dewa Agung Anom Sirikan, untuk melaksanakan tugas membunuh Ki Balian Batur. Tugas dilaksanakan dengan baik dan sebagai imbalannya I Gusti Agung Putu memberikan daerah Sukawati kepada Dewa Agung Anom Sirikan. Demikianlah riwayatnya timbul kerajaan Dalem Sukawati, dan I Gusti Agung Putu mengakui otoritas Dewa Agung Klungkung Sesuhunan Bali - Lombok.

I Gusti Agung Made Alangkajeng Raja II Mengwi
            I Gusti Agung Putu setelah tua digantikan oleh puteranya yang terkemuka, yaitu: I Gusti Agung Made Alangkajeng. Putera – putera yang lain, yaitu: I Gusti Agung Panji, I Gusti Ketut Buleleng, I Gusti Agung Made Kamasan, I Gusti Agung Nyoman Alangkajeng, dan lain – lain, yang kesemuanya diberikan tempat dan rakyat. Sedianya I Gusti Agung Panji akan menggantikan ayahnya, namun beliau wafat di desa yang kemudian disebut Padekdekan. I Gusti Agung Nyoman Alangkajeng pindah ke desa Munggu mendirikan istana Puri Munggu.
            I Gusti Agung Made Alangkajeng menjadi raja bergelar I Gusti Ngurah Made Agung, atau oleh Dewa Agung Klungkung dipanggil I Gusti Agung Banya, sebab beliau sogol, sering mengucapkan banya (aku, kau). Adiknya I Gusti Agung Nyoman Alangkajeng, disuruh pulang ke Mangha-pura, membangun istana baru di Barat-daya Taman Ayun.
            Pada tahun 1750 I Gusti Ngurah Made Agung, memaksa meminta seorang puteri dari Nambangan, yang bernama Ni Gusti Ratu Tegeh, puteri dari Kyai Anglurah Tegeh Kori XI. Puteri ini sudah dijodohkan dengan Kyai Ngurah Jambe Merik, putera Kyai Jambe Pule, sama – sama tinggal di Nambangan (Badung). Penyerahan puteri ini ke Mengwi menyebabkan kemarahan keluarga Jambe beserta rakyat Badung. Keluarga Jambe bersama dukungan sebagian besar rakyat Badung berhasil menjatuhkan kekuasaan Kyai Anglurah Tegeh Kori XI.
            Dari isterinya Gusti Luh Patilik, berputera I Gusti Agung Made Agung. Dari puteri Ratu Tegeh ini beliau menurunkan seorang puteri I Gusti Ratu Istri Bongan, yang diperisteri oleh Kyai Anglurah Pemecutan II, menurunkan putera di Puri Kaleran Pemecutan.

I  Gusti Agung Nyoman Alangkajeng Raja III Mengwi
            Setelah I Gusti Ngurah Made Agung wafat, digantikan oleh adiknya I Gusti Agung Nyoman Alangkajeng, yang bergelar Cokorda Munggu. Hal ini disebabkan putera mahkota I Gusti Agung Made Agung tidak kuasa dicegah, melanggar bisama leluhur, mengambil isteri ke Puri Kuramas. I Gusti Agung Made Agung mengungsi ke desa Kapal, menjadi Pangeran Kapal.
            I Gusti Agung Nyoman Alangkajeng mempunyai beberapa putera, yakni: I Gusti Agung Mbahyun, I Gusti Agung Made Munggu, I Gusti Ngurah Jembrana (pemguasa di Jembrana), dan I Gusti Gede Meliling.
           
