Label

Selasa, 03 Desember 2013

Bali Tempo Dulu



BALI TEMPO DULU
(Ida Bagus Wirahaji)


BALI PADA ABAD XVI



Th 1580:
Pelaut terkenal Inggris Francis Drake telah mengunjungi Bali. Demikian juga Cavendish yang pernah berlayar di selat Bali (Agung, 1989). .

Th 1586:
Kapal Portugis kandas di dekat yang sekarang disebut Bukit. Para pedagang Portugis datang dari Malaka ingin menetap di Bali, akan tetapi maksudnya tidak tercapai (Agung, 1989).

2 April 1595:
Empat buah kapal Belanda berangkat dari pulau Texel (Belanda Utara) menuju Asia. Dalam perjalanan kapal yang bernama “Amsterdam” kandas dan tenggelam sehingga tinggal 3 kapal yang berlayar (Agung, 1989).

27 Januari 1597:
Rombongan Jacob Kackerlack dari Belanda tiba di Bali disambut dengan baik oleh penduduk setempat disuguh air minum dan makanan olahan daging babi yang lezat. Raja dikawal oleh tuan tanah yang sebagian besar menunggang kuda. Jumlah pengawal raja sekitar 300 orang dipersenjatai tombak, keris yang mirip dengan pedang Turki diselipkan dibalik lipatan pakaian. Tidak disebutkan nama raja dan kerajaan (Vickers, 2012).

Awal Februari 1597:
Ketiga kapal Belanda mendekati pulau Bali, dibawah pimpinan Komodor Cornelis de Houtman. Kapal pertama berlabuh di pantai Jembrana, kapal kedua berlabuh di Couten (Kuta), dan kapal ketiga berlabih di Couteraes (Labuhan Amuk). Dalam peta pelaut Belanda Bali disebut “Baelle”.
Tiga awak kapal yang berlabuh di Kuta, salah seorang diantaranya adalah Aernoudt Lintgens (Agung, 1989).

9 Februari 1597:
Awak kapal Aernoudt Lintgens diterima oleh penguasa di Badung, dimana Badung pada waktu itu masih merupakan bagian dari Kerajaan Mengwi (Mongopura). Komodor Cornelis de Houtman tidak ikut mendarat.
Dalam catatan Lintgens tidak disebutkan nama Raja, tapi dapat ditafsirkan yang berkuasa saat itu adalah Dalem Segening, adalah Dewa Agung Susuhunan Bali-Lombok. Lintgens menemui Raja di Gelgel diantar oleh yang disebutnya “Kijloer” (Pejabat Kerajaan). Lintgens melihat adanya persiapan pasukan Bali berjumlah 20.000 orang untuk merebut Blambangan yang diduduki oleh Sultan Agung Mataram.
Lintgens tercengang mendengar Raja (umur 40 tahun) beristeri 200 orang. Seorang anak laki 20 tahun disiapkan sebagai penggantinya. Sebaliknya raja juga tercengang mendengar berita yang dikatakan Lintgens, bahwa di Belanda berkuasa Pangeran Maurits Van Nassau berumur 30 tahun belum beristeri! Raja mengatakan di Bali pria kawin umur 12 tahun sedangkan wanita 9 tahun.
Lintgens menjelaskan iklim di Belanda yang silih berganti, tapi raja tidak percaya karena tidak tahu apa itu salju. Lintgens memperlihatkan peta dunia, dimana raja terkejut karena Bali begitu kecil. Raja sangat kagum atas luasnya wilayah Kekuasaan kerajaan Turki dan Tiongkok.
Dalam laporannya Lintgens mengatakan bahwa raja duduk di atas roda pedati, atapnya dihias, ditarik oleh 2 ekor kerbau putih (Agung, 1989).

16 Februari 1597:
Kapal2 Belanda meninggalkan Bali sebelumnya berkumpul di Labuhan Amuk. Di sini Cornelis de Houtman sempat mendarat untuk mencari air minum sebagai persediaan dalam pelayaran. Dua awak kapal dari rombongan Cornelis de Houtman, Emanuel Roodenburch dan Jacob Clasz tidak ikut pulang ingin menetap di Gelgel (Agung, 1989).



BALI PADA ABAD XVII



Awal Juni 1601:
Armada niaga Belanda kedua di bawah pimpinan Laksmana Cornelis Heemsherck, mengunjungi Dewa Agung Dalem Segening, membawa surat persahabatan dari Pangeran Maurits Van Nassau (Agung, 1989).

7 Juli 1601:
Surat balasan Dewa Agung Dalem Segening kepada Pangeran Maurits Van Nassau. Surat ditulis dalam daun lontar, tidak ditandatangani, diterjemahkan oleh Emmanuel Roodenburch dalam bahasa Belanda. Kalimat terakhir Dewa Agung dalam suratnya berbunyi: “Bali dan Holland adalah satu”, maksudnya menandakan hubungan baik. Dalam perkembangan selanjutnya kalimat inilah yang dipegang Belanda sebagai dasar untuk menguasai Bali (Agung, 1989).

Th 1632:
Sri Aji Panji Sakti Raja Buleleng mengangkat Ida Pedanda Sakti Ngurah Pemade sebagai bhagawanta puri. Pendeta ini memiliki keahlian khusus membuat senjata keris dan tombak bertuah, yang kemudian diwarisi oleh puteranya Ida Pedanda Sakti Lelandep (Sastrodiwiryo, 2007).

Th 1633:
Jan Oosterwijk mencatat adanya upacara mesatya di Bali. Pada pelebon dua putera raja, diikuti upacara mesatya sebanyak 42 (empat puluh dua) wanita untuk satu putera raja dan 34 (tiga puluh empat) untuk putera raja satunya lagi di tusuk dan dibakar. Namun wanita yang lebih tinggi derajatnya langsung menceburkan diri ke dalam bara api kremasi suaminya (Creese, 2012). Tidak disebutkan nama raja dan kerajaan, namun melihat angka tahun ini tampaknya yang dimaksud adalah zaman Suwecapura (Gelgel).

2 Februari 1633:
Surat Gubernur Jenderal kompeni Hendrik Brower di Batavia, menawarkan bantuan beras dan angkutan kapal untuk mengangkut pasukan Bali ke Blambangan. Dalem Segening sebagai Dewa Agung Susuhunan Bali-Lombok, berperang dengan raja Mataram Sultan Agung (Agung, 1989).

7 Oktober 1635
Raja Tabanan dan Kyai Ngurah Pacung bersama pasukan berangkat menuju Blambangan atas perintah Maharaja Dalem Di Made (Samsubur, 2011).

Th 1639:
Dewa Agung Dalem Segening mengirim utusan ke Batavia menghadap Gubernur Jenderal Kompeni dengan tujuan minta bantuan dalam menghadapi pasukan Sultan Agung dari Mataram. Permintaan ini ditolak karena Belanda tidak bermusuhan lagi dengan kerajaan Mataram (Agung, 1989).

16 April 1644:
Raja Mataram menyerang Bali dan mengirimkan lagi pasukannya ke Bali untuk memaksakan Bali agar menyerah (Sastrodiwiryo, 2011).

28 Agustus 1665:
I Gusti Panji Sakti, Raja Buleleng mengirim utusan dan bersurat kepada Pemerintah Hindia-Belanda. Surat tersebut melaporkan seorang aparat Belanda melakukan pembakaran terhadap beberapa perahu yang menewaskan beberapa orang. Panji Sakti juga memprotes penjualan perempuan Bali.
Pada waktu yang sama Agung Maruti juga berkirim surat kepada batavia yang dipimpin oleh I Gedor, yang isinya keinginan Gelgel mengadakan persahabatan (Sastrodiwiryo, 2011).

1 Maret 1666:
Meetsyuker, seorang pembesar VOC di Batavia menandatangani surat pernyataan yang mengakui kekuasaan Kyai Agung Di Made sebagai kepala pemerintahan di Bali (Sastrodiwiryo, 2011).

18 Oktober 1666:
Panji Sakti kembali berkirim surat kepada Batavia, menuntut seorang Belanda yang bernama Willem yang melanggar hukum adat melarikan seorang perempuan Bali ke Ambon. Utusan ini ditanggapi secara dingin, karena Batavia hanya mengakui Pemerintahan Gelgel (Sastrodiwiryo, 2011).

Juli 1674:
Pelaut Makasar Karaeng Galengsong bersembunyi dan minta perlindungan kepada Panji Sakti dai kejaran VOC Laksamana Speelman (Sastrodiwiryo, 2011).

Th 1676:
Gerombolan Pelaut Makasar dipimpin Karaeng Tallolo melakukan perampokan terhadap penduduk di Pantai Tulamben. Rumah-rumah penduduk dibakar, harta benda dijarah. Penduduk Tulamben yang berjunlah sekitar 5.900 mengungsi demi keselamatannya (Sastrodiwiryo, 2011).

Th 1667:
Muncul seorang yang berkuasa yang bernama “Gusty Agong” pemimpin Bali Selatan sebagai ‘Regen Gelgel’ yang menjadi leluhur Kerajaan Mengwi (Nordholt, 2009).

Th 1677:
Suatu laskar Bali melintasi semak belukar yang memisahkan Lombok Barat dan Lombok Timur menyerang orang2 Makasar di Sumbawa yang berakhir dengan hancurnya masyarakat Makasar atau Bugis (Agung, 1989).

Th 1678:
Kerajaan Seleparang dihancurkan oleh pasukan Bali, sehingga orang-orang Bali mulai menguasai seluruh Lombok (Agung, 1989).

Th 1685:
Christoffel Frikius berlayar ke Bali dengan kapal Hollandia. Ia bertemu dengan seorang makelar Belanda yang menjual seorang budak perempuan kepadanya seharga 18 Rd. Christoffel sengaja datang ke Bali untuk melihat upacara pembakaran mayat laki-laki dan pembakaran hidup-hidup dari jandanya yang melompat ke dalam kobaran api (Vickers, 2012).

Th 1686:
Terjadi pemberontakan di Gelgel yang dipimpin oleh I Gusti Agung Widia atau I Gusti Agung Maruti terhadap Dewa Agung Dalem Dimade. Pemberontak berhasil mengambil alih pemerintahan selama 19 tahun. Dengan demikian berakhirlah dinasti Dalem. Dalem Dimade melarikan diri ke Guliang, beliau wafat di sini. Jadi Dalem Dimade adalah dinasti Dalem yang terakhir (Agung, 1989).

Th 1687:
Sebuah surat tiba di Batavia yang dikirim oleh Dewa Agung Klungkung, yang memperkenalkan dirinya sebagai raja baru di Bali. Surat ini melaporkan bahwa pemberontak Gusti Agung telah mati terbunuh di Gelgel. Dengan demikian tidaklah benar bahwa yang mendirikan Kerajaan Mengwi adalah Gusti Agung, mantan patih yang lari dalam peperangan (Nordholt, 2009).

13 Oktober 1691:
Pembakaran mayat (ngaben) Pengeran Tawangalun Blambangan 25 hari setelah meninggal. Valentyn melihat ada 270 wanita mesatya, masuk ke dalam kobaran api sebagai tanda kesetiaan kepada raja yang dianggap sebagai wakil Tuhan (Samsubur, 2011)

Th 1697:
Sebuah ekspedisi dari Kerajaan Buleleng dikirim ke daerah Blambangan Jawa Timur. Agung Anom (Pangeran Mengwi) yang sedang mengabdi pada ayah mertuanya ikut dikirim ke Blambangan (Nordholt, 2009).


BALI PADA ABAD XVIII



Th 1704:
Raja Buleleng Panji Sakti wafat, ia meninggalkan warisan kekuasaan pada anak-anaknya, yang selanjutnya saling bertikai memperebutkan kekuasaan. Pada saat yang bersamaan penguasa Blambangan yang baru dikalahkan memberontak (Nordholt, 2009).

Th 1705:
Dewa Agung Jambe salah seorang anak Dalem Dimade ibu dari Badung, berhasil merebut kota Gelgel, dan mengusir pengkhianat. Dalam  pertempuran itu kota Gelgel hancur, sehingga Istana dipindahkan ke Klungkung dengan nama Semarapura,  Selama I Gusti Agung Maruti berkuasa di Gelgel, kerajaan2 di Bali tidak mengakui wilayahnya merupakan bagian dari kekuasaan Gelgel. Demikian juga ketika Dewa Agung Jambe berkuasa, kerajaan2 di Bali telah berdiri sendiri dan mengakui Dewa Agung Klungkung hanya sebatas pemimpin spiritual karena keturunan Sri Kresna Kepakisan (Agung, 1989).

Th 1710:
Sebuah sumber VOC menyebutkan seseorang yang beranama “Gusti Hagong van Magoehie’. Inilah Agung Anom dari Blayu, yang berhasil berkuasa di Mengwi dan berpengaruh kuat di Blambangan dan Buleleng (Nordholt, 2009).

Th 1713:
Putra raja Mengwi yang bernama Agung Panji bersama 300 pengikutnya gugur dalam memberantas pemberontak di daerahnya yang didukung oleh Kerajaan Sukawati. Sebuah pura didirikan di tempat ia gugur, yaitu di Pura Sada (Nordholt, 2009).

Th. 1715:
Agung Anom telah berkuasa di dalam dan di sekitar Desa Mengwi, kekuasaannya semakin meluas. Dinasti Mengwi terbentang di daratan subur antara dua sungai penting, yaitu Sungai Sungi dan Sungai Ayung (Nordholt, 2009).

Th 1717:
Agung Anom dari Mengwi memakai gelar Cokorda Gusti Agung. Dan pemerintahannnya berakhir 1722, ia meninggal karena sakit (Nordholt, 2009).

Th 1729 – 1730:
Raja Mengwi Agung Alangkajeng bersama 4.000 tentara melakukan perjalanan tirtayatra ke Majapahit, melewati: Wirasaba, Gunung Semeru (Nordholt, 2009).

Th 1733:
Terjadi peperangan yang sangat sengit di Banjar Ambengan Buleleng yang melibatkan 12.000 tentara dari Mengwi, Klungkung,  Tabanan, Sibetan Karangasem dan 1.000 tentara Blambangan melawan tentara dari cucu dari Panji Sakti Buleleng, yang didukung oleh Dewa Anom Sukawati dan Raja Taman Bali. Menurut cerita peperangan ini dimenangkan oleh pihak Agung Alangkajeng Mengwi berkat keris bertuah ‘Ki Semeru’ yang diperoleh atas anugerah Dewa Pasupati Gunung Mahameru/Semeru (Nordholt, 2009).

Th 1736:
Pangeran Menak Jingga/Pangeran Danuningrat (generasi terakhir dinasti Tawangalun) diangkat sebagai Raja Blambangan oleh Raja Mengwi. Ki Gusti Lanangjaya dari Denpasar diutus untuk melantik Raja Blambangan (Samsubur, 2011).

16 April 1736:
Gubernur Jendral Hindia-Belanda Abraham Patras menulis laporan kepada Ratu Belanda ke-17, bahwa Pangeran Danureja telah wafat dan jenazahnya dikremasi sesuai ajaran Hindu, diikuti belapati/mesatya oleh istri dan selirnya. Abu hasil pembakarannya di sthanakan di Candi Kuta (Bali) diberi gelar Dewa Nyurga. Hal ini kiranya benar, sebab kala itu Kuta masih dalam kekuasaan Mengwi. Raja Mengwi memandang Raja Blambangan Pangeran Danureja sebagai orang yang setia (Samsubur, 2011).

Th 1740:
Orang2 Bali mengkonsolidasi kedudukan mereka di Lombok Timur menguasai Praya, seluruh Lombok Timur dikuasai dipimpin oleh I Gusti Wayan Tegeh (Agung, 1989).
Gusti Made Kamasan penguasa Puri Sibang membngkar puri lama di Sibang dan membuat persimpangan jalan pada perbatasan Desa Sibang dan Desa Srijati lama. Puri baru dibangun di sebelah barat daya persimpangan. Sebagai Bagawanta pertama Puri diangkat Ida Pedanda dari Geriya Gede Den Kayu dan Bagawanta kedua dari Ida Pedanda dari Geriya Mambal (Nordholt, 2009),

Th 1770:
Raja Mengwi yang berpengaruh Cokorda Munggu wafat. Istrinya Gusti Ayu Oka menggantikan kedudukannya. Pasca kepemimpinannya Cokorda Munggu Mengwi mengalai krisis (Nordholt, 2009).

Th 1771:
Kerajaan Mengwi kehilangan daerah kekuasaan Blambangan. Benteng Mengwi terakhir di Jawa telah hancur (Nordholt, 2009).

Th 1775:
I Gusti Wayan Tegeh, pemuka orang2 Bali di Lombok Timur wafat, terjadi perpecahan soal penggantinya, sehingga Lombok terpecah-pecah menjadi 4 kerajaan, yaitu: Kerajaan Karangasem-Lombok  ibukota Cakranegara, Mataram-Lombok ibukota Mataram, dan dua kerajaan kecil  Pagutan dan Pagesangan, terletak di Selatan Mataram. Kerajaan Karangasem-Lombok yang terbesar (Agung, 1989).

Th 1780:
Raja Buleleng I Gusti Jelantik Satra wafat, diganti oleh anaknya I Gusti Made Jelantik. Timbul perpecahan antara I Gusti Made Jelantik dengan sepupunya I Gusti Nyoman Penarungan atau I Gusti Made Singaraja yang ingin berkuasa. I Gusti Nyoman Penarungan membangun Istana, 1,5 km Selatan kota Singaraja, sehingga ada dua raja. Raja Karangasen Gusti Gde Karangasem memanfaatkan situasi tersebut, dia menyerbu I Gusti Made Jelantik, yang melarikan diri dan wafat di Tabanan. Demikian juga I Gusti Nyoman Singaraja dipaksa turun. Raja Karangasem mengangkat Gusti Nengah Bengkel sebagai wakil raja Karangasem dengan julukan Gusti Nyoman Jelantik. Ia adalah generasi terakhir dinasti Panji menjadi raja. Karena penggantinya salah seorang pangeran dari Puri Karangasem yang bernama Gusti Gde Ngurah Karangasem (Agung, 1989).

Th 1794:
Putra Mahkota Mengwi mangkat, Ratu Patni Ayu Oka mengambil alih kekuasaan. Akan tetapi tidak lama ia membuat kesalahan fatal, jayuh cinta pada Raja Gianyar Dewa Manggis Di Madia. Urusan kerajaan diabaikan karena dimabuk asmara. Kerajaan satelit seperti Blahbatuh dan Kramas dikuasai Kerajaan Gianyar. Demikian juga Ayu Oka menyerahkan sebuah keris pusaka leluhurnya (Nordholt, 2009).


BALI PADA ABAD XIX




Th 1804:
Kerajaan mengwi kehilangan kontrol terhadap pelabuhan-pelabuhan di Jembrana. Kerajaan Badung yang dibantu oleh orang-orang Bugis menguasai pelabuhan-pelabuhan di Jembrana.
Agung Ngurah Made Agung baru saja memerintah Kerajaan Mengwi, Puri Sibang diserbu Badung. Mengwi tidak mampu mempertahankan. Pada zaman perintahan Ayu Oka Mengwi dapat menghalau sarangan Badung di Padangluah. Satu-satunya rute laut yang masing dikuasai Mengwi adalah pesisir Pantai Seseh (Nordholt, 2009)

Th 1807:
Ratu Patni Mengwi Ayu Oka merasa sudah tua menobatkan putra mahkota yang baru meskipun berasal dari ibu berkasta rendah. Ia menyandang gelar Gusti Agung Ngurah Made Agung. Dalam dokumen resmi, raja baru ini menggunakan gelar Ida Sang Amawa Bhumi, yang berarti dia yang mengemban dunia, tertera dalam Paswara Mengwi:13 (Nordholt, 2009).

18 September 1807:
Mads Johhann Lange seorang warga Denmark, lahir di Pedusunan Rudkobing, Demark. Ia ke Bali sebagai Pedagang dan beralih kewarganegaraan menjadi warga negara Belanda. Dalam perkembangan berikutnya ia memainkan peranan yang amat penting (Agung, 1989).

Th 1808:
Suatu laskar besar Buleleng dipimpin Adipati Agung Gusti Nyoman Jelantik menyerbu orang2 Bugis yang berjumlah 1.200 Jiwa di Jembrana. Penyerbuan dilakukan setelah raja Buleleng Gusti Gde Ngurah Karangasem minta ijin kepada raja Badung Gusti Ngurah Made Pemecutan, karena kekuatiran akan besarnya warga Bugis yang dapat menyaingi kerajaan Buleleng (Agung, 1989).

Th 1808:
Gunung Agung yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Bali meletus. Letusan disertai dengan uap dan abu vulkanik. Letusan ternyata berlanjut sampai tahun 1821 (Bali Post: 07.03.2005).

15 Januari 1808:
Willem Herman Daendels tiba di Batavia. Ia diangkat oleh raja Louis Napoleon sebagai Gubenur Jenderal Pemerintah Hindia Belanda (Agung, 1989).

Pertengahan tahun 1808:
Gubernur Jenderal Daendels mengutus Letnan Lisnet ke Bali bertemu dengan  Raja Badung I Gusti Ngurah Made Pemecutan. Maksudnya untuk mencari putera2 Bali dijadikan pasukan Belanda. Letnan Lisnet hanya berhasil mengumpulkan 37 orang (Agung, 1989).

28 Nopember 1808:
Pertama kalinya, utusan Belanda Kapten Van der Wahl yang dikirim  Gubernur Jenderal Willem Herman Daendels, menemui Raja Badung I Gusti Ngurah Made Pemecutan untuk menandatangani Kontrak Perjanjian. Isi perjanjian mengijinkan pihak Belanda membangun benteng2 dan pangkalan2 meriam serta mendaratkan pasukan dalam jumlah yang tidak terbatas. Perjanjian ini ditentang keras oleh raja2 di Bali (Agung, 1989).

Th 1810:
Raja Badung I Gusti Ngurah Made Pemecutan mengundurkan diri sebagai Raja Badung, karena merasa bersalah mengadakan perjanjian dengan pihak Belanda (Agung, 1989).

Th 1811:
Residen Yogyakarta pada  masa pendudukan Inggris Crawfurd mencatat adanya upacara pembakaran hidup-hidup (satya) janda Raja Buleleng dari dinasti Karangasem sebanyak 74 (tujuh puluh empat) orang (Creese, 2012).

Th 1813:
Pendiri Kerajaan Badung Gusti Made Pemecutan wafat. Sesuai wasiat, Kerajaan Badung diperintah oleh 3 Raja :
1.      I Gusti Gde Pemecutan
2.      I Gusti Made Pemecutan
3.      I Gusti Jambe Denpasar
Dalam perkembangan selanjutnya, I Gusti Made Pemecutan muncul sebagai Raja yang paling berpengaruh di Badung, dan sejak tahun 1830 dikenal sebagai I Gusti Ngurah Kesiman. Sementara Raja Denpasar adalah seorang sangat lemah dan pengisap candu. Sehingga Raja Kesiman berhasil menguasai semua harta Kerajaan Denpasar (Agung, 1989).

Th 1813:
Pelebon keluarga bangsawan Kerajaan Buleleng I Gusti Wayan Jelantik, dikuti ritual mesatya 20 wanita. Upacara mesatya disaksikan oleh Crawfurd Residen Yogyakarta pada masa pendudukan Inggris pada tahun 1811 – 1816  (Creese, 2012) .

Th 1814:
Raja Buleleng I Gusti Gde Ngurah Karangasem yang sejak tahun 1808 menguasai Jembrana, menyerang Banyuwangi, akan tetapi dipukul mundur oleh pasukan Inggeris. Sebagai balasan satuan eskader AL Inggeris dikirim ke Buleleng untuk memberi pelajaran dan menduduki kota Beleleng (Agung, 1989).

Th 1815:
Gunung Tambora di Sumbawa meletus membawa musibah di Bali, karena sawah2 ditimbuni oleh abu letusan. Raja I Gusti Ngurah Gde Karangasem mengirim utusan ke Batavia untuk minta bantuan beras.
Residen Purbolinggo diperintahkan untuk mengirim bantuan berupa 30 koyang (900 pikol) beras ke Buleleng (Agung, 1989).

Th 1816:
Sesuai dengan Traktaat Londen, pemerintah Inggeris menyerahkan Kepulauan Indonesia kepada Belanda (Agung, 1989).

Tahun 1817:
I Gusti Jambe Denpasar wafat diganti oleh anaknya I Gusti Gde Ngurah Denpasar (Agung Gde: 1989).

15 Oktober 1817:
Keputusan Komisaris Jenderal Elout dan Barron Van der Capellen menetapkan Komisaris Van den Broek disertai wakilnya Roos ke Bali untuk membuat perjanjian dengan semua raja2 di Bali (Agung, 1989).

1 Desember 1817:
Rombongan Komisaris Van den Broek menumpang kapal perang “Celypso” dari Batavia ke Banyuwangi, maksudnya untuk menemui dulu raja Buleleng. Dari Gilimanuk dia menuju ke ibukota Jembrana di kediaman raja I Gusti Gde Ngurah Karangasem (Agung, 1989).

14 Desember 1817:
Setiba di Banyuwangi Van den Broek jatuh sakit, ia memerintahkan wakilnya Roos menuju Gilimanuk. Dua hari kemudian Van den Broek menyusul (Agung, 1989).

18 Desember 1817:
Rombongan Komisaris Van den Broek tiba di pantai desa Pengambengan, terus menuju Jemberana (Agung, 1989).


24 Desember 1817:
Pertemuan Komisaris Van den Broek dengan Raja I Gusti Gde Ngurah Karangasem. Ia menyampaikan kepada raja surat2 dari Komisaris Jenderal dan menjelaskan tujuannya. I Gusti Gde Ngurah Karangasem tidak bersedia menerima hadiah dari Van den Broek berupa tekstil karena raja tidak biasa menggunakan pakaian yang mahal harganya (Agung, 1989).

21 Januari 1818:
Setelah gagal mengadakan perjanjian dengan raja Buleleng, Van den Broek bertolak dari desa Loloan yang menumpang perahu sewaan menuju Badung (Agung, 1989).

22 Januari 1818:
Van Broek mendarat di Kuta, dimana Badung diperintah oleh 3 penguasa. Van Broek menemui Raja I Gusti Ngurah Gde Pemecutan (Agung, 1989).

23 Januari 1818:
Komisaris Van den Broek berhasil menghadap raja I Gusti Ngurah Made Pemecutan. Kesan yang diperoleh raja Badung menunjukkan sikap persahabatan (Agung, 1989).

7 Februari 1818:
Pagi hari Van den Broek berangkat dari Denpasar menuju Gianyar, perjalanan ditempuh selama 10 jam karena jalan rusak (Agung, 1989).

8 Februari 1818:
Van den Broek bertemu dengan Raja Gianyar Dewa Manggis. Kesan yang didapat, Dewa Manggis seorang  yang cerdas, banyak punya hubungan dengan orang2 Cina, umurnya sekitar 60 tahun, telah bertahta 30 tahun. Raja Badung bila mengambil keputusan penting senantiasa minta nasehat Dewa Manggis (Agung, 1989).

9 Februari 1818:
Broek meninggalkan Gianyar kembali ke Badung, karena diberitahu oleh Dewa Manggis bahwa utusan Raja Mengwi menunggu di Denpasar.
Setiba di Badung utusan dari Mengwi sudah meninggalkan Badung kemarin. Utusan Mengwi memberi pesan setuju turut dalam perjanjian dengan Belanda (Agung, 1989).

16 Februari 1818:
Broek ke Mengwi dan kembali pada hari yang sama. Mengwi diperintah oleh 2 Raja; I Gusti Agung Made Agung dan I Gusti Agung Ketut Agung.
Nampak rakyat Mengwi belum pernah melihat orang berkulit putih, mereka bersorak menertawakan Broek. Broek menanggapi sikap rakyat itu sebagai suatu penghinaan, oleh karenanya melakukan protes keras kepada Raja Mengwi (Agung, 1989).
Kedua putera raja sempat menjamu Broek. Broek melihat kedua putera raja berpakaian tidak layak – betul-betul telanjang. Sebagai pemegang kekuasaan tertinggi keduanya menunjukkan  sikap tidak terhormat, urakan dan serampanan. Hampir semua usulan Broek tidak mendapatkan jawaban yang berarti. Raja tua mengaku dirinya udah tidak campur tangan lagi tentang urusan kerajaan. Raja tua membisikkan bahwa dia seorang tukang adu ayam (Vickers, 2012).

18 Februari 1818:
Perutusan dari Bali diantar oleh wakil Komisaris Roos terdiri dari 12 orang termasuk utusan dari Gianyar yaitu Dewa Made Sandat dan dari Mengwi (Agung, 1989).

23 Juni 1818:
Broek berjumpa dengan Raja Badung I Gusti Ngurah Made Pemecutan yang terakhir kalinya sebelum pamitan. Malam itu juga Broek ke Pantai Barat Kuta (Agung, 1989).

22 Oktober 1818:
Terjadi bencana tanah longsor dan banjir bandang. Salah satu dinding di bukit Danau Buyan dan Danau Tamblingan jebol (Sastrodiwiryo, 2011). Bencana ini menewaskan rakyat dan beberapa pembesar kerajaan. Seperti:  Ki Gusti Bagus Jelantik Banjar patih yang beristana di Puri Bangkang, Ki Gusti Wayan Panji, Ki Gusti Wayan Penebel, serta Ki Gusti Nyoman Penarungan, sama-sama tinggal di Sukasada semuanya tewas terbenam lumpur. Lokasi jebolnya dinding bukit itu sekarang tepat pada ceking Tamblingan, di tepi jalan menuju Munduk di tepi Danau Tamblingan. Rakyat kemudian memohon Ida Pedanda Geriya Gede untuk mengeluarkan keris Pusaka Ki Embah Pangkung (Sastridiwiryo, 2007).


Th 1821:
I Gusti Made Pahang, putera dari  I Gusti Gde Karangasem dengan laskar besar menyerbu Jembrana. I Gusti Ngurah Jembrana gugur. Dengan demikian sejak saat itu Jembrana menjadi wilayak kekuasaan Kerajaan Buleleng, sampai perang Jagaraga tahun 1849 (Agung, 1989).

30 Desember 1826:
Penandatanganan Perjanjian rekruting calon-calon prajurit Badung untuk pasukan Belanda, karena Belanda kehabisan pasukan sewaktu Perang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponogoro (Agung, 1989).

Th 1827:
Pierre Dubois ditugaskan oleh pemerintah Hindia-Belanda untuk merekrut tenaga-tenaga dari Bali untuk mambatunya pihak Belanda dalam perang melawan Diponogoro (Vickers, 2012).

Th 1829:
Raja Mengwi Gusti Agung Ngurah Made Agung meninggal. Setelah diaben dilakukan upacara ngluwer oleh anaknya Agung Putra (Nordholt, 2009).
Pierre Dubois sempat menyaksikan upacara pembakaran keluarga raja Denpasar dan pembakaran hidup-hidup 4 jandanya. Baginya ini perjalanan yang mengerikan, tidak ada yang lebih biadab daripada lingkaran pemakaman ini
 (Vickers, 2012).

20 Mei 1835:
Residen Banyuwangi Riesz mengirim seorang pengamat bernama Pak Jembrong, seorang pedagang Banyuwangi menuju Bali untuk melihat aktivitas perdagangan antara Lombok-Bali-Singapura (Agung, 1989).

18 Agustus 1835:
Pak Jembrong menuju Badung tiba di Pantai Kuta. Ia melihat Kuta sebagai pelabuhan yang ramai. Ada 40 perahu yag berlabuh, 16 diantaranya berasal dari Singapura (Agung, 1989).

Th 1837:
Lahir seorang pejuang dari desa Banjar Buleleng Ida made Rai. Waktu itu yang berkuasa di Buleleng adalah I Gusti Made Karangasem dan patinya I Gusti Ketut Jelantik (Sastridiwiryo, 2007).

Awal Th 1838:
Perang antara Kerajaan Karangasem-Lombok dengan Mataram-Lombok. Raja Mataram-Lombok Anak Agung Ketut Karangasem gugur tertembak, peperangan dilanjutkan oleh anaknya I Gusti Gde Ngurah Karangasem (Agung, 1989).

Awal Juni 1838:
Tiba bantuan dari Karangasem dipimpin oleh Rajanya sendiri I Gusti Bagus Karang. Ratu Gusti Ngurah panji dengan keluarga dan pengikutnya berjumlah 300 orang mengadakan puputan di istana Cakranegara sehingga berakhirlah Perang Lombok I (Agung, 1989).

1 Agustus 1839:
Dibuka Kantor usaha dagang Belanda secara resmi di Kuta yang disebut Factorij (Agung, 1989).

Akhir Agustus 1839:
Pedagang Demark Mads Johhann Lange tiba di Kuta Badung dengan kapal kecil “Venus”, setelah kalah memihak Kerajaan Karangasem-Lombok melawan Kerajaan Mataram-Lombok (Agung, 1989).


Akhir Desember 1839:
Raja Karangasem-Lombok I Gusti Ngurah Made Karangasem yang mengalami kekalahan melawan Kerajaan Mataram-Lombok ditangkap dan dibunuh setelah melarikan diri ke Praya. Kedua anaknya laki dan perempuan yang berumur sekitar 4 tahun berhasil diselamatkan dan diasuh di istana Dewa Agung klungkung. Dewa Agung sangat marah atas kejadian ini.
Dua kerajaan kecil Pagutan dan Pagesangan turut dihancurkan karena membela Kerajaan Karangasem-Lombok. Muncullah satu2nya kerajaan di Lombok dan diubah namanya menjadi Kerajaan Seleparang (Agung, 1989).

Tahun 1840:
Seorang Raja Putri di Badung Ratu Putu Ngurah yang disegani oleh Raja2 di Badung berhasil mencegah peperangan antara Kerajaan Badung dengan Dewa Agung Klungkung. Ketegangan ini disebabkan karena kekuatiran Klungkung dengan kebesaran Raja Kesiman yang tampil sebagai pemimpin di Badung (Agung, 1989).

27 April 1840:
Rombongan Komisaris Bali-Lombok Huskus Koopman ditemani Pangeran Syarif Hamid dari Pontianak sebagai juru bahasa tiba di Pantai Barat Kuta (Agung, 1989).

7 Juli 1840:
Raja I Gusti Made Pemecutan wafat. Diganti oleh putranya yang masih muda, tidak mempunyai kepribadian yang kuat dan pengisap candu, sehingga tidak dapat mengatur pemerintahan (Agung, 1989).

1 Mei 1841:
Surat Perintah Gubernur Jenderal Pieter Merkus mengutus Huskus Koopman yag kedua kalinya ke Bali Badung. Ia mengadakan pendekatan kepada Raja Kesiman dan Pemecutan untuk berusaha mengadakan penandatanganan perjanjian persahabatan (Agung, 1989).

29 Juli 1841:
Kapal dagang Belanda berukuran cukup besar bernama “Overijsel” berlayar dari Plymouth Inggeris karam di dekat pulau Serangan, dirampas oleh penduduk setempat sesuai dengan hukum “tawan karang” (Agung, 1989).

11 Nopember 1841:
Komisaris Pemerintah Huskus Koopman berhasil menandatangani naskah kontrak perjanjian persahabatan dengan Raja Karangasem (Agung, 1989).

26 Nopember 1841:
Perjanjian persahabatan antara Pemerintah Hindia-Belanda dengan Raja Buleleng (Agung, 1989).

6 Desember 1841:
Dewa Agung Susuhunan Bali-Lombok menandatangani Surat Perjanjian Persahabatan dengan Pemerintah Hindia-Belanda yang diwakili Huskus Koopman (Agung, 1989).

Tahun 1842:
Kerajaan Badung dan Mengwi berperang. Raja Mengwi Agung Mayun berhasil memenangkan perang ini. Ini merupakan kemanangan perntama dari dinasti Mengwi dalam kurun waktu 60 tahun (Nordholt, 2009).

22 September 1842:
Gubernur Jenderal Pieter Merkus mengeluarkan surat keputusan yang berisi petunjuk baru kepada Komisaris Huskus Koopman agar dengan jalan bagaimanapun hukum Tawan Karang dapat dihapuskan (Agung, 1989).

28 Nopember 1842:
Penandatanganan naskah perjanjian oleh ketiga Raja di Badung dengan Komisaris Pemerintah Hindia-Belanda Huskus Koopman. Perjanjian antara lain memuat penghapusan hukum Tawan Karang (Agung, 1989).

Th 1843:
Gunung Agung meletus, didahului dengan sejumlah gempa bumi. Letusan ini menghasilkan abu vulkanik, pasir, dan batu apung. (Bali Post: 07.03.2005).

1 Mei 1843:
Penandatanganan perjanjian penghapusan hukum Tawan Karang oleh Raja Karangasem dengan Komisaris Huskus Koopman (Agung, 1989).

24 Mei 1843:
Penandatanganan perjanjian penghapusan hukum Tawan Karang antara Dewa Agung Klungkung dengan Komisaris Huskus Koopman.
Kerajaan Bangli, Mengwi, Tabanan tidak diikutsertakan dalam perjanjian ini, karena kerajaan tersebut tidak memiliki pantai yang bagus (Agung, 1989).

3 Juni 1843:
Pedagang Denmark Mads Johhann Lange berhasil memperoleh kewarganegaraan Belanda secara resmi. Permohonannya disetujui tidak terlepas dari jasanya memberi nasehat kepada Huskus Koopman dalam menghadapi Dewa Agung Klungkung (Agung, 1989).

Th 1844:
Pasukan Tabanan berhasil menguasai desa Marga, salah satu desa besar di wilayah Kerajaan Mengwi, yang menyebabkan Mengwi senantiasa waspada menghadapi Tabanan (Agung, 1989).

Mei 1845:
Sebuah kapal bernama “Atut Rachman” berbendera Belanda kandas dan karam di pantai desa Karang Anyar di daerah kekuasaan Kerajaan Karangasem, dirampas oleh penduduk. Pihak Belanda melakukan protes keras, karena merupakan pelanggaran terhadap perjanjian yang telah disepakati (Agung, 1989).

5 Mei 1845:
Berlabuh kapal perang Belanda “Bromo” berbobot besar membawa Residen /Komisaris JFT Mayor dan rombongan di Pabean Buleleng. Sesuai perjanjian maka di darat dikibarkan bendera Belanda. Rombongan terdiri dari 12 orang, 10 orang Belanda, seorang Pangeran Syarif Hamid Algaderi dan seorang Bupati Basuki (Agung, 1989).



7 Mei 1845:
Syahbandar memberitakan bahwa Raja I Gusti Ngurah Made Karangasem bersedia menerima rombongan esok hari. Perundingan tidak segera diadakan karena menunggu Adipati Agung I Gusti Ketut Jelantik. Perundingan antara lain bertemakan soal penghapusan hukum Tawan Karang (Agung, 1989).

8 Mei 1845:
Dalam perundingan dengan rombongan Komisaris JFT Mayor, Adipati Agung berbicara lantang dan keras sampai didengar di luar sehingga menimbulkan kegaduhan. Salah satu kalimat Adipati yang terkenal: “Orang tidak dapat menguasai negeri orang lain hanya dengan sehelai kertas, hal demikian hanya dapat diputuskan oleh ujung keris”.
Rombongan meninggalkan perundingan tanpa pamitan, hampir terjadi insiden di pintu gerbang tempat keluarnya rombongan karena rakyat berjejal (Agung, 1989).

30 September 1845:
Rochussen dilantik sebagai Gubernur Jenderal yang baru menggantikan Petrus Merkus yang sudah habis masa jabatannya. Peristiwa “ I Gusti Ketut Jelantik” menjadi pendorong bagi Belanda untuk mengadakan tindakan militer yang memang menjadi tujuannya (Agung, 1989).

6 Februari 1846:
Surat Keputusan Gubernur Jenderal Rochussen untuk menyiapkan pasukan ekspedisi untuk menaklukkan Kerajaan Buleleng juga bila perlu Karangasem (Agung, 1989).

17 Februari 1846:
Gubernur Jenderal Rochussen mengeluarkan Surat Keputusan penting yang memberi petunjuk terakhir pelaksanaan aksi militer terhadap Kerajaan Buleleng dan Karangasem (Agung, 1989).

23 Februari 1846:
Surat Keputusan Gubernur Jenderal Rochussen menunjuk Friederich, seorang ilmuwan di bidang Agama dan Kebudayaan Timur ikut serta dalam ekspedisi militer untuk mengumpulkan pustaka2 Hindu Jawa Kuno yang termasyur itu (Agung, 1989).

3 April 1846:
Bebarapa utusan dari Raja Seleparang tiba di Surabaya dalam perjalanannya ke Batavia. Mereka memberitahu, Raja Seleparang Gusti Ngurah ketut Karangasem akan membantu dalam penyerbuan ke Buleleng dan Karangasem (Agung, 1989).