I Gusti Mbahyun (Mayun) Raja IV Mengwi
Setelah I Gusti Agung Alangkajeng tua, beliau yang masih beristana di dua Puri (Angaron Puri) wafat  di Puri Munggu. Oleh masyarakat diberi gelar Bhatara Ring Pasaren Belimbing. Putera sulungnya I Gusti Mbahyun (Mayun) menggantikan bergelar Cokorda Mayun.
Pada masa pemerintahanya, laskar Mangha-pura berperang dengan laskar I Gusti Ngurah Bun. Terjadinya perang tersebut, dikarenakan I Gusti Ngurah Bun tidak setia kepada Kawya-pura. I Gusti Mayun tewas dalam pertempuran yang terjadi di desa Lambing. I Gusti Agung Made Munggu, setelah mendengar kakaknya tewas, memukul kentongan mengirim laskar bantuan. Laskar I Gusti Ngurah Bun dapat dikalahkan. I Gusti Ngurah Bun dapat dibunuh, anggota laskarnya dikejar sampai ke desa – desa. Itu sebabnya desa Bun berganti nama dengan desa Sedang, Angantaka, dan Jagapati. Jenasah I Gusti Mbahyun setelah diupacarai diberi gelar Bhatara ring Bun. Beliau meninggalkan seorang putera I Gusti Putu Mayun, masih anak – anak.

I Gusti Agung Made Munggu Raja V Mengwi
            Setelah wafatnya I Gusti Mayun terjadi huru – hara antara sesama keturunan kerajaan Mengwi saling serang, memisahkan diri. Atas permintaan para pemuka kerajaan I Gusti Agung Made Munggu didaulat menduduki tahta Kawya-pura. Beliau melangkah ke istana Kawya-pura sambil membawa pusaka – pusaka. Tempat pemujaan dibangun berhadapan dengan Puri, sebelah Timur jalan, bernama Pemerajan Mayun. Beliau bergelar Cokorda Munggu. Sementara itu I Gusti Agung Kapal diserahkan memelihara Pemerajan dan Taman Ayun.
            Dalam masa pemerintahannya I Gusti Agung Made Munggu menyerang, merebut kembali bekas – bekas  wilayah kerajaan Mengwi yang melepaskan diri, seperti desa Abian Semal, Sangeh, dan Mambal.
            Setelah lama memerintah, beliau pindah keraton di Puri Agung Kaleran, lengkap dengan tembok yang megah. Beliau beristerikan puteri dari Anglurah Tabanan yang beristana di Puri Kubon Tingguh, berputera I Gusti Agung Putu Agung. Serta seorang isteri puteri dari I Gusti Ngurah Kaba – Kaba, bernama I Gusti Ayu Oka tidak diceritakan keturunannya

I Gusti Ayu Oka Raja (Ratu) VI Mengwi
            I Gusti Agung Made Munggu setelah lanjut usia dan wafat bergelar Bhatara Ring Pasaren Gede. I Gusti Ayu Oka isteri beliau dari Puri Kaba – Kaba untuk sementara mengisi kekosongan, oleh karena putera kandung I Gusti Agung Putu Agung dan kemenakannya, I Gusti Putu Mayun masih anak – anak.
            Tersiar fitnah yang mengatakan Blambangan melepaskan diri. Ratu kemudian memanggil Pangeran Blambangan. Pangeran Blambangan datang memenuhi panggilan namun tidak diperkenankan masuk ke Puri. Pangeran beristirahat di pesanggrahan di Tegal Waru, sebelah Barat-daya Puri bernama Banjar Jawa. Pengiring Pangeran Blambangan diberi tempat di sebelah Barat Sahibang (Sibang), yang sekarang dinamakan Janggala Blambangan, dan Tan Hayu.
            Pangeran Blambangan terkenal sakti, sempat memperliatkan kehebatannya berjalan – jalan di atas air telaga Tama Ayun. Ratu I Gusti Ayu Oka sempat mendengar kejadian ini semakin menjadi marah, kemudian menyuruh I Gusti Agung Kamasan dari Sibang dan Mekel Munggu membunuh Pangeran di Pantai Seseh. Pangeran Blambangan dengan tabah menerima maut yang segera datang. Sesaat sebelum menghembus napas terakhir, Pangeran mengutuk Kawya-pura akan mengalami masa – masa surut. Setelah wafat Pangeran Blambangan dibuatkan Kramat dan Meru Tunpang Solas, yang disembah oleh orang – orang di desa Munggu, Cemagi dan Sibang.

I Gusti Agung Putu Agung Raja VII Mengwi
            Setelah memerintah beberapa lama I Gusti Ayu Oka sudah tua dan wafat. Putera tiri beliau I Gusti Agung Putu Agung menggantikan bergelar Cokorda Putu Agung. Dalam pemerintahannya beliau dibantu oleh adik misannya sebagai Raja Muda bernama I Gusti Agung Putu Mayun, putera dari Bhatara Ring Bun.
            Cokorda Putu Agung wafat di Ukiran, bergelar Bhatareng Ring Ukiran. Beliau berputera I Gusti Agung Made Agung, beribu dari I Gusti Ayu Ngurah, puterinya I Gusti Ngurah Teges dari Puri Kaba-Kaba.

I Gusti Agung Made Agung Raja VIII Mengwi
            I Gusti Agung Made Agung dinobatkan menjadi raja bergelar Cokorda Agung Ngurah Made Agung. Beliau didampingi oleh Raja Muda Cokorda Made Kandel, seorang putera yang diangkat (diperas) dari Dewa Agung Made dari kerajaan Dalem Sukawati, oleh I Gusti Agung Putu Mayun. I Gusti Agung Putu Mayun setelah wafat bergelar Bhatara Ring Pasaren Anyar.
            Setelah wafat Cokorda Agung Ngurah Made Agung bergelar Bhatara Angluhur. Beliau banyak mempunyai isteri baik dari kalangan Puri maupun dari sudra. Adapun putera yang terkemuka adalah: I Gusti Agung Made Agung, beribu Jro Sengguan dari Kekeran, I Gusti Agung Ketut Agung, beribu dari Kapal Kanginan.
            Sedangkan Cokorda Made Kandel setelah wafat bergelar Bhatareng Saren Sibang, berputera I Gusti Agung Putu Mayun Mreta, dan I Gusti Agung Nyoman Munggu.

I Gusti Agung Made Agung Raja IX Mengwi
            I Gusti Agung Made Agung seorang putera kelahiran sudra, setelah diangkat anak oleh ibu tirinya (permaisuri dari Munchan), naik menggantikan ayahnya menjadi raja Mengwi, bergelar Cokorda Ngurah Made Agung.
Beliau beristeri I Gusti Agung Istri Agung, puteri dari I Gusti Ketut Kamasan Sibang. Istrinya ini membawa abdi tatadan dari desa Sedang dan Angantaka, berikut harta benda, mas, sawah, sebab beliau adalah puteri satu – satunya. Dari isteri ini melahirkan puteri satu – satunya bernama I Gusti Agung Istri Agung Muter, yang diperisteri oleh raja Klungkung Dewa Agung Gede Putera. Putera tiri dari I Gusti Agung Istri Agung Muter yang bernama Dewa Agung Gede Jambe, bergelar Dewa Agung Putera inilah yang gugur dalam Puputan Klungkung pada tanggal 28 April 1908.
Dalam masa pemerintahannya, I Gusti Agung Made Agung berselisih dengan adiknya tirinya I Gusti Agung Ketut Agung. Raja juga menjalankan fitnah terhadap I Gusti Agung Nyoman Munggu, hingga dibuang oleh Dewa Agung Klungkung ke Nusa Barong (Nusa Penida)
Raja ingin menyingkirkan saudaranya dengan mengangkat derajat dari orang – orang yang tidak pantas. Raja memberi gelar kepada I Gusti Made Kedewatan dengan Anak Agung Gede Putera, yang disiapkan untuk menggantikan kedudukannya, sebab beliau tidak punyai putera laki – laki.
Sebaliknya I Gusti Agung Ketut Agung membuktikan diri beliau sebagai seorang Raja Putera. Beliau diuji oleh Dewa Agung Klungkung untuk memasuki Goa Lawah sampai tembus ke Pura Besakih. Ujian itu dilaksanakan dengan berhasil berkat restu dari Ida Bhatara Tolangkir. Semenjak itu beliau diberi gelar I Gusti Agung Ketut Agung Bhusakih. Dewa Agung Klungkung kemudian memberi tahu pihak Mangha-pura tentang keagungan I Gusti Agung Ketut Agung. Namun raja Mangha-pura tidak mau percaya dan tidak mau menerima kedatangan adiknya tirinya. Itu sebabnya I Gusti Agung Ketut Agung dibuatkan istana di Klungkung bernama Puri Batan Waru.
Singkat cerita, dalam perkembangan selanjutnya kedudukan Raja menjadi terhimpit, oleh karena banyak pemuka – pemuka kerajaan memihak I Gusti Agung Ketut Agung. Tokoh – tokoh dari warga desa seperti Marga, Sembung, Cau tidak suka kepada Anak Agung Gede Putera. Mereka memisahkan diri dengan Kawya-pura dan mengabdi ke kerajaan Tabanan. Inilah awal permusuhan kerajaan Tabanan dengan Mengwi.