13 April 1846:
Pertemuan Raja2 di Badung, yaitu: Raja Kesiman I Gusti Gde Ngurah Kesiman, Raja Pemecutan I Gusti Gde Ngurah Pemecutan, Raja Denpasar IGusti Gde Ngurah Denpasar untuk membahas dan mengambil sikap terhadap surat yang diberikan Dewa Agung.
Raja Kesiman mengatakan, apabila Badung tidak menuruti perintah Dewa Agung, sudah jelas Tabanan bersikap yang serupa.
Mads J Lange ikut hadir dalam pertemuan ini (Agung, 1989).

15 April 1846:
Laporan Wakil Pemerintah Hindia-Belanda untuk Bali Mads J Lange, isinya Dewa Agung Klungkung mengirim surat kepada semua Raja di Bali untuk mengadakan perlawanan kepada Belanda (Agung, 1989).

21 Juni 1846:
Armada Belanda yang mengangkut pasukan ekspedisi berkumpul dan berangkat dari Besuki (Agung, 1989).

24 Juni 1846:
Armada kapal2 Belanda mencapai pantai Buleleng. Komisaris Pemerintah JFT Mayor disertai Panglima pasukan ekspedisi Letkol G Bakker menyampaikan ultimatum Gubernur Jenderal JJ Rochussen kepada Syahbandar Buleleng untuk diserahkan kepada Raja. Isinya selambat-lambatnya 3 x 24 jam harus sudah ada jawaban (Agung, 1989).

26 Juni 1846:
Surat Raja Buleleng atas ultimatum Belanda. Isinya penangguhan waktu untuk memberikan jawaban selama 10 hari, karena akan berunding dengan Dewa Agung Klungkung sebagai Susuhunan Bali-Lombok.
Penangguhan ini ditolak oleh Belanda (Agung, 1989).

28 Juni 1846:
Dini hari pasukan ekspedisi militer Belanda didaratkan di sebelah Timur, di sebuah sawah desa Buleleng sesuai dengan peta yang dibuat oleh Lettu Von Stampa. Sedangkan meriam2 kapal perang dari tempat berlabuh di pantai memuntahkan peluru (Agung, 1989).

29 Juni 1846:
Pasukan ekspedisi Belanda menuju kota Singaraja, ternyata pasukan Bali tidak memberikan perlawanan. Raja beserta pembesar kerajaan sudah meninggalkan kota dan istana (Puri). Sesuai instruksi maka istana Singaraja dihancurkan (Agung, 1989).

30 Juni 1846:
Surat laporan Mads Lange kepada Residen Besuki/Komisaris Pemerintah untuk Bali, isinya Raja Bangli Dewa Gde Tangkeban mengirim utusan kepadanya, yang mengatakan Raja Bali menyesalkan Belanda tidak menyertakan pasukan Bangli menyerang Buleleng. Raja menyiapkan 1000 orang (Agung, 1989).




13 Juli 1846;
Gubernur Jenderal JJ Rochussen dari Batavia menumpang kapal perang tiba di Pantai Buleleng menerima penghormatan pasukan ekspedisi yang telah mencapai kemenangan dan memamerkan kekuatan militernya (Agung, 1989).

9 Agustus 1846:
Surat Keputusan Gubernur Jenderal yang mengatur soal pampasan perang yang harus dibayar oleh Raja Buleleng dan Karangasem (Agung, 1989)

30 Juni 1847:
Surat Wakil Pemerintah Mads J Lange kepada Residen Besuki/Komisaris Pemerintah JFT Mayor, isinya dia didatangi oleh penasehat utama Dewa Agung Klungkung Ida Wayan Sidemen. Penasehat tersebut menyampaikan peringatan Dewa Agung kepada Belanda yang telah melanggar perjanjian tidak akan menguasai  Bali (Agung, 1989).

30 Oktober 1847:
Raja Gianyar Dewa Manggis (VI) wafat. Diganti oleh Dewa Pahang, oleh karena belum “mabiseka ratu” belum berhak memakai gelar “Manggis”. Kemudian mabiseka ratu pada tahun 1856, bergelar Dewa Manggis VII (Agung, 1989).

20 Desember 1847:
Pembakaran jenasah Raja Gianyar Dewa Manggis (VI) diikuti upacara mesatya oleh 3 (tiga) orang wanita selir. Ketiga wanita itu berpakain putih-putih dengan perasaan bangga meloncat kedalam bara api tanpa terlebih dahulu menusuk diri dengan keris (Creese, 2012).

7 Maret 1848:
Ultimatum Gubernur Jenderal JJ Rochussen kepada Raja Buleleng, isinya (Agung, 1989):
1.      Ganti rugi atas perampasan terhadap perahu karam di Pantai Lirang sebuah desa kecil di Buleleng oleh penduduk setempat yang berlayar dari Pamekasan.
2.      Benteng2 dan kubu2 pertahanan yang dibangun sesudah perang 1846 harus dihancurkan.
3.      Adipati Gusti Ketut Jelantik harus diserahkan kepada Panglima Angkatan Perang Belanda.

22 April 1848:
Gubernur Jenderal JJ Rochussen mengeluarkan pengumuman perang antara Pemerintah Hindia-Belanda dengan ketiga raja di Bali, yaitu Dewa Agung Klungkung, Raja Buleleng, dan Raja Karangasem (Agung, 1989).

8 Juni 1848:
Ekspedisi Militer Belanda II, mendarat di Pantai Sangsit Timur pk 4.00. Siang hari desa Bungkulan jatuh. Karena hari sudah gelap diputuskan esoknya menuju ke Jagaraga (Agung, 1989)

9 Juni 1848:
Pasukan ekspedisi Belanda bergerak menuju desa Jagaraga berhadapan dengan 2 kubu pertahanan Bali yang cukup kuat. Pertempuran berlangsung  dari pagi hingga siang hari dengan sengit. Pasukan Belanda mengundurkan diri menuju Pantai Sangsit Timur (Agung, 1989).

10 Juni 1848:
Panglima Van der Wijck memerintahkan pasukan untuk naik ke kapal. Pasukan ekspedisi yang naik ke kapal dikejar oleh rakyat Bali mendapat perlindungan dari meriam2 yang ditembakkan dari kapal2 yang berlabuh. Hari itu juga pasukan ekspedisi sudah meninggalkan Pantai Sangsit Timur (Agung Gde: 1989).
Laporan Letkol Van Swieten korban pasukan Bali 3 pedanda, 35 Brahmana. Angka ini diperoleh dari Raja Kesiman I Gusti Gde Ngurah Kesiman, dikutip dari surat Adipati Agung/Panglima Perang Gusti Ketut Jelantik yang disampaikan kepada Dewa Agung Klungkung (Agung, 1989).

19 Juni 1848:
Kapal api Onrust tiba di muka pantai Bungkulan membawa surat keputusan dari Gubernur Jenderal JJ Rochussen, berisi petunjuk mengenai kelanjutan ekpedisi militer tersebut (Agung, 1989).

20 Juni 1848:
Panglima Mayor Jenderal Van der Wijck mengadakan rapat dengan semua perwira tinggi untuk membahas beberapa kemungkinan, yaitu (Agung, 1989):
1.      Tindakan militer merebut benteng Jagaraga
2.      Operasi militer terhadap Dewa Agung Klungkung
3.      Penghancuran kampung2 di pantai Kerajaan Buleleng
4.      Pasukan ditarik demi kepentingan pertahanan di Pulau Jawa.

24 Juni 1848:
Gubernur Jenderal JJ Rochussen menyampaikan surat kepada Panglima tertinggi Tentara Kerajaan Belanda di Hindia-Belanda.
Mayor Jenderal Van der Wijck minta dibebastugaskan ingin kembali ke Belanda. Gubernur Jenderal menunjuk Mayor Jenderal Michiels sebagai Panglima ekspedisi militer III yang diberangkatkan ke Bali (Agung, 1989).

28 Maret 1849:
Panglima Mayjend Michiels tiba di pelabuhan Buleleng menumpang kapal perang “Etna” dan berpendapat pasukan ekspedisi tidak perlu mengadakan gerak tipu menuju Sangsit, akan tetapi langsung menuju ke pantai Buleleng (Agung, 1989).

2 April 1849:
Raja Buleleng dan Karangasem lewat utusan membawa surat, isinya bersedia mengakui kedaulatan Pemerintah Belanda. Jenderal Michiels tidak mau menerima utusan, dia hanya ingin bertemu dengan kedua raja tersebut. Suluruh armada invasi Belanda sudah tiba dan berlabuh di Pantai Buleleng.(Agung, 1989)

4 April 1849:
Semua pasukan dengan seluruh perlengkapannya sudah didaratkan tanpa mendapat perlawanan. Kota Singaraja dikosongkan, pasukan Bali menuju desa Jagaraga. Jenderal Michiels memencarkan pasukannya di sekeliling kota dan memilih Puri sebagai tempat konsolidasi (Agung, 1989).

7 April 1849:
Tepat pk 15.00 tiba di Singaraja Raja Karangasem I Gusti Gede Ngurah Karangasem (30 th) dengan Adipati Agung I Gusti Ketut Jelantik dikawal lebih 12.000 orang pasukan Bali.
Pasukan Bali semuanya bersenjata tombak terhunus dengan tangkai berwarna merah dan berpakaian seragam terdiri dari kain putih dengan semacam rompi merah sedang kepalanya diikat sehelai kain putih. Pertemuan baru dapat berlangsung pada hari itu karena hujan terus dan banyak jembatan yang hancur (Agung Gde: 1989)
Dalam pertemuan itu Jenderal Michiels menguraikan syarat2 sbb (Agung, 1989)
1.      Pengakuan kedaulatan terhadap Pemerintah Hindia-Belanda
2.      Menyerahkan dan mengosongkan Benteng Jagaraga
3.      Menghancurkan kubu2 pertahanan

11 April 1849:
Kota Singaraja dan Pelabuhan Buleleng sudah dikosongkan oleh pasukan ekspedisi Belanda. Mulai saat itu pasukan ekspedisi dipusatkan di Sangsit (Agung, 1989).

13 April 1849:
Raja dengan Adipati Agung Buleleng, dan Raja Karangasem didampingi pembesar dan Pedanda kerajaan dikawal ribuan pasukan bertemu dengan Jenderal Michiels di Sangsit, membicarakan syarat2 yang diajukan oleh pihak Belanda (Agung, 1989).

14 April 1849:
Panglima Jenderal Michiels mengeluarkan perintah harian kepada seluruh pasukan untuk mempersiapkan diri, karena serangan terhadap benteng Jagaraga akan dilangsungkan esok dini hari (Agung, 1989).

15 April 1849:
Pertempuran di Jagaraga. Pasukan Belanda dipimpin Jenderal Michiels, Letkol Van Swieten, dan Letkol De Brauw. Pertempuran selama sehari penuh hingga jauh malam (Agung, 1989).

16 April 1849:
Pk 11.00 Benteng Jagaraga jatuh, sebagai tanda pasukan Belanda mengibarkan bendera Belanda dan meriam ditembakkan dari kapal2 perang Belanda yang berlabuh di pantai Sangsit. Raja, Adipati Buleleng dan Raja Karangasem mengungsi di daerah Batur. Batur dulu daerah kekuasaan Kerajaan Bangli yang dikuasai Kerajaan Buleleng. Raja Bangli Dewa Gde Tangkeban atas ijin Panglima Jenderal Michiels menyerang kedua raja dan Adipati di Batur, sehingga kedua raja dan Adipati bersama pasukannya mengungsi ke kota Karangasem.
Setelah Benteng Jagaraga jatuh, Jenderal Michiels menawarkan kepada raja Bangli, Dewa Gde Tangkeban untuk menjadi Dewa Agung Susuhunan Bali-Lombok menggantikan Dewa Agung Klungkung. Akan tetapi Raja Kesiman, Pemecutan dan Tabanan tidak bisa menerima (Agung, 1989).
26 April 1849:
Raja Bangli Dewa Gde Tangkeban tiba di Sangsit dikawal 2.000 orang pasukan, mengadakan pertemuan dengan Jenderal Michiels. Raja Bangli mengajukan permintaan agar diberi kekuasaan menguasai kembali wilayah2nya yang duduki oleh Kerajaan Buleleng, Karangasem, Mengwi, dan Gianyar (Agung, 1989).

29 April 1849:
Karena Benteng Jagaraga jatuh, yang berarti berakhir pula kekuasaan Kerajaan Buleleng di Jembrana. Belanda mengangkat I Gusti Alit Gentuh sebagai Raja Jembrana (Agung, 1989).

9 Mei 1849:
Armada Invasi Belanda dengan semua pasukan meninggalkan Pantai Sangsit menuju ke Labuan Amuk Bali Selatan (Agung, 1989)

12 Mei 1849:
Armada Invasi Belanda tiba di Labuan Amuk dari Sangsit (Agung, 1989).

13 Mei 1849:
Panglima Jenderal Michiels memerintahkan Letkol Van Swieten dengan 3 Kompi pasukan mendarat dan mengadakan penyelidikan di daerah sekitarnya sebelun pasukan didaratkan (Agung, 1989).

14 Mei 1849:
Pembantu Komisaris Kapten Ajudan Van Cappellen ke Lombok untuk menemui Raja Seleparang dengan pemberitahuan bahwa Jenderal Michiels bersedia menerima tawaran Raja Seleparang yang bersedia mengirim 4000 orang pasukan membantu menyerang Karangasem dengan imbalan2 (Agung, 1989).

16 Mei 1849:
I Gusti Made Jungutan Adipati Agung Kerajaan Karangasem yang berselisih paham dengan Raja, mengirim sepucuk surat lewat salah seorang pembekel di desa Labuan Amuk, isinya ingin bertemu dengan Panglima Jenderal Michiels, dengan tujuan menyerah dan membelot. Panglima menerima Adipati Agung ini pada malam harinya, dan menyerahkan pasukannya bersama pasukan Seleparang untuk membantu Belanda (Agung, 1989).

17, 18, dan 22 Mei 1849:
Kerajaan Badung menyerang Mengwi, akan tetapi berhasil dipukul mundur oleh pasukan Mengwi yang mengakibatkan 30 orang korban di pihak Badung. Hal ini dilaporkan oleh Wakil Pemerintah Hindia-Belanda (Agung, 1989).

18 Mei 1849:
Jenderal Michiels mengirim 10 kapal pengangkut ke Ampenan untuk mengangkut pasukan bantuan dari Lombok yang berjumlah 4000 orang (Agung, 1989).


19 Mei 1849:
Pasukan bantuan Seleparang tiba di Labuan Amuk di bawah pimpinan I Gusti Gde Rai (Agung, 1989).

20 Mei 1849:
Pasukan Seleparang pimpinan I Gusti Gde Rai dan pasukan Adipati Agung I Gusti Made Jungutan menguasai desa Ujung di sebelah Selatan kota Karangasem. Raja Karangasem gugur dalam puputan ini. Sementara pasukan Belanda tidak dapat didaratkan karena ombak sangat besar.
I Gusti Ketut Jelantik dan anaknya lari ke daerah Seraya, dikejar dan dibunuh oleh pasukan Seleparang (Agung, 1989).

24 Mei 1849:
Pasukan Belanda dibagi dalam 2 koloni, masing2 dipimpin oleh Jenderal Michiels dan Letkol Van Swieten.
Belanda menyerbu Goa Lawah terus ke Kusambe dibantu oleh Raja pasukan Seleparang pimpinan I Gusti Gde Rai. Dewa Agung Klungkung dibantu oleh Dewa Pahang dari Gianyar.
Goa Lawah dapat diduduki Belanda, pasukan Bali mengundurkan diri ke Kusambe sekitar 4 Km dari Goa Lawah. Kemudian Panglima Michiels secara cepat menggerakkan pasukannya ke Kusambe. Belanda menguasai Kusambe pk 15.00, pasukan Bali mengundurkan diri ke Klungkung (Agung, 1989).

25 Mei 1949:
Pk 03.00 ribuan pasukan Bali berhasil menyusup ke desa Kusambe dan mendadak menyerang Belanda. Jenderal Michiels tertembak kaki kanannya. Pk 23.00 ia meninggal.
Seluruh pasukan Belanda bergerak lagi menuju Padang Bai sementara Kusambe dikosongkan (Agung, 1989)

27 Mei 1849:
Jenazah Panglima Jenderal Michiels diangkut dengan kapal “Etna” ke Batavia. Dengan demikian Letkol Van Swieten sebagai perwira senior tertua ditunjuk menjabat sebagai Panglima (Agung, 1989).

28 Mei 1849:
Pemimpin pasukan Seleparang I Gusti Gde Rai menyerahkan tiga buah keris kepada Letkol Van Swieten di Padang Bai. Ketiga keris itu masing-masing milik Raja Buleleng, Raja Karangasem, dan I Gusti Ketut Jelantik, sebagai bukti ketiga tokoh tersebut telah gugur (Agung, 1989).

2 Juni 1849:
Pertemuan di tempat antara Kusambe dan Goa Lawah, dihadiri oleh utusan Dewa Agung, Raja mengwi, Raja Gianyar dan pemimpin pasukan Seleparang I Gusti Gede Rai, membahas situasi politik di Bali (Agung, 1989).
Raja Bangli Dewa Gde Tangkeban tidak ikut dalam pertemuan itu, karena takut meninggalkan kerajaannya. Dia kuatir saat berada di luar kerajannya akan diserang oleh Mengwi dan Klungkung (Agung, 1989).

9 Juni 1849:
Pemimpin pasukan Lombok I Gusti Gde Rai, menerima surat dari Putera Mahkota  Kerajaan Klungkung yang bertindak sebagai Adipati Agung Dewa Agung Ketut Agung, isinya kepada Letkol Van Swieten bahwa Dewa Agung tidak dapat menghadiri pertemuan 10 Juni 1849. Surat yang sama juga diterima dari Dewa Pahang Raja Gianyar.
Raja2 Badung I Gusti Gde Ngurah Kesiman dan I Gusti Gde Ngurah Pemecutan dan Raja Tabanan dengan pasukan 16.000 orang tiba di Klungkung, untuk membantu Dewa Agung apabila diserang oleh Belanda, peristiwa ini dilaporkan oleh Wakil Pemerintah Hindi-Belanda untuk Bali Mads Lange (Agung, 1989).

14 Juni 1849:
Pertemuan di Kusambe dihadiri raja-raja di Bali, Raja Kesiman, Gianyar, Adipati Mengwi, pembesar2 Kerajaan Klungkung dan Tabanan, dan Pangeran Bernhard Von Saxe Weimar.
Kusambe mulai ditinggalkan pasukan Belanda.
Pasukan Belanda tidak jadi menyerang Dewa Agung Klungkung karena berkat diplomasi dari Raja Kesiman I Gusti Gde Ngurah Kesiman dibantu oleh Mads Lange. Raja Kesiman memberi jaminan kepada Belanda bahwa Dewa Agung akan mematuhi segala syarat perjanjian dan bertanggung jawab atas kejujuran Dewa Agung (Agung, 1989).

15 Juni 1849:
Raja Bangli Dewa Gde Tangkeban diberi wilayah kekuasaan oleh Belanda untuk memerintah Buleleng selain Bangli, setelah Buleleng ditaklukkan Belanda. Upacara berlangsung di Singaraja dan dilantik oleh Letkol Van Swieten, melalui surat keputusan Pangeran Bernhard Von Saxe Weimar. Demikian juga I Gusti Ngurah Ketut Karangasem, Raja Seleparang diberi wilayah kekuasaan Karangasem (Agung, 1989).

22 Juni1849:
Pangeran Bernhard von Saxe Weimar bertemu dengan Raja Bangli Dewa Gde Tangkeban, menyatakan terimakasih Pemerintah kepada Raja Bangli atas segala bantuan yang diberikan (Agung, 1989).

25 Juni 1849:
Surat Keputusan Pangeran Bernhard von Saxe Weimar yang ditetapkan di atas kapal api “Etna” yang berlabuh di pabean Buleleng, menetapkan (Agung, 1989):
1.      I Gusti Putu Ngurah Jembrana sebagai Raja Jembrana.
(Jembrana adalah bekas wilayah kekuasaan Kerajaan Buleleng. Setelah benteng Jagaraga jatuh, yang berarti takluknya Kerajaan Buleleng, maka Jembrana menjadi wilayah yang lepas dari Kerajaan Buleleng.
2.      Dewa Gde Tangkeban dinobatkan sebagai Raja Bangli dan Buleleng.
3.      Raja Seleparang I Gusti Ngurah Ketut Karangasem dinobatkan sebagai Raja Karangasem.

2 Juli 1849:
Letkol Van Swieten mengunjungi Kerajaan Badung untuk mengadakan tukar pikiran dengan ketiga Raja di sana, terutama dengan Raja Kesiman, I Gusti Gde Ngurah Kesiman, yang telah memainkan peranan yang sangat menyolok (Agung, 1989).

13 Juli 1849:
Pertemuan di rumah Mads Lange di Kuta untuk membahas situasi politik di Bali, dihadiri oleh Letkol Van Swieten dan Raja2 Bali seperti (Agung, 1989):
1.      Dewa Agung di Klungkung, Dewa Agung Putera karena lanjut usia dan sakit2an diwakili oleh Putra Mahkota Dewa Agung Ketut Agung
2.      Ketiga Raja di Badung (I Gusti Ngurah Gde Pemecutan, I Gusti Ngurah Made Pemecutan, dan I Gusti Ngurah Gde Denpasar)
3.      Raja Tabanan, Ratu I Gusti Ngurah Agung
4.      Raja Gianyar, Dewa Pahang, dan
5.      Raja Mengwi, I Gusti Agung Ketut Agung

15 Juli 1849:
Belanda berhasil mencapai kesepakatan dengan raja-raja Bali yang berisi pengakuan kedaulatan Pemerintah Hindia-Belanda. Dimana Karangasem dan Buleleng sudah ditaklukkan Belanda. Tidak kurang dari 30.000 pengikut Raja Bali Selatan hadir dalam penandatangan yang dilaksanakan di Kuta Badung (Nordholt, 2009).

11 Desember 1849:
Mads J Lange dianugrahi jasa kehormatan tertinggi berupa bintang, atas jasa2nya dalam penyelesaian masalah politik di Bali. Kunci kesuksesannya adalah karena mendapat kepercayaan besar dari Raja2 di Bali. Raja Kesiman I Gusti Gde Ngurah Kesiman adalah teman karibnya (Agung, 1989).

Th 1850:
Sejak tahun ini wilayah inti Kerajaan Mengwi sepenuhnya didominasi oleh Puri Mayun, yang membentang antara desa Sangeh. Sementara wilayah kekuasaan Puri Sibang di bagian Timur, Puri Kapal Kaleran di bagian selatan, dan kekuasaan Puri Blayu di daerah barat-laut (Nordholt, 2009).

14 Mei 1850:
Pasukan Tabanan menyerang Mengwi. Peperangan terjadi di daerah Blayu. Pihak Tabanan menderika korban banyak, dipukul mundur oleh Mengwi (Agung, 1989).

24 Mei 1850:
Pasukan Badung menyerang Mengwi, akan tetapi berhasil dipukul mundur oleh Mengwi (Agung, 1989).

18 Agustus 1850:
Pembakaran jenasah Dewa Agung Putera. Putra mahkotanya Dewa Agung Ketut Agung bergelar Dewa Agung Putra (Agung, 1989).

1 Desember 1850:
Raja Kesiman teman akrab Mads Lange diberi hadiah 2 buah Meriam Tembaga (Agung, 1989).

Th 1853:
Kerajaan Gianyar menyerbu dan menguasai daerah Payangan dan Tampaksiring (Agung, 1989).


Th 1854:
Permulaan Tahun 1854, dilangsungkan upacara widi wedana terhadap Cokorda Putra (putra dari Cokorda Rai Raja Payangan) dan Cokorda Oka (putra dari Raja Tampaksiring). Kedua putera mahkota itu diangkat sebagai anak angkat Bagnda Raja Gianyar (Mahaudiana, 1968).
Ida Made Rai secara turun-tumurun diangkat sebagai Punggawa Banjar pada usia 17 tahun. Sudah merupakan tradisi dari Brahmana Banjar yang diangkat sebagai punggawa yang disebut Manca Siwa Agung (Sastrodiwiryo, 2007).

15 Pebruari 1854:
Raja Bangli Dewa Gde Tangkeban mengembalikan wilayah Buleleng yang diberikan oleh Belanda, karena merasa tidak mampu memerintah Buleleng (Agung, 1989).

31 Maret 1855:
Mads J Lange diberhentikan secara hormat sebagai Wakil Pemerintah Hindia-Belanda untuk Bali, disertai ucapan terimakasih atas jasa2nya. Ia diganti oleh PL van Bloemen Waanders dan berkedudukan di Buleleng (Agung, 1989).

17 Agustus 1855:
Raja Jembrana I Gusti Putu Ngurah juga mengembalikan wilayah Jembrana, yang diberikan oleh Belanda pada tanggal 25 Juni 1849, karena tidak mampu memerintah rakyat setempat (Agung, 1989).

13 Mei 1856:
Mads lange wafat, makamnya sampai sekarang ada di Kuta. Usaha dagangnya diteruskan oleh anaknya, tetapi tidak berkembang, karena semenjak Belanda menguasai Buleleng pusat perdagangan dipindahkan ke Buleleng dan menjadi pelabuhan yang ramai (Agung, 1989).
Mads Lange bersahabat dengan Raja Kesiman. Lange datang ke Bali pada saat yang tepat. Hidupnya menjadi makmur karena meningkatnya aktivitas perdagangan antara Bali dan Singapura. Diduga kuat kematian Lange karena diracun (Vickers, 2012).

Th 1856:
Penobatan Dewa Pahang, di Gianyar bergelar Dewa Manggis VII (Agung, 1989).
Serangan hama tikus yang merusak panen di Mengwi, Tabanan, dan Badung (Nordholt, 2009).

Th 1857:
Belanda mengangkat Gusti Ngurah Ketut Jelantik sebagai asisten Residen di Singaraja. Pengangkatan ini atas bantuan Ketut Liarta, yang diangkat juga sebagai patih mengemban raja salah seorang keturunan Panji Sakti (Sastrodiwiryo, 2007).

10 Desember 1858:
Delapan kapal perang dan kapal pengangkut Belanda berlabuh di Pabean Buleleng, untuk menyerang rakyat Banjar Jawa yang memberontak dipimpin oleh Nyoman Gempol. Nyoman Gempol diasingkan ke Jawa (Agung, 1989).

20 Desember 1860:
Belanda melantik I Gusti Ngurah Ketut Jelantik sebagai Raja Buleleng, yang masih ada hubungan kekeluargaan dengan dinasti Panji Sakti cabang Kubu Tambahan (Agung, 1989).

Tahun 1861:
Teman akrab Mads Lange Raja I Gusti Ngurah Gde Kesiman, yang memegang peranan di Badung  wafat. Ia diganti oleh anaknya yang juga bergelar I Gusti Gde Ngurah Kesiman (Agung, 1989).

Tahun 1862:
Agung Made Raka pemimpin angkatan perang Kerajaan Mengwi (yang mendapat anugerah selendang gaib dewa)  melancarkan serangan kilat ke Desa Marga. Penguasa Marga lari ke Kerajaan Tabanan. Agung Made Raka sampai di Pura Gunung, sebuah pura kerajaan di tepi Danau Beratan, melakukan upacara besar sebagai penghormatan terhadap leluhurnya. Rupanya kemenangan ini tidak bertahan lama, karena 3 tahun kemudian penguasa Marga kembali ke tempat asalnya, dan Puri Marga tetap menjadi satelit Kerajaan Tabanan (Nordholt, 2009).

Th 1868:
Tabanan dan Mengwi mengalami gagal panen yang disebabkan oleh serangan hama tikus. Banyak orang menjadi budak karena terbelit hutang. Kolera dan disentri yang masuk dari Buleleng. Sedikitnya 2.000 orang meninggal (Nordholt, 2009).

21 Juli 1868:
Residen Mispelbloem Beijer tiba di Singaraja untuk melihat perkembangan di Banjar Bulelng. Residen ini bertanggung jawab atas wilayah Jemberana dan Buleleng. Kedatangannya bukannya membuat suasana menjadi tenang malah semakin tegang. Di disambut oleh Regent Gusti Ngurah Ketut Jelantik yang memakai busana Raja Buleleng (Sastrodiwiryo, 2007).

Sep-Okt 1868:
Peristiwa yang sangat sulit dihadapi Belanda karena di daerah Banjar ini kaum Brahmana berpengaruh di desa ini memberontak, seperti: desa Kalianget, Dencarik, Tanggawisia, dan Patemon (Agung, 1989).

20 September 1868:
Punggawa Banjar Ida Made Rai tidak muncul. Jam 10.30 pasukan Belanda bergerak dari Temukus menyerang Banjar. Pasukan dipimpin langsug oleh Mayor Heemskerk, yang bermaksud menikam laskar Banjar melalui sebuah jurang di Dencarik. Letan Steigman dan Niys bersama 14 serdadu Belanda tewas. (Sastridiwiryo, 2007).

3 Oktober 1868:
Serangan II Belanda di Banjar dibantu oleh pasukan Kerajaan Buleleng yang dipimpin oleh Gde Dangin berjumlah 1.600 orang, menyerbu pembrontak (Agung, 1989).

12 Oktober 1868:
Pk. 05.00 pasukan Belanda bergerak menuju Banjar. Rakyat Banjar memberikan perlawanan yang sengit. Belanda kalah dalam perang ini (Agung, 1989).

23 Oktober 1868:
Pasukan Belanda yang dipimpin oleh de Brabant dengan cepat menguasai Banjar Tegehe dan Yeh Panes, berikutnya Banjar Ambengan dan Banjar Paras. Pasukan sampai di depan Geriya Gede di Banjar Munduk. Di tempat ini Belanda menghadapi perlawanan yang berlapis-lapis. Pejuang-pejuang yang gugur di depan Geriya Gede antara lain: Ida Nyoman Ngurah, Ida Made Kajeng, (Sastrodiwiryo, 2007).

25 Oktober 1868:
Desa Tanggawisia dan Patemon jatuh, dikuasai Belanda (Agung, 1989).

30 Oktober 1868:
Kolonel Brabant ke Tanggawisia menyaksikan sumpah kesetiaan rakyat kepada pemerintah Belanda (Agung, 1989).

13 Nopember 1868:
Rakyat di desa Banjar beramai-ramai datang ke Singaraja bersumpah setia kepada Belanda. Sumpah ini belum memuaskan karena pemimpn mereka Ida Made Rai lolos (Sastrodiwiryo, 2007).

19 Nopember 1868:
Ida Made Rai yang memimpin gerakan di Banjar yang melarikan diri, ditemukan dipersembunyiannya di desa Denkayu Mengwi, ditangkap dan dibuang di Periangan Bandung (Agung, 1989).
Menurut keterangan keluarga Brahmana Banjar, semua pejuang yang dibuang itu kembali pulang, kecuali Ida Made Rai dan Men Blegug. Muncul spekulasi bahwa Ida Made Rai dieksekusi mati. Keadaan ini memicu ketegangan antara Geriya Gede Banjar dengan Geriya Gede Denkayu, karena pihak Denkayu membuka rahasia persembunyian Ida Made Rai (Sastrodiwiryo, 2007).

2 Maret 1869:
Made Guliang anak buah Ida Made Rai ditemukan bersembunyi di desa Wongaya Tabanan. Tempat persembunyiannya dikepung oleh orang-orang Wongaya. Made Guliang tidak menghiraukan perintah untuk menyerah. Akhirnya ia dikeroyok beramai-ramai, sekujur tubuhnya dipenuhi tusukan tombak. Mayatnya diarak di sekeliling desa Wongaya (Sastrodiwiryo, 2007).

Th 1870:
Raja Seleparang A  A Ngurah Ketut Karangasem wafat. Diganti oleh saudaranya yang terkenal dengan nama Ratu Agung Agung (2x) Gde Ngurah Karangasem. Raja inilah yang menghadapi Belanda tahun 1894. Sedangkan untuk memerintah di Karangasem diangkat 2 Raja, yaitu : I Gusti Gde Putu dan I Gusti Gde Jelantik (Agung, 1989).

Th 1871:
Raja Mengwi Agung Mayun meninggal, bertepatan dengan hari raya Galungan. Pemerintahan seorang pemimpin terkemuka berakhir pada hari yang luar biasa. Ketiga anaknya telah membagi kerajaan. Yang paling bungsu membangun Puri Grana. Sementara raja di Puri Gede, tapi ketagihan candu hingga melunpuhkan kedua kakinya. Kakak tertua Agung Made Raka (Nordholt, 2009).

Th 1872:
Regent Buleleng Gusti Ngurah Ketut Jelantik dicurigai berkhianat oleh Belanda dibuang ke Padang Sumatera (Sastrodiwiryo, 2007).

April 1874:
Pendukung I Gusti Putu Bebed berdemontrasi di kota Singaraja dan di Pabean Buleleng, menuntut kepada Belanda agar I Guti Putu Bebed di jadikan regent/raja (Agung, 1989).

Th 1880:
Dewa Agung Klungkung mengirim diplomatnya Ida Pedanda Gede Ketut Pidada mampu memulihkan perdamaian antara Puri Sibang dengan Mengwi, dan menjadikan Puri Sibang sebagai persekutuan Klungkung. Dalam kesepakatan ini Puri Klungkung memberikan Puri Sibang sebuah pura yang bernama Pura Dalem Dasar (Nordholt, 2009).

Th 1881:
Raja Bangli Dewa Gde Tangkeban wafat. Sebelum wafat anak-anaknya dikumpulkan dan disuruh bersumpah agar tidak pernah mengadakan perjanjian apapun dengan Raja Gianyar selama daerah-daerah Bangli yang direbut Gianyar tidak dikembalikan. Seperti: Payangan, Tampaksiring, dan lain-lain (Agung, 1989).
Julius Jacobs seorang Belanda berkunjung ke Gianyar diterima raja Gianyar yang sakit karena pecandu berat opium. Jacobs didampingi oleh prebekel Ketut Pasek yang bertugas sebagai penterjemah (Vickers, 2012).

16 Agustus 1881:
Penobatan Raja Bangli bergelar I Dewa Gde Tangkeban (Agung, 1989).

1 Juli 1882:
Dibentuk Keresidenan Bali-Lombok yang berkedudukan di Singaraja, dengan Residen Tuan Hoos, yang membawahkan seorang Kontrolir yang bernama E. Schalk (Agung, 1989).
3 September 1883:
Surat Keputusan Pemeritah Hindia-Belanda No. 3 tentang pengakuan Pemerintah Hindia-Belanda terhadap penggabungan Kerajaan Gianyar dengan Kerajaan Klungkung (Mahaudiana, 1968).

4 April 1884:
Rakyat Apuan mengadakan rapat, memutuskan kesetiaan kepada Raja Gianyar, beralih kepada Raja Bangli. Sebab rakyat tidak senang dengan anak Dewa Manggis VII; Dewa Ngurah Ratna Kania yang mengadakan hunbungan gelap dengan istri pembekel desa I Gangsar. Raja Bangli menerima permintaan rakyat Apuan dengan syarat membuat kubu-kubu pertahanan terhadap serangan Gianyar (Agung, 1989).

Th 1884:
Jatuhnya Kerajaan Gianyar akibat perang dengan Kerajaan Klungkung. Dewa Agung membangun fron di Selatan secara bertahap. Raja Gianyar yang sudah tua dan didesak oleh gundik mudanya untuk menyingkirkan dua penasihatnya yang paling penting, yakni dua bersaudara Made dan Ketut Pasek yang sangat dikenal dengan pemimpin perang dan administrator pemerintahan. Setelah mereka dicopot dari lingkaran pengiring raja, keuasaan kerajaan semakin lemah (Nordholt, 2009).

Maret 1884:
Pertengahan Maret 1884 angkatan perang Kerajaan Gianyar dibawah pimpinan I Ketut Sara menyerang Desa Apuan. Serangan ini gagal karena pasukan Kerajaan Bangli membalas dengan tembakan-tembakan dalam jumlah yang lebih banyak, dibawah pimpinan Dewa Made Raka. Seluruh pasukuan Kerajaan Gianyar ditarik mundur (Mahaudiana, 1968).

1 Agustus 1884:
Kembali pasukan Kerajaan Giayar menyerang Desa Apuan yang dipimpin oleh I Ketut Sara. Pasukan dari Pejeng menyerang dari barat-laut, pasung dari Sukawati menyerang dari barat-daya, namun masih jauh dari benteng musuh. Kedua pasukan tersebut bertemu di satu area dan tidak saling mengenal, akhirnya mereka saling bunuh dengan sesama teman sendiri. Pasukan Bangli merasa geli menonton peristiwa ini. Korban meninggal pasukan Gianyar diberitakan sebanyak 300 orang (Mahaudiana, 1968).

Th 1885:
Negara (wilayah Gianyar), menyatakan melepaskan diri dari Kerajaan Gianyar, dan menyatakan Negara bagian dari Kerajaan Dewa Agung Klungkung (Agung, 1989).
Mantan panglima perang Mengwi yang terkenal Agung Made Raka meninggal di kedaiaman besannya di Badung. Agung Kerug meminta agar Raja Badung agar bersedia memberikan mayat ayahnya. Meskipun terjadi perselisihan dengan ayahnya, Agung Kerug berharap dapat menyelenggarakan pelebon ayahnya. Ini akan meningkatkan haknya untuk bisa menjadi penerus ayahnya dan dia akan kembali memperoleh dua pusaka hebat yang telah dibawa oleh ayahnya ke Badung. permintaan ini ditolak Raja Badung, dan pengabenen dilaksanakan di kuburan Badung. Agung Kerug merasa kehormatannya dipertaruhkan, dia menutup persediaan air irigasi ke Badung, diperbatasan di desa Sempidi. Air yang mengalir dicemari dengan daun-daun yang menimbulkan gatal-gatal dan pingsan, sehingga penduduk di Badung tidak bisa meminum atau memakainya untuk mandi. Pemblokiran ini menjadi senjata yang ampuh, sejumlah sawah-sawah di Badung gagal panen. Inilah yang memicu perang antara Badung dengan Mengwi(Nordholt, 2009) .

Januari 1885:
Permulaan bulan,  Punggawa Negara Cokorda Oka memberontak terhadap Kerajaan Gianyar atas dukungan Dewa Agung Klungkung. Dewa Agung berpendapat, lebh baik Kerajaan Gianyar dilenyapkan daripada Kerajaan Bangli, meskipun Bangli menolak menyerahkan Desa Apuan kepada Ganyar. Kerajaan Bangli yang sudah berserikat dengan Pemerintah Hindia-Belanda di Buleleng menjadi pertimbangan Dewa Agung Klungkung untuk tidak bermusuhan dengan Kerajaan Bangli (Mahaudiana, 1968).

3 Pebruari 1885:
Laskar Bangli dipimpin Dewa Made Raka menyerang kerajaan Gianyar dan menduduki 10 desa, di Selatan Bukit Jati, dan Samplangan. Raja Gianyar Dewa Manggis VII lari ke Banjarangkan di tempat saudaranya Dewa Ngurah Banjarangkan yang menjabat sebagai Punggawa (Agung, 1989).

4 Pebruari 1885:
Utusan Dewa Agung Klungkung menuju Banjarangkan, meminta Raja Gianyar Dewa Manggis VII untuk melepas senjata dan mambatasi jumlah pengiring untuk menghadap Dewa Agung Klungkung. Raja Gianyar menyerahan pusaka leluhurnya seperti keris Ki Baru Kama, Raksasa Bedak dan sepasang tombak Ki Baru Alis dan Ki Sadeg. Sesampai di Klungkung, ternyata Raja Gianyar tidak diperkenankan menghadap Dewa Agung, disuruh ke Puri Satriya di kediaman Cokorda Rai, dan diasingkan bertahun-tahun di sini. I Ketut Sara dijadikan hamba sayaha di Puri Klungkung, sedangkan I Ketut Pasek yang setia mengiring Raja Gianyar dibunuh dengan kejam di Desa Takmung. Sisa keluarga layng lain diberi hukuman selong ke Pulau Nusa Penida (Mahaudianan, 1968).

Th 1886:
Hubungan Mengwi dan Klungkung memburuk, karena Agung Kerug memberi suaka kepada tiga penguasa Gianyar yang berperang dengan Dewa Agung (Nordholt, 2009).