I Gusti Agung Ketut Agung Raja X Mengwi
            I Gusti Agung Ketut Agung yang berkedudukan di Puri Batan Waru Klungkung pulang kembali ke Mngha-pura, tetapi tidak ke Puri Agung, beliau tinggal di Jeroan Bakungan. I Gusti Agung Nyoman Munggu, yang sempat dibuang oleh Dewa Agung Klungkung ke Nusa Penida, kembali pulang ke Mangha-pura membangun istana bernama Puri Mayun.
            Di Puri Mayun inilah diselenggarakan Pesamuhan Agung keluarga Raja dengan  pemuka – pemuka masyarakat, yang menghasilkan kesepakatan, mendudukkan I Gusti Agung Ketut Agung sebagai Raja, dan I Gusti Agung Nyoman Munggu beserta I Gusti Agung Putu Mayun Merta sebagai Iwa Raja (raja muda).
            Hasil kesepakatan Pesamuhan Agung disampaikan kepada Raja. Raja bersedia menerima kesepakatan tersebut. Kemudian I Gusti Agung Ketut Agung diangkat menjadi Raja bergelar Cokorda Agung Ketut Agung Bhusakih. I Gusti Agung Nyoman Munggu menjadi raja muda bergelar Cokorda Nyoman Mayun dan I Gusti Agung Putu Agung Mayun bergelar Cokorda Mayun Mreta. Tetapi I Gusti Agung Ketut Agung Bhusakih belum bersedia memasuki Puri Agung, oleh karena Anak Agung Gede Putera masih tinggal di Puri Agung.
Anak Agung Gede Putera mendengar berita, laskar Munggu akan menyerang dirinya. Dengan dibekali keris Pusaka Ki Panglipur oleh Raja IX secara diam – diam pergi ke arah Barat, tujuannya ke Tabanan. Laskar Munggu yang mengetahui Anak Agung Gede Putera lari, dapat dikejar sampai di persawahan desa Kelaci. Raja IX yang berusaha melindungi, menghalanginya hingga terjadi perang dengan laskar Munggu. Laskar Munggu tidak mengatahui bahwa yang diserang dan dibunuh itu adalah rajanya sendiri (Raja IX). Sementara Anak Agung Gede Putera dapat meloloskan diri. Raja I Gusti Agung Made Agung yang terbunuh oleh laskar Munggu bergelar Bhatara Ring Suradana.
Raja I Gusti Agung Ketut Agung belum bersedia melangkah memasuki Puri Agung, oleh karena keris pusaka Ki Panglipur masih dibawa oleh Anak Agung Gede Putera yang bersembunyi di Tabanan. Dengan segala upaya keris pusaka dapat dikembalikan, dan Anak Agung Gede Agung diampuni diberikan rakyat di Moncos, Baha dan Banjar Sayan, yang kemudian dijadikan manca. Setelah mendapat keris pusaka Ki Panglipur, barulah Raja I Gusti Agung Ketut Agung Bhusakih melangkah memasuki Puri Agung.
Oleh karena desa Wratmara (Marga) sudah bergabung ke kerajaan Tabanan, maka sulitlah Raja Mengwi mendatangi (tangkil) ke Pura Kahyangan Beratan, untuk memuja Bhatara Gunung Mangu. Itu sebabnya Cokorda Mayun mendirikan Pura Penataran Kahyangan Tinggan di desa Tinggan, yang kerjakan oleh penduduk desa Tinggan, Tiyingan, Semanik, Plaga, Kiadan, Nungnung, Bon, Sidan, dan desa Belok, yang diplaspas tahun 1830 M. Tahun 1832 dibangun lagi Pura Penataran Agung Bon. Tahun 1834 lagi dibangun Pura Puncak Gunung Tedung oleh Cokorda Mayun.
Raja Cokorda Ketut Agung Bhusakih setelah tua, dan wafat bergelar  Bhatara Ring Pasaren Agung. Beliau hanya meninggalkan seorang puteri I Gusti Agung Istri Mayun, yang bergelar Cokorda Istri Agung.
 Raja Muda (Iwa Raja) Cokorda Nyoman Mayun setelah tua dan wafat bergelar Bhatara Ring Galungan. Beliau meninggalkan putera I Gusti Agung Made Raka, beribu Jro Serongga , keluarga Bendesa Mas Mambal. I Gusti Agung Istri Putu dan adiknya I Gusti Agung Made Agung, kedua beribu patni dari Puri Grana.
Raja Muda Cokorda Mayun Mreta setelah wafat bergelar Bhatara Ring Pekerisan. Beliau meninggalkan seorang putera I Gusti Agung Gede Mayun, beribu Gusti Luh Kajeng dari Bindhu.

I Gusti Agung Made Agung Raja XI (Terakhir) Mengwi
            Oleh karena Raja hanya mempunyai seorang puteri, maka para pemuka di kalangan Puri Agung mengadakan Pesamuhan untuk menunjuk pengganti Raja berikutnya. Dalam pesamuhan itu disepakati untuk mendudukkan I Gusti Agung Made Agung, putera Bhatara Ring Galungan menjadi Raja Mengwi, bergelar Cokorda Ngurah Made Agung. Kakak beliau I Gusti Agung Made raka diangkat sebagai Raja Muda (Iwa Raja) bergelar Anak Agung Gede Alangkajeng.
Kemudian Puri Mayun dibagi 2 bagian. Bagian Utara tetap bernama Puri Mayun, tempat tinggal dari I Gusti Agung Gede Mayun atau Anak Agung Gede Mayun nama lainnya. Bagian Selatan bernama Puri Anyar, kediaman dari Anak Agung Gede Alangkajeng. Puri Anyar dan Pemerajannya diplaspas pada tahun 1860 M.
            Anak Agung Gede Alangkajeng terkenal sakti dan kebal, tidak dapat ditembus oleh peluru. Adapun kesaktiannya berkat anugrah dari Bhatara Gunung Mangu. Pada suatu hari tengah malam beliau bersemadi. Di dalam daksina didengar suara berisik. Beliau mengambil dan membuka isi daksina, yang ternyata ada ular hitam – putih. Ular tersebut dililitkan ditubuhnya. Tiba – tiba ular tersebut berubah menjadi selempang bahu berwarna Hitam – Putih, diberi nama Ki Naga Poleng.




























BERAKHIRNYA KERAJAAN MENGWI


Perselisihan di Dalam Kerajaan Mangha-pura
            Dalam perkembangan selanjutnya terjadi perselisihan di dalam kerajaan Mengwi. Anak Agung Gede Alangkajeng meninggalkan kerajaan Mengwi dan putera – puterinya, hanya didampingi oleh isterinya I Gusti Ayu Sagung, menuju negara Badung di Jro Kanginan. Selama tinggal di Badung putera – puterinya tidak ada yang menjenguk, hingga membuat hatinya semakin sedih. Anak Agung meninggal di Jro Kanginan Badung bergelar Bhatara Ring Badung. Beliau dibuatkan Pelinggih Gedong di Pura Penataran Tinggan.
            Anak Agung Gede Alangkajeng meninggalkan beberapa putera dan puteri, yang terkemuka diantaranya adalah: I Gusti Agung Made Ngurah (beribu Gusti Luh Rai dari Bnajar Natih Sedang), I Gusti Agung Putu Alangkajeng (beribu keturunan Dewa Godong Artha), I Gusti Agung Istri Kajeng (beribu Jro Taluh Harsa) diperistri oleh Ida Putu Batu, kemudian mediksa bernama Ida Pedanda Gede Sembung dan Ida Pedanda Istri Agung. Yang paling bungsu bernama I Gusti Agung Ketut Rai beribu Jro Ketut Raga.
            Putera beliau yang bernama I Gusti Agung Made Ngurah diangkat menjadi Raja Muda. Tetapi tidak disenangi karena tidak mempunyai tanggung jawab sebagai pemimpin, hanya menjalankan kesenangan sendiri.