30 Agustus 1890:
Laskar gabungan Ketewel, Batuyang, Batubulan. Singapadu, Sukawati, Celuk, batuan, Lodtunduh, dan Selakarang dipimpin Cokorda Oka menyerang Ubud dan Peliatan. Penyerangan dimulai dari Desa Katiklantang dan Jukutpaku, sedangkan penyerangan ke Peliatan dimulai dari Desa Sakah. Desa Katiklantang dan Jukutpaku menjadi lautan api. Pemimpin pasukan Cokorda Oka mengalami patah tulang paha sehingga tidak dapat berlari, ia dikeroyok hingga tewas di tengah sawah Subak Penambeng. Mayatnya dibawa ke Puri Mas, atas pemohonan putrinya Dewa Ayu Muter akhirnya mayat dibawa ke Negara. Akhirnya seluruh kekuasaan Negara menyatakan takluk kepada tiga serangkai Peliatan, Ubud dan Tegalalang (Mahaudiana, 1968).

Th 1891:
Suku Sasak di Lombok mulai memberontak terhadap kekuasaan Raja Ratu Agung Agung Gde Ngurah Karangasem. Belanda mengirim pasukan dalam jumlah yang besar ke Lombok dengan alasan menolong suku Sasak (Agung, 1989).

24 April 1891:
Raja Gianyar Dewa Manggis VII yang diasingkan di Puri Satrya akhirnya wafat. Permaisuri Dewa Manggis VII meminta pendeta bhagawanta Kerajaan Gianyar Ida Pedanda Ketut Pidada untuk menyelidiki lebih jauh. Putera mahkota Dewa Ngurah Pahang dan adiknya Dewa Gde Raka melaksanakan pelebon raja (Mahaudiana, 1968).

Mei 1891:
Penyerangan terhadap Puri Negara oleh Ubud dan Mengwi. Puri Negara dibakar habis dan perlawanan Klungkung terlihat pecah. Namun, sebeuah serangan balik mendadak dilancarkan dan dalam suasana kacau dan panik sejumlah pejuang Mengwi menyerah, sedangkan sejumlah besar lainnya tewas terbunuh (Nordholt, 2009).

Awal Juni 1891:
Dewa Agung Klungkung menyebarkan surat kontar ke seluruh kerajaan di Bali yang mengabarkan serangan akhir ke Mengwi dan memberhentikan Raja Mengwi. Badung dan Tabanan mengikuti perintah Dewa Agung, dengan cepat menuju Mengwi. Badung mempunyai alasan yang cukup kuat untuk membuat perhitungan dengan Mengwi, karena sejak tahun 1885 sebagian besar sistem irigasi telah diblokir sehingga selama 6 tahun sebagian besar sawah-sawah di barat Badung gagal panen (Nordholt, 2009).

16 Juni 1891:
Tiga punggawa Kerajaan Gianyar, yaitu Punggawa Sukawati, Blahbatuh, dan Abianbase yang minta suaka di Kerajaan Karangasem diijinkan pulang melalui Bangli. Raja Karangasem bermusuhan dengan Dewa Agung Klungkung soal Kerajaan Mengwi, juga banyak perhiasan-perhiasan emas raja lombok yang hilang di Pura Besakih (Mahaudiana, 1968).

20 Juni 1891:
Hancur dan tamatnya Kerajaan Mengwi. Raja Mengwi tewas, setelah pasukan Badung menyerang Sibang, terus menyerang Mengwi dan meguasai Mengwi Selatan termasuk Mengwi Tani. Badung bersama Tabanan didukung Dewa Agung Klungkung mengalahkan Mengwi. Sebagaimana diketahui dalam abad ke 18 Badung masih merupakan bagian dari Kerajaan Mengwi, dan pada abad 19 Badung di bawah Raja I Gusti Ngurah Made Pemecutan melepaskan diri dari Kerajaan Mengwi (Agung, 1989).

Ketika Badung memulai serangan, pada saat yang bersamaan rakyat Sibang menyerang pertahanan Mengwi dari belakang. Badung kemudian melakukan serangan ke daerah pertahanan kedua, seluruh rangkaian desa direbut, yakni Sempidi, Sading, Buduk, Pererenan, Abianbase, dan Kapal. Sawah-sawah jatuh ke tangan musuh termasuk bendungan berharga di Mambal. Tabanan bergerak ke Blayu, dimanan penguasa Puri Blayu bunuh diri, sementara penguasa Puri Kaba-Kaba mengasingkan diri ke Tabanan. Bangli menyerang Puri Carangsari dan Puri Petang, kedua puri ini langsung mengakui Raja Bangli. Agung Kerug dan Agung Pekel menyatakan diri akan bertempur sampai titik darah penghabisan, sementara raja ragu tidak tahu apa yang harus dilakukan. Di lain pihak, Badung dengan penembak jitu dari Bugis telah mencapai desa tepat di selatan Mengwi. Kulkul bulus Puri Gede dibunyikan dan prajurit yang tersisa berkumpul di Puri Gede dipimpin oleh Ida Pedanda Made Bang. Agung Kerug dan Agung Pekel melarikan diri dalam pertempuran, dan kini raja sendirian. Raja Mengwi yang lagi pincang memerintahkan bawahannya untuk ditandu dan segera keluar dari puri, karena akan sangat memalukan apabila raja mati terbunuh di dalam puri. Tepat di selatan Mengwi, bertemu dengan laskar Badung. Para penandunya ditembak, kemudian seorang jaba dari Badung melumpuhkan Raja Mengwi dengan tusukan tombak yang mematikan. Seiring dengan kematiannya, Kerajaan Mengwi – yang pernah jaya itu – pun sirna (Nordholt, 2009).

Th 1892:
Raja Dewa Manggis (VII) wafat di pengasingan di Satria. Dari Banjarangkan Dewa Manggis VII menuju Klungkung untuk menghadap Dewa Agung Klungkung, tetapi setelah sampai di kota Klungkung, rombongan diperintahkan oleh Dewa Agung untuk meneruskan perjalanan ke Timur (ke Satria) kira-kira 2 km dari kota, pengikutnya dibuang di Nusa Penida (Agung, 1989).
Agung Kerug dan Agung Pekel adalah orang pertama yang tiba di Ubud. Mereka bergabung dengan orang-orang Mengwi penting lainnya yang mampu meloloskan diri dari peperangan melawan Badung. salah satunya adalah putera mahkota Agung Gede Agung (Nordholt, 2009).

Agustus 1892:
Dinasti Mengwi yang mengungsi di Ubud berusaha menyusup ke desa Mengwi,  namun mereka dapat disingkarkan tatkala pasuka Badung dan Tabanan datang menyerang (Nordholt, 2009).

Th 1893:
Akibat jangka panjang pembakaran dan pemusnahan yang dilakukan badung dan Tabanan, berjangkitlah epidemi kolera di dekat Kapal, membunuh 2/3 jumlah penduduk (Nordholt, 2009).
Puri Kaleran dan puri Muncan di Kapal diratakan dengan tanah. Penguasa baru kapal adalah pemimpin perang dari Badung I Gusti Alit Raka Debot memilih tinggal di Muncan. Sedangkan, salah satu keluarganya memilih tinggal di Abianbase, sebelah selatan Kapal (Nordholt, 2009).
Puri Carang Sari dan Petang memilih bergabung dengan Ubud dari pada Bangli. Kekuatan Ubud berkembang pesat

19 Januari 1893:
Putra Dewa Manggis VII, Dewa Ngurah Agung disebut juga Dewa Pahang, tiba di Gianyar setelah berhasil meloloskan diri dari pengasingan di Satria (Agung, 1989).
Sekitar 75 orang dikirim untk membebaskan kedua putera mahkota Kerajaan Gianyar. Mereka dipimpin oleh beberapa orang dari Desa taro Tegalalang yang dengan mahrnya enggnakan ilmu sihir, sehingga tiada seorang pun tahu pembebasan tersebut (Mahaudiana, 1968).

21 Januari 1893:
Penobatan Dewa Ngurah Pahang sebagai Raja Gianyar. Penobatan ini diakui oleh Pemerintah Hindia-Belanda di Buleleng denga suratnya yangtertanggal 27 Pebruari 1893, kemudian dikuatkan oleh Akte Van Erkening tertanggal 20 Nopember 1893, selanjutnya diperkuat lagi oleh Pemerintah Hindia-Belanda di Batavia tertanggal 19 Maret 1894 (Mahaudiana, 1968).

Akhir Maret 1893:
Cokorda Suda Punggawa Pejeng memberontak kepada Raja Gianyar. Sikapnya ini membuat Cokorda Gde Sukawati marah besar. Pejeng digempur dari 4 arah. Dari utara pasukan Tegalalang, dari barat pasukan Ubud, dari selatan Pasukan Blahbatuh, dan dari timur pasukan Siangan. Dalam sekejap pejeg menjadi latan api. Cokorda Suda sempat melarikan diri dan minta suaka kepada Raja Bangli (Mahaudiana, 1968).
1 April 1893:
Residen Bali-Lombok mengangkat Kontrolir kelas II JH Liefrinck untuk bertugas mengamati situasi politik di Gianyar dan Bali Selatan (Agung, 1989).


11 April 1893:
Kontrolir Liefrinck tiba di Ujung Karangasem, diterima oleh Raja Karangasem yang pada saat itu diperintah oleh dua Raja, I Gusti Gde Putu dan I Gusti Gde Jelantik. I Gusti Gde Jelantik pada waktu itu ke Seleparang berhubung ada pembrontakkan di sana (Agung, 1989).

16 April 1893:
Putra Dewa Manggis VII, Dewa Ngurah Agung yang meloloskan diri dari pengasingan, membangun kekuasaan dengan menguasai Pejeng (Agung, 1989).

17 April 1893:
Kontrolir Liefrinck tiba di Klungkung dan diterima oleh Dewa Agung, didampingi oleh Putra mahkota Dewa Agung Gde, dan Adipati Klungkung Dewa Agung Rai (Agung, 1989).

21 April 1893:
Liefrinck tiba di Bangli diterima oleh Raja Bangli Dewa Gde Anom (Agung, 1989).

30 April 1893:
Malam hari Kontrolir Liefrinck berkunjung ke Badung, diterima oleh Raja Denpasar, I Gusti Gde Ngurah Denpasar, Raja Pemecutan tidak hadir karena sakit, Raja Kesiman Adipati Kerajaan Badung menjadi juru bicara (Agung, 1989).

30 April 1893:
I Gusti Gde Putu - salah satu dari dua Raja Karangasem – wafat, sehingga mulai saat itu hanya I Gusti Gde Jelantik yang berkuasa di Karangasem mewakili Kerajaan Seleparang (Agung, 1989).

2 Mei 1893:
Kontrolir Liefrinck tiba di Tabanan petang hari. Ia melihat desa2 hancur, akibat peperangan Badung dengan Mengwi. Ratusan hektar sawah kering, rumah2 kosong dibumihanguskan (Agung, 1989).

3 Mei 1893:
Pembicaraan Kontrolir Liefrinck dengan Raja Tabanan, didampingi I Gusti Ngurah Alit Kaleran, anak Adipati Agung yang terbunuh oleh seorang Punggawa I Gusti Ngurah Beng sewaktu bertugas di Badung (Agung Gde: 1989).
Adipati Agung yang terbunuh itu kemudian disebut Ida Betara Keruek ring Badung. Sebagai balasannya warga di Jro Beng Kawan dibunuh atau kena Watu Gumulung (Babad: 1996)..

8 Mei 1893:
Kontrolir Liefrinck tiba di Gianyar, diterima oleh Dewa Ngurah Agung, dihadiri oleh seluruh punggawa dan Manca Kerajaan. Juga hadir I Gusti Gde Agung anak Raja Mengwi yang gugur dalam perang dengan Kerajaan Badung (Agung, 1989).


20 Nopember 1893:
Belanda mengakui Kerajaan Gianyar dengan Raja Dewa Ngurah Agung bergelar Dewa Pahang (Agung, 1989).

Th 1894:
Belanda menyerang Kerajaan Seleparang Lombok. Setelah 2 kali Pasukan Belanda dapat dipukul mundur, akhirnya berhasil menguasai Ibukota Mataram dan Cakranegara. Istana Raja dihancurkan, kekayaan Kerajaan dirampas. Putra Mahkota I Gusti Ngurah Ketut Karangasem dan Jenderal Van Ham tewas. Raja ditangkap diasingkan di Batavia. Beliau wafat di pengasingan Th 1896 (Agung, 1989).

Th 1895:
Pewaris Kerajaan Mengwi I Gusti Gde Agung memberontak kepada Raja Badung, tetapi digagalkan oleh pasukan Badung. Pertempuran di Penarungan, pasukan Badung dipimpin oleh orang yang terkenal Gusti Alit Raka Debot (Agung, 1989).
Karangasem diberlakukan sebagai Gouvernementslandschap (protektorat), dan Raja Karangasem ditetapkan sebagai Stedehoulder mewakili pemerintah kolonial (Nordholt, 2009).

31 Agustus 1895:
Gubernur Jenderal Van der Wijck mengeluarkan maklumat, bahwa keturunan Seleparang tidak berhak atas Kerajaan Seleparang. Belanda membagi 3 Lombok, masing-masing dipimpin oleh seorang Kontrolir. Demikian juga Karangasem dipimpin oleh seorang Kontrolir (Agung, 1989).


10 Juni 1896:
I Gusti Gde Jelantik diangkat Belanda menjadi wakil Pemerintah untuk Karangasem (Agung, 1989).

22 Juni 1896:
Penandatanganan kontrak bahwa Belanda mengakui Dewa Gde Raka sebagai Raja Gianyar, yang ditandatangani oleh Residen Bali-Lombok yang baru FA Liefrinck dengan Dewa Gede Raka (Agung, 1989).

23 Juni 1896:
Raja Gianyar Dewa Ngurah Pahang meninggal secara mendadak. Diperkirakan kecepekan mengurus konsolidasi kerajaan. Dewa Ngurah Pahang tidak sempat diabiseka, sehingga tidak berhak menyandang gelar Dewa Manggis VIII. Adiknya Dewa Gde Raka menggantikan sebagai Raja Gianyar yang kemudian bergelar Dewa Manggis VIII (Mahaudiana, 1968).

18 September 1896:
Upacara pelebon Raja Gianyar ke-8 Dewa Ngurah Pahang. Ngurah pahang tidak berhak menyandang Dewa Manggis VIII karena tidak sempat diabiseka, keburu meninggal (Mahaudiana, 1968).

22 Desember 1896:
Pemerintah Hindia-Belanda melalui suratnya mengakui penobatan Dewa Gde Raka sebagai Raja Gianyar berikutnya dengan gelar Dewa Manggis VIII. Surat ini diperkuat dengan besluit Gubernur Jenderal di Batavia tertanggal 18 Mei 1897. Dewa Manggis VIII digambar sebagai raja yang lemah, selalu ragu-ragu dalam menghadapi permasalahan. (Mahaudiana, 1968).

14 Agustus 1897:
Kerajaan Bangli merebut bekas wilayahnya Tampaksiring, dari kekuasaan Gianyar (Agung, 1989).
Punggawa Tampaksiring membelot dari Kerajaan Gianyar, daerah Tampaksiring diserahkan kepada Raja Bangli atas hasutan Dewa Agung Klungkung (Mahaudiana, 1968).

16 Agustus 1897:
Laskar Klungkung dalam jumlah yang besar menyerang desa Lebih di Pantai Selatan Gianyar. Rakyat Gianyar memberikan perlawanan yang gigih, dan berhasil memukul mundur pasukan Klungkung (Agung, 1989).

Th 1898:
Agung Gede Agung, penerus kerajaan Mengwi bersama pengikutnya sekitar 300 orang membangun Puri di Abiansemal setelah usahanya gagal merebut Puri Gede  Mengwi (Nordholt, 2009).
Sisa-sisa pasukan Mengwi – setelah bersembahyang di Pura Gunung Tinggan – melakukan penyerangan merebut kembali Pura Taman Ayun Pura Taman ayun bukan hanya menjadi simbol negara Mengwi, tetapi inti negara mengwi. Siapa pun yang menguasai pura berarti menguasai keseluruhan kerajaan lagi. Tetapi, pendudukan ini tidak lama bertahan, mereka  melarikan diri setelah pasukan Badung datang (Nordholt, 2009).

April-Mei 1898:
Residen Liefrinck berkunjung ke Klungkung, Bangli, dan Karangasem untuk memberi pertimbangan agar mengekang diri dan menghentikan sikap bermusuhan. Dewa Agung menolak karena Kerajaannya membawahi wilayah Bali dan Lombok. Demikian juga Raja Bangli, telah bersumpah kepada ayahnya tidak akan berdamai selama wilayah Bangli dikuasai Gianyar (Agung, 1989).

Juni 1898:
Pasukan Badung tiba-tiba menyerang Ubud. Akan tetapi dapat dipukul mundur oleh Punggawa Cokorde Gde Sukawati, di Abiansemal. Dalam serangan kedua pasukan Badung berjumlah 1.000 (Seribu) orang juga dipukul mundur oleh Cok Gde Sukawati, di desa Penarungan (Agung, 1989).

12 April 1899:
Bangli menyerang desa Mancawarna dekat Tampaksiring, dapat dipatahkan oleh punggawa Cokorde Gde Sukawati (Agung, 1989).

15 Juni 1899:
Bangli menyerang desa Pejeng, juga dapat dipatahkan oleh Cokorde Gde Sukawati (Agung, 1989).

30 Juni 1899:
Cokorde Gde Sukawati juga mematahkan serangan Pasukan Bangli di desa Sloli (Agung, 1989).

Juli-Agustus 1899:
Residen Liefrinck ke Badung. Raja Kesiman bertindak sebagai juru bicara dalam kedudukannya sebagai Adipati Agung Kerajaan Badung. Ia menjelaskan, bahwa Badung menyerang Gianyar atas perintah Dewa Agung (Agung, 1989).


BALI PADA ABAD XX


Th 1900:
Gusti Made Ringkus salah seorang dinasti Mengwi dari Puri Mayun, yang selamat dalam perang melawan Badung tiba dan tinggal di Blahkiuh. Ia bersumpah untuk merebut kembali Pura Taman Ayun untuk Puri Mayun. Gusti Made Ringkus mendekati Pemerintah Hindia – Belanda untuk minta bantuan (Nordholt, 2009).
Langkah Gusti Made Ringkus ini membuat Dewa Agung Klungkung mengirim utusan ke Puri Anyar Abiansemal untuk meyakinkan kesetiaan Puri Anyar terhadap Dewa Agung. Terjadilah ketegangan antara dua puri yang bersaudara: Puri Mayun di Blahkiuh dan Puri Anyar di Abiansemal. Sehingga dinasti Mengwi terbagi dalam dua kelompok pro Belanda dan pro Klungkung. Terjadi perang antara Puri Mayun dan Puri Anyar, tanaman-tanaman dihancurkan, penjaja barang dari satu kubu dicegat oleh kubu yang lain (Nordholt, 2009).
Gianyar ditetapkan sebagai protektorat kedua setelah Karangasem. Orang yang ditetapkan sebagai wali negara adalah putra raja Gianyar (Nordholt, 2009).

2 Januari 1900:
Kerajaan Bangli kembali menyerang Kerajaan Gianyar dan menduduki 6 desa, yaitu Petak, Mantering, Padpadan, Panyembahan, Melayang, dan Pemaisan. Namun panglima besar Cokorda Gde Sukawati dengan didampingi Punggawa Bitera dan Siangan memimpin pasukan untuk mengusir kembali pendudukan Bangli. Keenam desa itu berhasil direbut kembali. Di pihak Gianyar tercatat 24 orang mati, 26 luka-luka dan 80 rumah hangus dibakar pasukan Bangli (Mahaudiana, 1968).

10 Januari 1900:
Raja Bangli yang kesal atas kekalahannya, menyerang lagi Kerajaan Gianyar, berhasil menduduki desa Semita, Bonnyuh, dan Madangan. Serangan ini pun dapat dipukul balik oleh pasukan Gianyar (Mahaudiana, 1968).

14 Januari 1900:
Untuk ketiga kalinya Raja Gianyar Dewa Gde Raka (bergelar Dewa Pahang) mengirim surat kepada Residen Liefrinck, agar Kerajaannya mendapat perlindungan dari pemerintah Hindia Belanda, dari serangan Kerajaan Klungkung, Bangli dan Badung (Agung, 1989).

26 Januari 1900:
Upacara sumpah perdamaian antara Dewa Agung dengan Raja Gianyar di Pura Kentelgumi dekat desa Banjarangkan (Agung, 1989).

5 Maret 1900:
Resident Liefrinck, disertai Kontrolir urusan Politik & Agraria Schwartz (fasih berbahasa Bali) dan 2 punggawa dari Buleleng berlabuh di Pantai Lebih, Gianyar. Diterima oleh Raja Gianyar. Kedatangannya untuk memberi tanggapan atas permintaan Raja mohon perlindungan kepada Pemerintah Belanda (Agung, 1989).

7 Maret 1900:
Pertemuan antara pihak Belanda dengan Raja Gianyar, yang didampingi oleh para Punggawa dan Manca. Pemerintah Hindia Belanda menyetujui untuk memberi perlindungan kepada Kerajaan Gianyar (Agung, 1989).

8 Maret 1900:
Hari Kamis, dilanjutkan pembicaraan antara Raja Gianyar dengan pihak Pemerintah Hindia Belanda. Dimana Liefrinck memerintah Schwartz untuk membuat konsep naskah Berita Acara (proses verbaal), yang mencantumkan tentang penyerahan Kerajaan Gianyar kepada pemerintah Hindia Belanda. Dengan demikian Dewa Gde Raka menjadi Stedehouder (wakil) pemerintah Hindia Belanda. Malam harinya naskah tersebut ditandatangani (Agung, 1989).

17 Maret 1900:
Surat Raja Gianyar Dewa Gde Raka kepada Dewa Agung Klungkung, yang isinya menolak menyerahkan dokumen kontrak antara Pemerintah Hindia Belanda dengan Kerajaan Gianyar.
Dewa Agung tidak setuju dengan penandatangan tersebut, karena pada tahun 1883 sudah ada kesepakatan antara Raja Gianyar dengan Dewa Agung pada waktu itu, yang menyatakan Gianyar merupakan bagian dari kekuasaan Klungkung. Dan juga telah adanya upacara sumpah di Pura Kentelgumi 26 Januari 1900 (Agung, 1989).

20 Maret 1900:
Surat tanggapan Liefrinck yang memperingatkan Dewa Agung bahwa, terlepas dari kesepakatan tahun 1883 (antara Dewa Agung dengan Dewa Manggis), semenjak di pengasingan di Satria (Klungkung), Putra Mahkota mendapat dukungan dari para Punggawa di Gianyar (Agung, 1989).

24 Maret 1900:
Raja Badung menyatakan pendiriannya tentang penandatangan kontrak antara pemerintah Hindia-Belanda dengan Raja Gianyar. Belanda diminta berhati-hati dan menghormati kontrak-kontrak yang sudah ditandatangani dengan Raja2 di Bali. Demikian juga Kerajaan Tabanan mengirim surat yang isinya senada (Agung, 1989).

28 April 1900:
Kontrolir Schwartz bertolak dari Gianyar. Dia mendampingi Raja Gianyar dalam usaha mengkonsoli dari Kerajaan Gianyar (Agung, 1989).

29 Nopember 1900:
Surat Keputusan Gubernur Jenderal, mengukuhkan Dewa Gde Raka sebagai Wakil atau Stedehouder Pemerintah Hindia Belanda (Agung, 1989).

6 Desember 1900:
Utusan Pemerintah Hindia-Belanda datang dari Buleleng ke Kerajaan Gianyar. Utusan ini mengumumkam kepada seluruh raja-raja di Bali, bahwa Kerajaan Gianyar bernaung di bawah kibaran bendera Belanda. Dewa Manggis VIII (Dewa Gde Raka) diakui sebagai Raja Ganyar hingga wafat pada tahun 1912 (Mahaudiana, 1968).

Th 1901:
Akhir dari jabatan Liefrinck sebagai Residen Bali-Lombok, yang dijabat sejak tahun 1896 (Agung, 1989).

2 Januari 1901:
Pelantikan Dewa Gde Raka sebagai Stedehouder Pemerintah Hindia Belanda dalam suatu upacara, dihadiri semua Punggawa Kerajaan Gianyar.

Th 1902:
Raja Denpasar I Gusti Gede Ngurah Denpasar (Cokorda Agung Ngurah Pemecutan) wafat. Karena puteranya masih kecil, Beliau diganti oleh saudaranya Cokorda Ngurah Made Agung yang dikenal sebagai I Gusti Gede Ngurah Denpasar (Agung, 1989).
Henry van Kol mengunjungi sepanjang desa Mengwi, dia tidak menemukan apa-apa kecuali gndukan puing-puing pada tempat dimana puri pernah berdiri, dan diantara reruntuhan itu telah tumbuh pohon-pohon pisang. Para pendeta dan beberapa saudara dekat raja terakhir dipindahkan ke Badung. Pelebon jenazah Raja Mengwi dilaksanakan di setra Badung (Nordholt, 2009).
Pebruari 1902:
Gusti Made Ringkus mengirim surat kepada Pemerintah Hindia – Belanda. Ia menawarkan daerah yang dikuasai Mengwi kepada Belanda. Pertimbanganya adalah (Nordholt, 2009):
1.      Kerajaan sementara Abiansemal terancam Badung dan Tabanan, sementara kekuatan Ubud tidak bisa lagi diandalkan, maka harus datang bantuan dari luar.
2.      Aneksasi Pemerintah Hindia – Belanda terhadap Bali Selatan hanya masalah waktu saja. Dengan demikian bantuan Klungkung hanyalah ilusi, sehingga lebih baik mengorbankan kesetiaan pada Klungkung.
3.      Tanggapan atas surat akan memperkuat posisi dirinya dalam dinasti mengwi secara signifikan.

Maret 1902:
Residen Belanda mengumumkan bersedia melindungi Mengwi bagian Timur. Pada waktu yang sama celah di dalam dinasti Mengwi muncul dan terbuka. Dewa Agung menentang intervensi Belanda ini. Belanda tetap bersikukuh melindungi Gusti Made Ringkus dari Puri Mayun (Nordholt, 2009).

24 – 26 Maret 1902:
Seorang Controleur Belanda membuat peta batas wilayah Puri Mayun Blahkiuh. Akibanya beratus-ratus keluarga dipindahkan. Penduduk yang berada di ujung Desa Grana dan Desa Tegal Selat dipindahkan, sebab mereka adalah pendukung Puri Anyar Abiansemal, sedangkan desa tersebut termasuk di wilayah kekuasaan Puri Mayun Blahkiuh (Nordholt, 2009).

Th 1903:
Dewa Agung Putra, Raja Klungkung wafat. Beliau memegang tampuk pimpinan semenjak th 1850. Beliau diganti oleh Putra Mahkota Dewa Agung Gde (Agung, 1989) .

6 Maret 1903:
Raja tua Tabanan I Gusti Ngurah Agung wafat (Agung, 1989).

15 Juni 1903:
Dewa Gde Raka Mabiseka Ratu dengan gelar I Dewa Manggis. Ia menyandang gelar Dewa Manggis yang ke-8. Dewa Agung tidak menyetujui penobatan ini. Sedangkan Raja Bangli, Badung dan Tabanan, sudah enggan dengan saran dari Dewa Agung untuk berpetualang bermusuhan dengan Gianyar (Agung, 1989).

25 Oktober 1903:
Pembakaran Jenasah Raja Tabanan. Hampir menimbulkan insiden dengan pihak Belanda. Belanda tidak setujui dengan upacara masatia yang akan dilakukan oleh 2 istri Raja, karena tidak sesuai dengan pri kemanusiaan dan sudah tidak jamannya lagi. Belanda berusaha menghalang halangi, dua kapal perangnya merapat di Pantai Yeh Gangga memamerkan kekuatan, untuk memaksakan kehendaknya. Karena tidak tercantum dalam kontrak perjanjian, upacara tersebut dilaksanakan. Kemudian Belanda memasukkan Upacara Masatia dalam perjanjian itu.
Raja Denpasar, Cokorda Ngurah Made Agung (I Gusti Ngurah Denpasar) menghadiri upacara ini sebagai tanda dukungannya kepada Tabanan (Agung, 1989).

Th 1904:
Pemerintah Hindia Belanda mengangkat JB Van Heutz sebagai Gubernur Jenderal yang baru. Van Heutz bercita-cita agar Pax Nerlandica dapat diwujudkan. Pax Nerlandica maksudnya: disemua daerah kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda harus diakui secara mutlak kekuasaan tertinggi Pemerintah Belanda dengan segala peraturan dan perundang-undangan. Sementara kontrak perjanjian antara Pemerintah Hindia-Belanda dengan Raja2 di Bali Selatan tidak sesuai dengan tujuan Pax Neerlandica (Agung, 1989).
Pembangunan Pura Desa di bagian tenggara persimpangan Puri Abiansemal yang baru dibangun. Ikatan antara desa dan dinasti Mengwi ditegaskan melalui pembangunan empat pelinggih, dua diantaranya untuk mensthanakan Raja Mengwi yang gugur dalam perang melawan Badung dan saudaranya Agung Made Raka pemimpin perang Mengwi. Putera mahkota Agung Gede Agung mengambil alih kepemilikan Abiansemal (Nordholt, 2009).

20 Januari 1904:
Raja Tabanan yang baru dan Residen Eschbach menandatangani surat perjanjian yang menghapus upacara Masatia di Tabanan. Demikian juga dengan Dewa Agung Klungkung 23 September 1904, Raja Badung 22 Oktober 1904 dan Raja Bangli 19 Januari 1905 (Agung, 1989).

25 Mei 1904:
Jumat, Wage, Landep, pagi hari di Sanur sebelah Selatan Kerajaan Badung, sebuah perahu wangkang bernama Sri Kumala karam karena gelombang besar dan sulit diberi pertolongan. Pemiliknya orang Cina seorang kawula Belanda bernama Kwee Tek Tjiang dari Banjarmasin. Perahu berukuran 90.27 register ton mempunyai pas laut Hindia-Belanda tanggal 18 Maret 1904, berlayar di bawah kibaran bendera Belanda.
Beberapa Minggu setelah kejadian itu, pemiliknya melaporkan kepada Residen Eschbach di Singaraja, bahwa uang kepeng senilai f 7.500 atau 3.000 Ringgit dirampas oleh penduduk setempat (Agung, 1989).

16 Juni 1904:
Residen Eschbach mengutus kontrolir Schwartz ke Badung mengadakan pembicaraan dengan Punggawa Sanur untuk mendapatkan keterangan yang lebih lanjut. Schwartz tidak menemui Raja Badung.
Yang sangat aneh dalam laporan pemilik perahu wangkang, uang sejumlah 3.000 Ringgit dirampas penduduk, sedang dia berhasil menyelamatkan barang2 muatannya, seperti minyak tanah dan terasi. Secara logis mestinya peti uang itu yang diselamatkan terlebih dahulu (Agung, 1989).

14 Agustus 1904:
Raja Kesiman I Gusti Gde Ngurah Kesiman dalam usia lebih dari 70 tahun wafat. Diganti oleh anaknya yang tidak mempunyai kepribadian yang kuat dan kewibawaan seperti ayahnya, sehingga kedudukannya hanya sebagai Punggawa belaka.
Dengan demikian pimpinan politik di Badung beralih ke tangan Raja Denpasar, karena Raja Pemecutan sudah lanjut usia dan sakit2an.
Kerajaan Badung sesuai surat wasiat dari pendirinya yang wafat th 1813, diperintah secara kolektif oleh tiga Raja, yaitu Raja Pemecutan, Raja Denpasar, dan Raja Kesiman (Agung, 1989).

18 Agustus 1904:
Berdasarkan hasil penyelidikan Kontrolir Schwartz, Residen Eschbach melaporkan kepada Gubernur Jenderal. Kerajaan Badung melanggar pasal 11 perjanjian 13 Juli 1949, yang menghapus hukum Tawan Karang (Agung, 1989).

23 September 1904:
Penandatangan kontrak pengukuhan dan pengakuan kedaulatan antara pemerintah Hindia Belanda yang diwakili Residen Bali-Lombok J Escbach dengan Dewa Agung Gde Klungkung dengan gelar Ida I Dewa Agung Putra (Agung, 1989).

Nopember 1904:
Dewa Agung Gde Mabiseka Ratu dengan gelar Ida Dewa Agung Putra sebagai Dewa Agung Klungkung (Agung, 1989).

1 Nopember 1904:
Dewa Agung Rai, Adipati Kerajaan Klungkung wafat. Klungkung kehilangan seorang pembesar Kerajaan yang sangat dihormati. Ia diganti oleh saudara Dewa Agung Putra yang bernama Dewa Agung Semarabawa (Agung, 1989)

26 Nopember 1904:
Sekretaris Gubernurmen Paulus mengirim instruksi kepada Residen Bali Lombok atas nama Gubernur Jenderal Van Heutz, bahwa pembayaran ganti rugi dibebankan kepada Raja Badung (Agung, 1989).

19 Desember 1904:
Residen Eschbach ke Badung berunding dengan Raja Denpasar, I Gusti Gde Ngurah Denpasar, dalam suatu pertemuan yang dihadiri punggawa2 dan pembesar2 Kerajaan. Raja I Gusti Gde Kesiman dengan tegas menolak ganti rugi, karena telah memerintahkan menjaga perahu karam itu. Selain itu 2.800 penduduk desa Sanur telah bersumpah bahwa mereka tidak melakukan perampasan (Agung, 1989).

23 Desember 1904:
Residen Eschbach meninggalkan Badung dan menyampaikan sepucuk surat kepada Raja Badung yang berisi ultimatum, selambat-lambatnya tanggal 5 Januari 1905 Raja Badung harus sudah melunasi ganti rugi sebesar f 7.500 atau 3.000 Ringgit. Jika tidak dipenuhi maka pihak Belanda akan memblokade perdagangan Kerajaan Badung (Agung, 1989).

25 Desember 1904:
Residen Eschbach melaporkan hasil pertemuannya dengan Raja Badung melalui kawat, dengan permintaan agar segera dikirim kapal perang dan pengangkut ke perairan Badung. Gubernur Jenderal Van Heutz setuju (Agung, 1989).

6 Januari 1905:
Di perairan Badung muncul 2 kapal pengangkut “Zwaluw” dan “Spits” milik Angkatan Laut Belanda bersama Kontrolir Schwartz dengan tujuan memblokade perdagangan dan melarang penangkapan ikan (Agung, 1989).

14 Januari 1905:
Residen Eschbach mengadakan kunjungan dengan kapal “Reiger” di perairan Badung untuk memeriksa pelaksanaan blokade itu. Kesempatan ini digunakan untuk mendekati Raja Karangasem, Dewa Agung Klungkung, Bangli dan Tabanan, untuk minta bantuan blokade terhadap Badung. Kecuali Tabanan semua Raja2 di Bali menyetujui (Agung, 1989).

10 Januari 1905:
Raja I Gusti Gde Ngurah Denpasar minta agar Belanda menghentikan blokade, karena pihaknya tidak dapat disalahkan dalam peristiwa itu. Ia menganjurkan pemilik perahu itu mengajukan masalahnya ke Majelis Kerta. Raja berjanji akan patuh terhadap keputusan Majelis Kerta.
Beberapa pemuka masyarakat di Badung juga sudah menyampaikan kepada Raja, mereka sanggup mengumpulkan uang sejumlah f 7.500 sebagai ganti rugi agar terpelihara perdamaian. Raja tegas menolak. Rombongan pedagang Cina dan Bugis yang bermukim di Kuta dan di Pulau Serangan juga mengajukan permohonan yang sama (Agung, 1989).

17 Februari 1905:
Ribuan rakyat Badung bersenjata tombak berkumpul di ibukota Denpasar, diberi penjelasan untuk waspada dalam krisis Badung-Belanda ini. Pada hari ini juga diadakan pemberkatan senjata2, dengan pengertian kalau dipakai akan memenangkan perang (Agung, 1989).




Maret 1905:
Gunung Batur di Kintamani, wilayah kekuasaan Kerajaan Bangli meletus. Rakyat percaya sebagai pertanda buruk, datangnya malapetaka di Bali (Agung, 1989).

7 April 1905:
Gubernur Jenderal Van Heutz menunjuk Liefrinck sebagai komisaris Pemerintah Hindia Belanda untuk ke Badung berunding dengan Residen Eschbach dan Raja Badung (Agung, 1989).

15 April 1905:
Liefrinck tiba di Bali, merapat di Buleleng bertemu dengan Residen membahas krisis perahu Sri Komala (Agung, 1989).

21 April 1905:
Komisaris Liefrinck bersama Reside Eschbach, Kontrolir Schwartz, beberapa Pedanda, dan anggota Majelis Kerta di Singaraja berangkat ke Bali Selatan dengan kapal “Kwartel”.
Namun Liefrinck terlebih dulu ke Tabanan bertemu dengan Raja untuk mengetahui sikap Raja Tabanan (Agung, 1989).

2 Mei 1905:
Rombongan Liefrinck tiba di Buleleng dan mengirim kawat kepada Gubernur Jenderal di Batavia. Dalam laporannya dikatakan, bahwa pendekatan dengan Raja Badung tidak membawa hasil, mohon blokade dilanjutkan (Agung, 1989).

14 sd 19 Mei 1905:
Raja I Gusti Gde Ngurah Denpasar mengadakan kunjungan ke Tabanan untuk minta bantuan dalam menghadapi krisis perahu wangkang Sri Komala.
Di Pemerajan Agung Puri Tabanan dilakukan upacara sumpah kedua Raja untuk senantiasa saling membantu satu sama lain (Agung, 1989).

23 sd 30 Juni 1905:
Kunjungan balasan Raja Tabanan ke Puri Denpasar untuk membahas krisis perahu Sri Komala, yang menghasilkan kesepakatan tidak membayar ganti rugi (Agung, 1989).

27 Juni 1905:
Sembahyang bersama antara Raja Badung dengan Raja Tabanan di Pura Sakenan, diikuti ribuan rakyat untuk membuktikan solidaritas antara mereka (Agung, 1989).



28 Juni 1905:
Upacara sumpah di Pura Taman Ayun, dimana Raja Denpasar, Tabanan, dan Raja Pemecutan yang sudah tua dan sakit2an untuk acara penting ini menyempatkan hadir. Mereka bersumpah bersatu padu menghadapi aksi militer Belanda (Agung, 1989).

5 Juli 1905:
Surat Raja Tabanan kepada Residen Eschbach, isinya menolak memblokade Kerajaan Badung (Agung, 1989).

Akhir Th 1905:
Sebagian tanah tebing di Pura Uluwatu rubuh dan jatuh ke Laut. Pura ini sangat keramat dan menjadi tempat pemujaan Raja2. Rakyat yang pada waktu itu sangat percaya bahwa kejadian di Uluwatu merupakan pertanda buruk bagi Kerajaan Badung.
Pada waktu itu juga rakyat melihat bintang berekor besar sekali dan bercahaya di langit, sebagai pertanda buruk datangnya malapetaka (Agung, 1989).

Akhir Desember 1905:
Residen Eschbach meninggalkan Bali karena pensiun. Dia diganti oleh Bruyn Kops, yang masih asing dengan Bali, sehingga menyulitkan baginya untuk menjalankan tugas (Agung, 1989).

20 Januari 1906:
Dewan Hindia dalam rapatnya menyarankan kepada Gubernur Jenderal, bahwa untuk memblokade Badung tidak cukup hanya dengan tenaga Polisi, juga harus dengan pasukan militer karena akan menghadapi dua Kerajaan, Badung dan Tabanan. Pemerintah Hindia-Belanda memikirkan hal itu karena di Bone,  Sulawesi terjadi pemberontakan terhadap Belanda (Agung, 1989).

April 1906:
Dalam rangka persiapan aksi militer, di kantor Keresidenan di Singaraja telah ditugaskan seorang perwira staf umum Angkatan Darat, Kapten Van Woudenberg. Dia diberi tugas membuat peta wilayah Kerajaan Badung, dan mencari informasi kekuatan yang dapat dikumpulkan oleh Raja Badung dan Tabanan (Agung, 1989).

7 Juni 1906:
Untuk pertama kalinya perundingan antara Gubernur Jenderal Van Heutz dengan Panglima Angkatan Darat Mayor Jenderal Van der Wijck untuk mengadakan persiapan Ekspedisi Militer sebagai alternatif terakhir menyelesaikan krisis perahu Sri Komala (Agung, 1989).

17 Juli 1906:
Ultimatum dari pihak Belanda kepada Raja Badung. Perkembangan politik di Badung ini sangat memprihatinkan seluruh Bali dan diamati oleh semua Raja2 dan tokoh2 di Bali (Agung, 1989).

22 Juli 1906:
Surat Gubernur Jenderal Van Heutz dari Batavia kepada Raja Badung dan Tabanan, isinya memberi peringatan akan konsekuensi2 sebagai akibat pembangkangan Raja2 tersebut (Agung, 1989).

4 September 1906:
Surat Keputusan (Resolusi) Gubernur Jenderal Van Heutz untuk mengadakan tindakan militer terhadap Kerajaan Badung dan Tabanan, dengan mengirim ekspedisi militer, terdiri dari Angkatan Darat, dan Laut guna menghentikan pembangkangan kedua Raja tersebut. Mayor Jenderal Van Tonningen diangkat sebagai pimpinan Ekspedisi Militer ini (Agung, 1989).