Laskar Gabungan Menaklukkan Mengwi
            Dewa Agung Klungkung mendengar perselisihan di dalam kerajaan Mangha-pura, sangat merasa prihatin. Beliau mengirim utusan untuk meminta Raja Muda I Gusti Agung Made Ngurah agar menghadap  Dewa Agung di Klungkung. Tetapi oleh raja Mangha-pura perintah itu tidak dipenuhi dengan alasan takut akan dibuang seperti yang pernah dialami oleh leluhur beliau Bhatara Ring Galungan, yang sempat dibuang ke Nusa Barong (Nusa Penida).
            Sikap  penentangan ini mengundang kemarahan besar Dewa Agung Klungkung. Segera beliau memerintahkan kerajaan Badung, Tabanan, Ubud, dan Bangli menyerang Mangha-pura. Situasi di  Mangha-pura sendiri menjadi semakin kacau setelah mengetahui adanya perintah Dewa Agung tersebut. Diantara pembesar – pembesar kerajaan kurang bersatu, masing – masing memikirkan keselamatan diri sendiri. Sebab mereka tahu perintah Dewa Agung pasti dijunjung oleh raja – raja yang masih setia kepada Dewa Agung Sesuhunan Bali – Lombok.
            Sesuai perintah Dewa Agung, laskar gabungan Badung, Tabanan, Ubud, dan Bangli menyerang Mengwi. Perlawanan laskar Mengwi berakhir pada tanggal 20 Juni 1891. Raja Mengwi Cokorda Ngurah Made Agung tewas di tengah sawah di sebelah Barat desa Mengwi Tani, bersama sahabat karibnya Ida Pedanda Made Bang dari Gerya Liligundi Buleleng. Jenasah Cokorda Ngurah Made Agung ditawan di Badung, satu tempat dengan jenasah Anak Agung Gede Alangkajeng.
Cokorda Ngurah Made Agung, raja terakhir Mengwi ini bergelar Bhatara Ring Rana. Beliau meninggalkan putera – puteri, diantaranya yang terkemuka adalah: I Gusti Agung Gede Agung (beribu Jero Saren, yang diangkat putera oleh permaisuri Cokorda Istri Agung), I Gusti Agung Ketut Agung (Beribu Jero Sumapatra, juga diangkat putera oleh permaisuri Cokorda Istri Agung). Cokorda Istri Agung sendiri, karena tidak sanggup menanggung kesedihan, beliau wafat di Badung. Jenasahnya disatukan dengan jenasah kakak beliau.
Seluruh harta benda dan pusaka kerajaan dibawa ke negara Badung. Keluarga, kerabat dan sabahat raja juga ditawan. Diantaranya Ida Pedanda Gede Kekeran ditawan, ditempatkan di Puri Tegal Badung. Demikian juga wilayah – wilayah kerajaan Mengwi dibagi-bagi, seperti desa Kaba-kaba, Kediri, Belayu dikuasai Tabanan. Desa Carangsari, ke Utara sampai desa Tinggan dikuasai kerajaan Bangli. Desa Jagapati, Abiansemal sampai desa Samuan dikuasai oleh Ubud. Sisanya dikuasai oleh Badung.