10 September 1906:
Kapal-kapal perang dari armada invasi Belanda berangkat dari Tanjung Priok menuju perairan Sanur (Agung, 1989).

12 September 1906:
Semua kapal perang dan pengangkut sudah tiba di perairaan Sanur dan menduduki tempatnya masing masing. Komisaris Liefrinck beserta Residen Bruyn Kops, asisten Residen Schwartz – yang dinaikkan pangkatnya sebagai asisten Residen karena jasanya menangani krisis Sri Kumala – tiba di perairan Sanur. Mereka mengadakan pertemuan dihadiri oleh Panglima dengan Staf Umum dan Komandan Armada pk 16.30 di kapal “Koningin Wilhelmina der Nederlanden”.
Pk. 17.00 sebuah delegasi diturunkan dari kapal untuk menyampaikan surat kepada Raja Badung dan Tabanan, isinya agar ultimatum selambat-lambatnya dijawab oleh Raja Badung 24 jam dan Raja Tabanan 48 jam (Agung, 1989).

13 September 1906:
Surat Raja Badung menolak ultimatum Belanda (Agung, 1989).

14 September 1906:
Pk 7.00 pendaratan pasukan ekspedisi militer Belanda akibat penolakan ultimatum oleh Raja Badung dan Tabanan.
Belanda merencanakan 3 alternatif sasaran penyerangan ke kota Denpasar:
1.      Dari arah Timur melalui desa Tanjung Bungkak dan Kelandis:
Dianggap berbahaya, karena melewati rumah-rumah penduduk yang pekarangannya dikelilingi tembok2.
2.      Dari arah Selatan melalui Panjer dan Sesetan:
Dianggap tidak memberi perlindungan kepada pasukan Belanda karena melewati persawahan.
3.      Dari arah Utara melalui Puri Kesiman dan desa Sumerta
Berarti langsung berhadapan dengan rakyat Kesiman.
Dari ketiga alternatif di atas, Belanda memilih menyerang dari Utara.
Sangat disayangkan pasukan Badung tidak menyerang Belanda sebelum mereka dapat menyiapkan dan mendaratkan meriam-meriamnya (Agung, 1989).

15 September 1906:
Ribuan pasukan Badung dari Kuta dan Denpasar menyerang bivak pasukan Belanda di Pabean Sanur. Pertempuran terjadi sd pk 12.00, dikedua belah pihak jatuh banyak korban. Pasukan Badung 33 tewas, 12 luka2, di desa Renon 6 tewas karena tembakan dari kapal2 Belanda (Agung, 1989).

16 September 1906:
Penembakan2 dari kapal perang yang berada di perairan Sanur terhadap Puri Denpasar dan Pemecutan. Gerak tipu Jenderal Tonningen mengadakan patroli di Denpasar Selatan, di Panjer dan Sesetan berhasil, karena meriam2 pasukan Badung ditempatkan di sana, sementara Belanda menyerang dari arah Utara, Kesiman.
Panglima Jenderal Van Tonningen menerima surat Raja Tabanan, yang menolak ultimatum (Agung, 1989).

17 dan 18 September 1906:
Tidak ada operasi lagi oleh pasukan Belanda, akan tetapi penembakan2 melalui kapal2 yang merapat di Pabean Sanur diteruskan, dengan sasaran Puri Denpasar dan Pemecutan (Agung, 1989).

18 September 1906:
Asisten Residen Schwartz mendapat informasi dari mata-mata, bahwa Punggawa Kesiman yang masih muda I Gusti Gde Ngurah Kesiman tewas. Sesuai perintah Raja Denpasar, Punggawa Kesiman ini memerintahkan rakyatnya untuk melawan Belanda. Ada golongan yang tidak mau dengan perintah ini, sehingga hartanya disita oleh Punggawa Kesiman. Golongan ini menghadap Punggawa di Puri Kesiman, dalam pertemuan itu seorang lanngsung menikam I Gusti Gde Ngurah Kesiman (Agung, 1989).

19 September 1906:
Mendengar tewasnya Punggawa Kesiman, Jenderal Van Tonningen menggerakkan pasukannya menyerang Puri Denpasar dan Puri Pemecutan melalui Kesiman dan Desa Sumerta. Pasukan Badung menyerang dari kebun-kebun kelapa di Tukad Ayung, dengan menggunakan meriam-meriam kuno yang disebut “Lilla”. Pasukan Belanda berhasil menduduki Puri Kesiman yang ternyata telah dikosongkan (Agung, 1989).
Raja Denpasar memerintahkan suatu upacara pembakaran jenasah Cokorda Alit Ngurah Pemecutan (ayah dari I Gusti Alit Ngurah), yang meninggal pada tahun 1902. Pada pembakaran ini, sebagai tantangan kepada Pemerintah Hindia-Belanda dilakukan upacara masatya oleh seorang wanita Brahmana bernama Ida Ayu Supi. Cokorda Ngurah Made Agung mengambil abu pembakaran jenasah dan menaruh di destarnya dengan maksud agar leluhurnya merestui langkahnya melakukan puputan esok hari (Pitana, 1994).

20 September 1906:
Pk 7.00 pasukan Belanda bergerak dari Kesiman menuju Denpasar. Setelah tiba di desa Sumerta, ditembaki oleh pasukan Badung. Sementara kapal-kapal perang Belanda di Pabean Sanur terus menembaki dengan meriam2 dengan frekuensi yang lebih hebat.Sebelum pergi ke medan perang rakyat Badung diperciki air suci kematian Tirta Pangentas, sehingga bila mereka gugur jiwanya masuk Sorga (Agung, 1989).
Pk 11.00 pada ruas jalan Denpasar – Tanguntiti terlihat rombongan warga Badung bergerak ke arah Timut. Pasukan artileri menembaki, akan tetapi rombongan terus maju. Banyak wanita dan anak-anak tewas. Maka dimulailah puputan Badung.
Raja Denpasar bersama rakyatnya berpakaian lengkap dan indah bergerak dari halaman Puri dengan Raja di depan. Setelah sampai di persimpangan dekat Puri Belaluan, Raja dan rakyat pengiringnya meneruskan perjalanan sampai pada tikungan jalan dekat Jero Tainsiat. Disini mereka dihadang pasukan Belanda. Kapten Schutstal memerintahkan agar rombongan berhenti, tapi tidak dihiraukan bahkan rombongan terus maju, sehingga sampai jarak 100 meter, pasukan Belanda menembaki menyebabkan banyak yang tewas (Agung, 1989).
Raja pertama kali gugur. Wanita2 melemparkan uang emas kepada pasukan Belanda sebagai upah atas kematiannya yang diinginkan oleh Belanda. Ada juga yang bunuh diri menikam dadanya. Ada juga yang berdiri menunjuk jantungnya sendiri menantang pasukan Belanda agar segera menembaki. Inilah puputan Badung di Tainsiat (Agung, 1989).
Kemudian pasukan Belanda bergerak menuju Puri Denpasar. Terlihat Puri terbakar oleh tembakan2 meriam kalapa2 di Sanur. Panglima Van Tonningen memerintahkan memeriksa seluruh isi Puri. Ditemukan jenasah saudara perempuan Raja Denpasar. Nampaknya bunuh diri setelah mendengar Raja tewas di Tainsiat. Jenasah berpakaian sangat indah (Agung, 1989).
Pk 15.00 Panglima memerintahkan pasukan Belanda bergerak ke Puri Pemecutan. Setibanya di Puri Suci pasukan Belanda membelok ke Barat menuju Puri Pemecutan. Puri terbakar, asap mengepul ke atas (Agung, 1989).
Pk 17.30 pasukan Belanda berada sekitar 400 meter dari Puri Pemecutan. Rakyat Bali dengan sikap menantang minta agar ditembak, nampak mereka haus kematian. Setelah persenjataan rakyat Bali dapat dibungkam, Raja beserta pengikutnya keluar dari Istana, dan melakukan bunuh diri masal. Kaulanya bunuh diri di atas mayat Raja dan menumpukinya sebagai perlambang membela dan melindungi Raja (Agung, 1989).

Para petani di Blahkiuh dan Abiansemal menuda panen karena mereka takut oleh gntur pemboman di Badung. tidak lama setelah Badung jatuh Puei Aynyar Abiansemal dan Puri Sibang – yang sebelumnya pro Klungkung – telah menyerah kepada Belanda (Nordholt, 2009).

Segera setelah Badung jatuh, Puri Mayun – di Blahkiuh – mengambil alih Pura Taman Ayun, ini berarti sumpah Gusti Made Ringkus yang diucapkan di Blakiuh terpenuhi (Nordholt, 2009).

22 September 1906:
Komisaris Liefrinck mengirim telegram kepada Menteri Jajahan Belanda, untuk memberitahu Denpasar sudah dikuasai. Puri2 di Badung sudah dikuasai dan kedua Raja tewas dalam suatu puputan, beserta punggawa2 mereka, wanita2 dan anak2 yang berjumlah sekitar 400 orang. Jumlah ini jelas lebih kecil dari jumlah sebenarnya.
Politikus Belanda dalam bukunya mengatakan, seorang Pedanda di Denpasar memberitahunya, bahwa di Denpasar saja 800 mayat telah ditemukan. Memang se-kurang2nya 2.000 rakyat Bali tewas dalam puputan Badung (Agung, 1989).

27 September 1906:
Pk. 07.00 pasukan ekspedisi Belanda bergerak ke Tabanan sampai di desa Beringkit, Panglima Tonningen memutuskan pasukannya beristirahat satu malam, sebelum menerus operasi ke Tabanan. Panglima mendengar berita Raja Tabanan, I Gusti Ngurah Agung, disertai Putra Mahkota, I Gusti Ngurah Anom, dan pembesar2 kerajaan seperti Adipati, Punggawa2, dan Pedanda2 ingin berjumpa Panglima (Agung, 1989).

28 September 1906:
Pk 08.00 Raja Tabanan I Gusti Ngurah Agung tiba di Beringkit dari desa Abiantuwung, mengadakan pertemuan dengan Panglima Van Tonningen yang didampingi Kepala Staf pasukan ekspedisi dan Asisten Residen Schwartz di halaman Pura Kahyangan Beringkit. Raja Tabanan menyatakan maksudnya agar diperlakukan seperti Kerajaan Gianyar dan Karangasem, sebagai Stedehouder Pemerintah Hindia-Belanda. Van Tonningen tidak menanggapi karena masalah politik di luar kapasitasnya sebagai Panglima, dan menyarankan agar Raja menyerah tanpa syarat dulu, kemudian akan dibawa ke Puri Denpasar untuk menghadap Komisaris Liefrinck. Raja minta waktu 2 hari untuk mengatur urusan keluarga, tapi ditolak oleh Van Tonningen (Agung, 1989).
Pk 09.30 Raja beserta Putra Mahkota dan beberapa Punggawa berangkat ke Puri Denpasar disertai Asisten Residen Schwartz dikawal oleh satu peleton pasukan Belanda. Adipati Agung diberitahu agar memberi perintah kepada rakyat untuk menyerahkan senjata api (Agung, 1989).
Kommisaris Liefrinck menerima kedatangan Raja, menolak memberi satus Tabanan seperti Kerajaan Gianyar dan Karangasem. Komisaris memerintahkan besok Raja dan Putra Mahkota diasingkan ke Majora Lombok tempat Raja Seleparang dulu. Sementara Raja dan Putra Mahkota ditempatkan dulu di salah satu bagian di Puri Denpasar (Agung, 1989).

29 September 1906:
Saat pasukan Belanda akan menjemput Raja Tabanan dan Putra Mahkota di Puri Denpasar untuk di antar ke Sanur, didapatkan keduanya sudah tidak bernyawa lagi. Raja memotong urat nadinya dengan pisau kecil pengutik dan Putra Mahkota minum racun (Agung, 1989).
Di Tabanan Asisten Residen Schwartz mengadakan pertemuan dengan para punggawa Tabanan di Puri Tabanan, Schwartz memberitakan Raja dan Putra Mahkota sudah wafat (Agung, 1989).
Keluarga terpenting Raja Badung dan Tabanan yang masih hidup diasingkan ke Lombok dengan kapal laut bernama “Zeeland” (Agung, 1989).
Jenazah Raja Tabanan dan Putera Mahkota dibakar/diaben disetra Badung, abunya dihanyutkan di Segara Kuta.

30 September 1906:
Komisaris Liefrinck tiba di Tabanan berunding dengan Panglima Van Tonningen, membahas pengurangan kekuasaan Dewa Agung Klungkung dan Bangli sesuai dengan cita-cita Pax Nederlandica (Agung, 1989).
.
12 dan 13 Oktober 1906:
Pasukan ekspedisi bergerak Utara, melalui desa Kabetan sampai di perbatasan Bangli dan Gianyar, terus ke Timur di desa Sidan untuk memeriksa kubu2 di pertahanan Guliang (Agung, 1989).

13 Oktober 1906:
Nampaknya akibat gerakan militer ini, utusan Raja bangli tiba untuk menemui Komisaris Liefrinck, mengatakan Raja Bangli Dewa Gde Tangkeban menerima semua tuntutan Belanda tetapi tidak hadir ke Gianyar karena sakit. Utusan dipimpin Putra Mahkota. Belanda meminta penasehat Kerajaan Bangli Dewa Putu Kandel dan Ida Made Daud (Agung, 1989).

14 Oktober 1906:
Penasehat Kerajaan bangli Dewa Putu Kandel dan Ida Made Daud beserta keluarga diberangkatkan ke Denpasar dan diasingkan ke Banyuwangi (Agung, 1989).
Komisaris Liefrinck menolak alasan kedua Raja tidak hadir ke Gianyar. Diartikan oleh komisaris sebagai tanda belum bersedia menyerah. Komisaris mengeluarkan ultimatum, kedua Raja harus datang, jika tidak akan dilakukan operasi militer. Kedua Raja memenuhi datang ke Gianyar (Agung, 1989).

17 Oktober 1906:
Dewa Agung dan pengiringnya meninggalkan Klungkung lewat pantai dan tiba di Pantai Lebih siang hari pk 13.00, diterima di bivak pasukan ekspedisi militer Belanda.
Pk 14.00 Raja Bangli Dewa Gde Tangkeban dikawal pasukan bertombak tiba di Gianyar dari arah Timur. Sehingga kota Gianyar penuh berjejal manusia.
Pembicaraan diadakan di kediaman sementara Komisaris Liefrinck dan Panglima Tonningen, keduanya berpakaian kebesaran, dikelilingi oleh Residen Bruyn Kops dan Asistennya Schwartz. Dewa Agung dan Dewa Gde Tangkeban menandatangani kontrak perjanjian ini (Agung, 1989).



18 Oktober 1906:
Pasukan ekspedisi Belanda bergerak dari Gianyar menuju Bangli melalui desa Gitgit, Bunutin, Belalang dan tiba di kota Bangli, dipimpin langsung oleh Panglima Tonningen (Agung, 1989).

22 Oktober 1906:
Belanda menerima penyerahan senjata api oleh semua Kerajaan di Gianyar. Komisaris Liefrinck berkunjung ke Karangasem bertemu dengan Stedehouder I Gusti Ngurah Jelantik, sekaligus menerima penyerahan semua jenis senjata api (Agung, 1989).

24 Oktober 1906:
Pasukan ekspedisi Belanda bergerak dari Bangli ke Klungkung melalui desa Pateluan, Banjarangkan, Takmung. Setiba di sana disambut oleh Cokorde Gde Raka dengan segala upacara kehormatan (Agung, 1989).

28 Oktober 1906:
Setelah berhasil menaklukkan Bali pasukan ekspedisi Belanda mulai meninggalkan Bali diberangkan dari Pabean Sanur (Agung, 1989).

30 Oktober 1906:
Pk 10.00 Panglima Van Tonningen naik ke salah salah satu kapal di Pabean Sanur meninggalkan Bali menuju ke Batavia. Dia mengucapkan terima kasih kepada semua anggota pasukan ekspedisi yang menyelsaikan tugasnya dengan baik (Agung, 1989).

Th 1907:
Gusti Agung kerug diangkat sebagai kepala distrik di Sedang. Namun tidak beberapa lama menjabat ia dipecat, karena suatu keberatan dilayangkan kepadanya. Agung Kerug memeras penduduk untuk memperbaiki purinya. Pemerintah Hindia – Belanda menilai tindakan itu tidak terpuji bagi seorang pejabat pemerintah (Nordholt, 2009).

27 Februari 1907:
Dewa Agung dan pembesar Kerajaan bersumpah di sebuah Pura di Klungkung, setia pada kontrak perjanjian dengan Pemerintah Hindia – Belanda (Agung, 1989).

2 Maret 1907:
Raja Bangli Dewa Gde Tangkeban dan pembesar Kerajaan juga bersumpah di salah satu Pura di Bangli untuk setia dan taat terhadap kontrak yang telah ditandatangani (Agung, 1989).

31 Agustus 1907:
Hari lahir Ratu Wilhelmina dirayakan di daerah kolonial baru di Badung untuk pertamakalinya. Pada kesempatan ini penguasa lokal yang paling penting di daerah Mengwi ditetapkan sebagai pejabat pemerintah distrik (Nordholt, 2009).

1 April 1908:
Pengumuman Pemerintah Hindia-Belanda, bahwa perdagangan candu akan dimonopoli oleh Belanda. Belanda membuka 120 buah kantor penjualan candu di seluruh Bali diketuai oleh seorang petugas2
Kebijaksanaan Belanda ini ditentang oleh rakyat dan Raja2 di Bali (Agung, 1989).

16 April 1908:
Di Gelgel terjadi peristiwa penyerangan kantor penjualan candu oleh rakyat di bawah pimpinan bekas Punggawa Cokorde Gelgel, seorang petugas tewas.
Di ibukota Klungkung orang2 Belanda diusir oleh rakyat dan kantornya ditutup (Agung, 1989).



17 April 1908:
Sorenya pembalasan pasukan Belanda di Gelgel menimbulkan banyak korban antara penduduk dan pasukan Belanda. Puri Cokorde Gelgel dapat diduduki, menewaskan 100 penduduk. Cokorde Gelgel lari ke Klungkung menghadap Dewa Agung. Dewa Agung tidak dapat berbuat banyak, menerima desakan pamannya itu. Sehingga mulai saat itu di Puri Klungkung dibuat kubu2 pertahanan (Agung, 1989).

19 April 1908:
Residen Bali-Lombok Bruyn Kops dan Gubernur Jenderal Van Heutz mengirim kawat kepada Menteri Jajahan melaporkan terjadinya pemberontakkan di Klungkung (Agung, 1989).

28 April 1908:
Pagi2 pasukan bantuan Belanda yang segera didatangkan mendekati Klungkung. Kapal2 perang melakukan penembakan ke arah Kota Klungkung dari Pantai Kusambe, menimbulkan kerusakan dan kepanikan rakyat. Dewa Agung dengan tombak ditangan kanan dengan pengikutnya 200 orang maju, ditembak dengan meriam dan senapan. Dewa Agung gugur. Inilah yang disebut Puputan Klungkung. Sebelum ditembak, dalam jarak 200 meter dari meriam2 Belanda, atas nasehat pamannya Cokorde Gelgel, Dewa Agung menancapkan keris pusakanya ke tanah dengan kepercayaan agar muncul suatu lubang besar yang akan menelan korban dari musuh2nya (Agung, 1989).
Peluru meriam mengenai lutut Dewa Agung, akan tetapi dengan gagah perkasa ia bangun hingga rubuh tertembak mati. Kepala Dewa Agung hancur, otaknya berceceran (Agung, 1989).
Tempat kediaman Dewa Agung bernama Inem Semarapura dirobohkan. Dewa Agung Putera yang gugur dalam puputan ini merupakan generasi penerus terakhir yang berkuasa dengan menyandang gelar Susuhunan Bali-Lombok (Agung, 1989).

Sementara Puri Klungkung diruntuhkan, di tempat lain Gusti Made ringkus sedang mendirikan sebuah pelinggih di pekarangan Pura Taman Ayun untuk memperingati kembalinya Mengwi. pelinggih tersebut sebagai simbol ambisi garis keturunan Puri Mayun untuk memperoleh kembali kekuasaan atas Badung, sekalipun berada di bawah Pemerintah Kolonial Hindia – Belanda (Nordholt, 2009).

2 Oktober 1908:
Mengingat kejadian di Badung dan di Klungkung, Raja Bangli Dewa Gde Tangkeban mengajukan permohonan kepada Residen Bali-Lombok Bruyn Kops agar Kerajaan nya diubah statusnya, seperti Kerajaan Gianyar dan Karangasem (Agung, 1989).

28 Januari 1909:
Permohonan Raja Bangli Dewa Gde Tangkeban dikabulkan, Kerajaan Bangli diubah statusnya menjadi kerajaan yang langsung dipimpin oleh Pemerintah Hindia-Belanda.
Dengan demikian seluruh Bali langsung di bawah kekuasaan Pemerintah Hindia-Belanda (Agung, 1989).
Jadi Kerajaan Karangasem, Bangli dan Gianyar dipimpin oleh seorang Raja, sedangkan di Buleleng, Jemberana, Tabanan, Badung dan Klungkung dipimpin oleh Kontrolir dengan Punggawa-pungawanya bumiputera (Agung, 1989).

Th 1910:
Kekuasaan dinastik Puri Mayun dan ambisi punggawa diwujudkan dalam sebuah pusat pemerintahan baru di desa Blahkiuh yang diciptakan oleh I Gusti Putu Mayun. Inti dari pusat pemerintahan ini berupa persimpangan jalan yang baru dibangun. Di timur laut persimpangan punggawa tersebut membangun purinya, seperti di Abiansemal. Diseberang puri tersebut, terdapat tanah yang diberikan kepada keluarga pengikut penting dalam jajaran Gusti Putu Mayun. Keluarga ini adalah Brahmana Manuaba yang diberikan hak membangun sebuah geriya di bagian barat daya persimpangan (Nordholt, 2009).

Th 1911:
Seorang politikus independen, anggota Parlemen Belanda Van Kol mengunjungi Bali. Dia mengakui Gubernur Jenderal tidak jujur dengan diri sendiri, sengketa perahu Sri Kumala terlalu di cari-cari, sebagai alasan melakukan ekspedisi militer (Agung, 1989).
I Gusti Agung Gede Agung putera mahkota Abiansemal diberhentikan sebagai punggawa oleh Pemerintah Hindia – Belanda. Agung Gede Agung diberhentikan karena tidak mematuhi kerangka kerja pemerintah kolonial (Nordholt, 2009).

9 September 1911:
Henry van Kol menghentikan perjalanan di pantai Goa Lawah setelah melewati bukit berpasir hitam Koesambe. Ia menyaksikan sebuah goa gelap yang berisi kelelawar yang bergelantungan menghempaskan sayapnya. Sepasang ular berwarna hijau muda berkepala ratu muncul sekali-sekali dari sarangnya yang misterius (Vickers, 2012).

Th 1912:
Raja Bangli Dewa Gde Tangkeban wafat. Belanda tidak mengangkat Raja baru. Anaknya Dewa Gde Tangkeban hanya diangkat sebagai Regent setingkat Bupati (Agung, 1989).

23 Mei 1912:
Raja Gianyar Dewa Gde Raka yang bergelar Dewa Manggis VIII mengajukan permohonan pengunduran diri kepada Pemerintah Hindia-Belanda dari jabatannya sebagai Stedehouder (Agung, 1989).


11 Januari 1913:
Surat Gubernur Jenderal Van Heutz memberhentikan Dewa Manggis VIII dengan hormat. Anaknya Dewa Ngurah Agung yang menggantikan ayahnya diangkat sebagai Regent atau Bupati (Agung, 1989).

Th 1915:
Gusti Made Ringkus mencapai hasil yang maksimal, keturunannya telah menguasai sebagian besar bekas Kerajaan Mengwi termasuk pusat kerajaan yang lama. Keturunan Puri Mayun telah sepakat untuk mendukung Pemerintah Hindia – Belanda (Nordholt, 2009).

Th 1917:
Kerajaan Gianyar dan Bangli kehilangan status sebagai protektorat dan secara formal digabung ke dalam Pemerintahan Hindia – Belanda. Keputusan ini membuat Kerajaan Gianyar dan Bangli sangat terpukul (Nordholt, 2009).

21 Januari 1917:
Bali selatan diguncang oleh gempa bumi yang hebat. Walaupun berlangsung kuran dari 50 detik tertapi cukup menumbulkan kehancuran. Lebih dari 1.350 orang meninggal. Harga beras di Badung naik 400% (Nordholt, 2009).
Akibat gempa tersebut, menurut statisitik resmi tida kurang dari 2.431 pura yang hancur. Daerah gempa yang terbesar adalah daerah di sekitar Danau Batur (Goris, 2012).

4 Pebruari 1917:
Bali kembali diguncang gempa yang kurang dahsyatnya dari gempa 21 Januari 1917. Gempa terjadi pada pk. 5.05 sore selama 20 detik, serta disusul gempa-gempa berikutnya. Puri Gianyar hancur lebur, Puri Bangli rusak berat (Goris, 2012).

2 Mei 1917:
Sebuah telegram Pemerintah Hindia-Belanda memberikan angka 1.358 orang meninggal atau hilang dan 1.060 orang luka di Bali selatan (termasuk daerah sekitar danau Batur) dan 14 orang meninggal, 11 orang luka-luka di Bali utara. Kerusakan material termasuk rusaknya 64.000 tempat tinggal dan 10.000 gudang padi (Goris, 2012).

Th 1918:
Gusti Made Ringkus wafat. Wilayah Mengwi merasakan dampak perubahan yang menjadi bagian rejim kolonial. Pengganti yang ditunjuk tidak sesuai harapan. Rejim kolonial mengangkat Ketut Sandi, seorang jaba dari Buleleng yang tidak dikenal (Nordholt, 2009).
Wabah influenza melanda seluruh Bali, diperkirakan 22.300 orang meninggal karena ‘flu spanyol’ ini. Keadaan pada waktu itu dipenuhi rasa takut dan keputuasasaan; kematian menghantui pekarangan dan tidak mau berakhir (Nordholt, 2009).

Th 1919:
Pucak dari semua musibah. Bali selatan diserang oleh hama tikus yang mengakibatkan panen kembali gagal (Nordholt, 2009).

Th 1920:
I Gusti Agung Gede Agung putera mahkota Abiansemal wafat. Sebagai putera raja ia ‘mengganggur’ tidak mendapat jabatan, dengan sedih hati manyaksikan kehancuran purinya. Puteranya I Gusti Ketut Agung pindah dari Puri Abiansemal ke Puri Mengwi dengan membawa sejumlah keris pusaka dan kulkul. Gusti Ketut Agung adalah seorang penari berbakat dan dia mendirikan kelompok penari dan pemusik yang mengingatkan kepada kesenian kerajaan yang lama (Nordholt, 2009).

Th 1921:
Punggawa jaba Ketut Sandi dipindahkan. Dinasti Mengwi tidak mampu menunjukkan calon pengganti. Belanda menempatkan I Ketut Widjanegara dari Buleleng sebagai pengganti. Seperti pendahulunya, Widjanegara tidak mampu mengatasi situasi di Mengwi. ada dua faktor penyebabnya (Nordholt, 2009):
1.      Dukungan Belanda telah menyusut dengan cepat, karena merancang tokoh-tokoh bangsawan seluruh Bali.
2.      Dia berhadapan dengan perlawanan kuat yang dipimpin oleh Gusti Ketut Agung, putera mahlota Kerajaan Mengwi

Th 1927:
Berkat perlawanan putera mahkota Kerajaan Mengwi, punggawa I Ketut Widjanegara diturunkan dari jabatannya. Ia tidak bisa mempertahankan wilayahnya dan karena kurang mampu menjadi juru tulis. Penggantinya adalah Gusti Rai Kepakisan adik dari gusti putu Mayun (Nordholt, 2009).

Th 1928:
Gusti Putu Mayun penguasa Puri Mayun Blahkiuh mendirikan Pura Giri Kusuma, di seberang puri, sebelah barat daya perempatan. Persembahyangan kepada Dang Hyang Nirartha memiliki aspek yang luar biasa. Sebuah pelinggih didirikan pada pura itu adalah pesimpangan Pura batu Ngaus, sebuah pura pesisir pantai yang berfungsi untuk mencegah gagal panen (Nordholt, 2009).

2 Juni 1928:
Gedong Kirtya Singaraja didirikan. Awalnya bernama Stichting Liefrinck Van der Tuuk, untuk menghormati Liefrinck dan Vander Tuuk yang memelopori penelitian Budaya (Bali Post, 2005).

Th 1929:
Di Bali berkuasa Residen Bali-Lombok baru bernama J Caron. Dialah yang membagi Bali menjadi 8 resort/daerah, yaitu Buleleng, Jemberana, Tabanan, Badung, Gianyar, Klungkung, Bangli dan Karangasem (Agung, 1989).

Awal tahun 1930:
Pemugaran Pura Taman Ayun dimulai dibawah kepemimpinan punggawa Mengwi Gusti Rai Kepakisan. Sejak jatuhnya Mengwi, pura-pura peninggalan Mengwi ditelantarkan dan menjadi reruntuhan (Nordholt, 2009).

15 Juni 1931:
Seorang Kontrolir Belanda mengeritik keputusan Residen Caron, yang tidak memasukkan Mengwi sebagai salah satu Resort/Daerah, padahal Mengwi adalah bekas kerajaan besar (Agung, 1989).

Th 1932:
Argumentasi yang disampaikan Goris mempengaruhi keputusan Gubernur Jenderal untuk melarang misionaris Kristiani yang hanya akan merusak budaya Bali (Nordholt, 2009).

12 Pebruari 1934:
Upacara kremasi di Puri Jro Kuta. Upacara diadakan setelah 28 tahun terjadi bunuh diri massal tahun 1906, saat itu mayat dibakar dengan buru-buru dan nyaris tanpa upacara. Akhirnya para keturunannya mampu menyelenggarakan upacara kremasi besar sesuai dengan peringkatnya. Berhak menggunakan Naga Banda (naga besar) dengan keputusan khusus dari Dewa Agung Klungkung. Seluruh kota bangkit, lebih dari 30 naga banda, dengan lebih dari seratus jenazah (Covarrubias, 2014).

11 April 1935:
Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Jhr Mr BC de Jonge melakukan kunjungan ke Puri Gianyar. Dalam memoarnya Jonge mengkritik keras Raja Gianyar dengan kata-kata yang tidak simpatik: “Raja Ngurah Agung tidak menunjukkan penampilan yang menarik. Dia seorang yang kasar dan gemuk, yang tidak mengesankan kepercayaan (apabila) dilihat dari gerak geriknya”(Manafe, 2007).

Oktober 1936:
Gusti Putu Mayun dari Puri Mayun Blahkiuh dan Gusti Ketut Agung dari Puri Gede Mengwi saling bersaing, sama mengajukan diri untuk menjadi pemimpin pemerintahan Mengwi yang otonom. Sementara itu, Gusti Ketut Agung menyadari dirinya tidak masuk hitungan sebagai calon, karena tidak mengenyam pendidikan barat dan suka sabung ayam (Nordholt, 2009).

13 Desember 1937:
Gusti Gede Raka pewaris Puri Lambing, adik sepupu dari Gusti Putu Mayun memuat permohonan pada harian berbahasa Jawa Darmokondo, yang menggugah restorasi Mengwi. ini adalah upaya pihak Puri Mayun untuk memenangkan persaingan dengan Puri Gede (Nordholt, 2009).

7 April 1938:
Tak disangka, Gusti Ketut Agung meninggal. Lawannya, Puri Mayun segera mempergunakan kesempatan tersebut dengan mengambil langkah akhir dan penting (Nordholt, 2009).

Juni 1938:
Gusti Gede Raka membuat petisi yang disampaikan kepada Gubernur Jenderal, Volksraad, parlemen Belanda, dan Ratu Wilhelmina. Inti petisi ini menuntut keberadaan Mengwi sebagai negara yang independen secara sah, berdasarkan terminologi dan arugumentasi yang diambil dari Binnenlandsch Bestuur (BB). Petisi ini mendapat tanda-tangan sebanyak 40 orang. Pihak Puri Gede menolak menandatangani petisi tersebut. Penolakan ini memicu perpecahan terbuka dengan Puri Mayun. Dengan kemarahan yang luar biasa Gusti Gede Raka mendeklarasikan sumpah bahwa keturunannya tidak akan lagi mengakui Puri Gede sebagai puri melainkan tidak lebih sebagai tempat orang jaba. Namun demikian, Gusti Gede Raka tidak dapat menyembunyikan fakta bahwa Puri Mayun dikucilkan secara perlahan-lahan (Nordholt, 2009).

29 Juni 1938:
Pada Hari Raya Galungan dilangsungkan Upacara Sumpah Jabatan kepada kedelapan Kepala Pemerintahan Swapraja secara khidmat di Pura Besakih. Pura yang dianggap keramat oleh seluruh umat di Bali (Agung, 1989).
Dinasti Mengwi tidak hadir dalam upacara pengukuhan tersebut. Mengwi tidak diizinkan berdiri sendiri. Sebagaimana dari sudut Belanda, tidak ada yang harus direstorasi, karena negara Mengwi sudah jatuh sebelum kedatangan Belanda. Alasan itu tercatat pada tahun 1928 daan masih berlaku. Para pemimpin Puri Mayun melanjutkan usaha-usahanya untuk mengubah pendirian pemerintah kolonial sampai bersurat kepada Ratu Wilhelmina (Nordholt, 2009).
Ke-8 raja mengucapkan sumpah jabatan sebagai Selfbestuurders disaksikan para pamong Belanda di Bali, pegawai sipil dan militer, serta direktur pemerintahan Dalam Negeri (Binnenlands Bestuur) Dr. W. Hoven. Selesai upacara sumpah, semua tamu mampir bersantap siang di Puri Agung Gianyar (Manafe, 2007).

1 Juli 1938:
Bali dibagi menjadi 8 Distrik (sejajar dengan keberadaan kerajaan-kerajaan sebelumnya), yaitu: Buleleng, Jemberana, Tabanan, Badung, Gianyar, Bangli, Klungkung dan Karangasem (Agung, 1989).

Agustus 1939:
Upacara pelebon Gusti Ketut Agung. Suatu upacara besar yang pernah dilaksanakan jauh berbeda dengan upacara yang ada di Blahkiuh. Upacara ini mendapat sambutan yang meriah dari  masyarakat Mengwi. Gusti Ngurah Ketut Sangka dari Puri Gede Kurambitan datang menghadiri upacara tersebut, dan masih ingat jelas. Wadah – yang berupa meru tmpang solas – yang  membawa jenazah Gusti Ketut Agung ke tempat pengabenan dipersembahkan oleh penduduk Mengwi. Puri ubud menyumbang lembu, Puri Sibang memberikan Nagabanda. Ini berarti puri-puri lain tidak melupakan Puri Gede sebagai pusat kerajaan. Rakyat Mengwi menunjukkan kesetiaany dengan mesatya rambut (menggunduli rambutnya). Penghormatan ini sangat jarang terjadi, suatu rasa hormat yang hanya ditunjukkan pada penguasa yang benar-benar memiliki nama besar. Gusti Ketut Agung setelah ndewata bergelar Bhatara ring Thirta. Peristiwa pengabenan ini benar-benar menjatuhkan harga diri keturunan Puri Mayun di Blahkiuh (Nordholt, 2009).

3 Mei 1940:
Ratu Belanda Wilhelmina memutuskan menolak menandatangani permohonan Mengwi menjadi negara otonom. Sebuah peraturan baru, bahwa lemari arsip keresidenan tetap terkunci sejak saat itu. Pejabat Bali yang ingin tahu harus dijauhkan. Puri Gede menjadi pemenang dalam perseteruan ini. Sementara Puri mayun mengalami kemunduran yang definitif (Nordholt, 2009).

19 Februari 1942:
Tentara Nippon mendarat di Bali, tanpa perlawanan dari pasukan Belanda, berhasil menduduki Bali. Sehingga susunan pemerintahan Swapraja tidak berlaku lagi. Bali kemudian menjadi lingkungan kekuasaan Angkatan Laut Nippon (Agung, 1989)

Th 1950:
Cokorda Gede Oka, Putera Gusti Ketut Agung dari Puri gede mengwi berhenti menjadi punggawa setelah Belanda angkat kaki. Ia menjadi penanggung jawab Pura Taman Ayun. Cokorda menggangur seperti ayahnya walaupun sudah mencoba usaha kecil-kecilan. Namun ia tetap menikmati ketenaran, karena kenangan dinasti lama masih jelas melekat di Mengwi (Nordholt, 2009).

16 Februari 1963:
Gunung Agung Meletus. Saat letusan terjadi beberapa bongkahan batu kecil  jatuh di Besakih yang letaknya 6 Km sebelah Barat daya dari lokasi kejadian. Hujan abu diberitakan terjadi di desa Rendang dan di desa Selat di Selatan gunung. Aliran lava sepanjang 7 Km mulai terjadi dan turun ke sungai Daya dan sungai Barak. Letusan juga diikuti oleh hujan lahar yang menghancurkan jalan-jalan utama di desa Kubu dan desa Tianyar.

17 Maret 1963:
Letusan berlanjut dengan frekuensi yang meningkat. Bongkahan batu yang bercahaya di kegelapan berdiameter sekitar 5 – 8 Cm disembur ke berbagai arah sejauh 6 Km dari kawah gunung. Keluaran berupa pasir dan abu yang menyelimuti gunung Agung tebalnya 10 – 40 Cm. Keluaran tersebut sebagain besar didistribusikan ke arah Barat, karena angin berhembus dari Timur dan Tenggara.

16 Mei 1963:
Meletus lagi selama 4 jam. Bebatuan membara berdiameter 10 – 15 Cm disemburkan ke berbagai arah dari kawah gunung sejauh 6 Km. Ketebalan abu menutupi gunung Agung mencapai tebal 1 Meter.
Akibat letusan gunung Agung, sedikitnya 1.148 orang tewas, 296 luka-luka, dengan rincian: 820 orang tewas karena terkena aliran lava, 163 orang tewas terkena semburan bebatuan, dan 165 orang tewas akibat lahar. Juga merusak ratusan hektar lahan pertanian dan hutan (Kusumadinata, 1979).

Th 1965-1966:
Mayoritas keluarga puri-puri di Mengwi memihak PNI, sehingga sedikit korban yang terjadi akibat pembantaian. Kecuali, Puri Abiansemal pemimpinnya penganut aktif PKI. Pada saat pembantaian terjadi ia menghilang dan purinya dibakar menjadi abu (Nordholt, 2009).







DAFTAR PUSTAKA

Agung, Ide Anak Agung Gede. 1989. Bali Pada Abad XIX – Perjuangan Rakyat dan raja-Raja Menentang Kolonialisme Belanda 1808 – 1908. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Covarrubias, Miguel. 2014. Pulau Bali – Temuan Yang Menakjubkan. Denpasar: Udayana University Press.
Creese, Helen. 2012. Perempuan Dalam Dunia Kekawin – Perkawinan dan Seksualitas di Istana Indic Jawa dan Bali. Denpasar: Pustaka Larasan.
Goris, R. 2012. Sifat Religius Masyarakat Pedesaan di Bali. Alih Bahasa: Sunaryono Basuki KS. Denpasar: Udayana Uiversity Press.
Mahaudiana. 1968. Babad Manggis Gianyar. Gianyar: Thaman.
Manafe, Aco. 2007. DR Ide Anak Agung Gde Agung – Keunggulan Diplomasinya Membela Republik. Jakarta: Lopo Indah.
Nordholt, H.S. 2009. The Spell Of Power – sejarah Politik Bali 1650 – 1940. Penerjemah: Ida Bagus Putradnyana. Edisi II. Denpasar: Pustaka Larasan.
Samsubur. 2011. Sejarah Kerajaan Blambangan. Surabaya: Paramita:
Sastrodiwiryo, S. 2007. Perang Banjar (1868). Cetakan pertama. Denpasar: Pustaka Bali Post.
Sastrodiwiryo, S. 2011. I Gusti Anglurah Panji Sakti – Raja Buleleng 1599 – 1680. Denpasar: Pustaka Bali Post.
Vickers, Adrian. 2012. Bali Tempo Doeloe. Penerjemah: Tim Komunitas Bambu. Cetakan Pertama. Jakarta: Komunitas Bambu.

2 komentar:

  1. catatan luar biasa,.....salam
    www.hotelpuriayu.com www.pondokpuriayu.com

    BalasHapus
  2. Betul sekali, catatan luar biasa, sekaligus benar-benar bikin miris. Peristiwa perangnya kerab sekali.
    ns276@ums.ac.id

    BalasHapus