Putera – Puteri Kawya-pura Lolos dari Tawanan
            Setelah sekitar 3 bulan putera – puteri Mangha-pura ditawan di Badung, Anak Agung Nyoman Kaler dari Puri Gerana yang diiringi oleh puteranya I Gusti Agung Made Raka karena rasa kesetiaannya bersaudara, ikut berduka cita,  menyusul ke Badung. Sementara harta benda dan pusaka Puri Gerana diserahkan dan dijaga oleh I Gusti Ngurah Gede Pacung dari Puri Carangsari.
            Pada tahun 1893, suatu hari pada tengah malam putera – puteri Mangha-pura berhasil meloloskan diri, mengiringi Ida Pedanda Gede Kekeran menuju Puri Ubud, karena pihak Puri Ubud menjanjikan keselamatan. Disediakan tempat tinggal yang bernama Puri Kelodan. Kemudian datang berkunjung Ida Pedanda Gede Pemaron dari Mengwi beserta keluarga untuk ikut merasakan kedukaan. Oleh Raja Ubud disediakan tempat yang diberi nama Gerya Taman Sari.
Tidak beberapa lama, banyak putera – puteri Mangha-pura memenuhi Puri Kelodan tersebut. Mereka juga menempati desa – desa bekas wilayah Mengwi yang dikuasai Ubud. Raja Muda Manga-pura Anak Agung Mayun kemudian wafat di desa Sedang tahun 1894, jenasahnya dibakar di desa Lambing, bergelar Bhatara Ring Lambing.

Putera Mangha-pura Gagal Merebut Taman Ayun
            I Gusti Agung Gede Agung putera Bhatara Ring Rana, salah satu pewaris kerajaan Mengwi, berkehendak merebut paling tidak kawasan Taman Ayun yang dikuasai Badung. Seperti diketahui kawasan Pura Taman Ayun adalah tempat para leluhur beliau distanakan. Beliau mengirim utusan untuk meminta bantuan Ubud. Ubud menerima baik niat tersebut dan berjanji membantu mengembalikan kawasan Taman Ayun kepada putera Mangha-pura.
            Para hari yang ditentukan berangkatlah laskar dan putera – putera Mangha-pura yang dipimpin oleh I Gusti Agung Gede Agung menuju daerah Taman Ayun. Mereka terkejut disongsong oleh laskar dari Badung dalam jumlah yang banyak, yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Raka Dabot. Bantuan yang diharapkan dari Cokorda Ubud ternyata tidak datang. Terjadi pertempuran di desa Penarungan tahun 1897 M. Anak Agung Nyoman Kaler dari Puri Gerana tewas. Jenasahnya ditawan di Badung, bergelar Bhatara Ring Penarungan.
           
I Gusti Agung Gede Agung Raja Abian Semal
Sementara Raja Putera I Gusti Agung Gede Agung bersama rakyatnya mengungsi ke desa Abian Semal, daerah kekuasaan Ubud, dimana laskar Badung tidak berani mengejarnya. Di sini beliau berpikir memohon kebijaksanaan Dewa Agung agar diberikan wilayah untuk memerintah. Beliau mengutus ibundanya I Gusti Istri Raka ke Smara-pura. Dewa Agung Klungkung yang merasa kasihan atas nasib putera-putera Mangha-pura, mengutus I Gusti Ngurah Raka Dabot. Dewa Agung hanya memberikan bekas wilayah kerajaan Mangha-pura yang dikuasai oleh Ubud saja. Pihak Ubud menentang keputusan Dewa Agung ini.
Atas perintah Dewa Agung Klungkung, raja Badung dan Bangli membantu I Gusti Agung Gede Agung merebut bekas wilayah kerajaan Mengwi yang dikuasai Ubud. Setelah berhasil, I Gusti Agung Gede Agung kemudian dinobatkan menjadi Raja di Abian Semal, bergelar Cokorda Gede Agung tahun 1902 M. Adapun wilayah kekuasaan beliau kemudian adalah bekas wilayah Mangha-pura yang dirampas oleh Ubud dan Bangli.

Putera – Putera Mangha-pura diberi Kedudukan
Raja Abian Semal Cokorda Gede Agung menempatkan saudara – saudaranya ke daerah-daerah yang belum ada pemimpinnya, seperti :
1.      Putera-putera Bhatara Ring Badung: I Gusti Agung Oka dan I Gusti Agung Ketut Rai diberi kedudukan di desa Getasan, Pangsan, dan Sekarmukti. Selanjutnya membangun istana bernama Puri Anyar Getasan.
I Gusti Agung Ketut Kaler diberikan kedudukan di desa Abian Semal, mendirikan Puri Anyar Lebah.
I Gusti Agung Putu Alangkajeng diberikan kedudukan di desa Mambal, membangun Puri Anyar Kedampal.
I Gusti Agung Made Rai diberikan kedudukan di desa Lambing dan Sigaran, mendirikan Puri Anyar Lambing.
I Gusti Agung Made Ngurah diberikan kedudukan di desa Sedang, medirikan Puri Anyar Sedang. Kemudian beliau madwijati menjadi pendeta.
I Gusti Agung Nyoman Munggu menjadi Raja Muda Abian Semal, beliau menjunjung Pemarajan Dalem.
2.      I Gusti Agung Made Raka beserta adik-adiknya (putera Bhatara Ring Penarungan) diberi kedudukan di desa Gerana sampai ke Sangeh. Mendirikan istana baru bernama Puri Gerana.
3.      I Gusti Agung Made Oka dan adik-adiknya (putera Bhatara Ring Lambing) diberi kedudukan di desa Blahkiuh dan Pikat. Mendirikan istana bernama Puri Mayun Blahkiuh.
4.      I Gusti Ngurah Pacung diberi kedudukan di desa Carangsari, dan adiknya I Gusti Ngurah Alit Pacung diberi kedudukan di desa Petang. Kemudian keduanya melapaskan diri dari Abian Semal, bergabung kepada raja Ubud.
5.      I Gusti Ngurah Gede jelantik diberi kedudukan di desa Angantaka. Kemudian tidak mau tunduk dengan Abian Semal, bergabung kepada raja Ubud.
6.      I Gusti Ngurah Mayun diberi kedudukan di desa Sibang Kaja. Kemudian berbalik bergabung kepada Smara-pura.

Pasca Puputan Badung dan Puputan Klungkung
            Setelah kerajaan Badung lenyap ditaklukkan oleh Belanda dalam Puputan Badung yang puncaknya tanggal 20 September 1906, I Gusti Agung Made Oka yang berkedudukan di desa Blahkiuh berselisih dengan Raja Muda Abian Semal, I Gusti Agung Nyoman Munggu. I Gusti Agung Oka bersama dengan adik – adiknya, menyerahkan desa – desa kekuasaannya kepada Belanda. Oleh Belanda, I Gusti Agung Oka diberi kedudukan sebagai Punggawa pertama Mengwi. Sementara Puri Blahkiuh diserahkan kepada adiknya I Gusti Agung Ratu Mayun.
            Kemudian pada tanggal 28 April 1908, Semara-pura jatuh, Dewa Agung Klungkung Sesuhunan Bali – Lombok terakhir wafat dalam puputan Klungkung. Raja Abian Semal Cokorda Gede Agung, oleh Belanda kemudian diangkat sebagai Punggawa pertama Abian Semal. Karena sakit, Cokorda Gede Agung tidak lama menjadi Punggawa Abian Semal, beliau diganti oleh I Gusti Agung Ratu Mayun, putera Bhatara Ring Lambing.
            Demikianlah riwayat perjalanan putera – putera kerajaam Manghapura, masih panjang untuk diceritakan.
Sayang kerajaan besar seperti Mangha-pura lenyap sebelum Belanda mengusai Pulau Bali, sehingga daerah Mengwi tidak dapat dimasukkan ke dalam salah satu Kabupaten di Bali. Dengan berkuasanya  Belanda dan kemudian disusul dengan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), semuanya menutup riwayat Mengwi.


Diselesaikan pada Anggara – Kliwon – Tambir
Panglong Ping 5, Sasih ke Jyestha, Isaka 1927
Tanggal 3 Mei 2005

Ida Bagus Wirahaji, S.Ag

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar